Kumpulan Puisi

Januari 16, 2013 at 8:23 pm 2 komentar

PRABAHASA

Alhamdulillahirrobbila’lamiin, Fuji dan syukur kita serahkan kepada Sang Hyang Maha Hidup, yang berkehendak mencipta Dewa dan Dewi juga pencipta para Tuhan yang beranak pinak, dan tiada lagi Tuhan yang Maha Perkasa dan Agung yang wajib disembah oleh segenap makhluk baik yang bernyawa atau pun yang tidak bernyawa serta menjadi tujuan akhir, sebab dari-Nyalah kita ada dan bakal kembali kepada-Nya, tiada lain hanyalah Allah Subhanahu Wata’la

Shalawat sekalian salam s’moga tetap terlimpah curah kepada seorang manusia pilihan, pembawa risalah terang yang mampu membawa kita sekalian dari zaman gelap ke zaman terang, panglima tertinggi komando perang, politikus paling nomor wahid sedunia, serta seorang dermawan yang sangat rendah diri juga sederhana, pemilik akhlaq termulia, yang menjadi penutup semua Nabi, yakni baginda Rosululloh Muhammad Sholallohu Alaihi Wassalam, kepada keluarganya, para shabatnya, serta para ummatnya yang akan mendapat syafaatnya kepada yang senantiasa turut menjalankan ajarannya setia hingga hari akhir nanti dan s’moga kita s’mua termasuk di dalamnya, amiin yaa Alloh yaa robbal’alamiin….

MULAILAH MEMBERI

Bila tak seorangpun tak berbelas kasih pada kesulitan anda, atau tak ada yang mau merayakan keberhasilan anda,

Atau tak seorangpun bersedia mendengarkan, memandang, memperhatikan, apapun pada diri anda, jangan masukan ke dalam hati

Manusia selalu disibukan oleh urusannya sendiri

Anda tak perlu memasukan itu ke dalam hati

Karena hanya akan menyesatkan dan membebani langkah anda

Ringankan hidup anda dengan memberi pada orang lain

Semakin banyak anda memberi semakin mudah anda memikul hidup ini

Berdirilah di depan jendela, pandanglah keluar, tanyakan pada diri sendiri, apa yang bisa anda berikan pada dunia ini ?

Pasti ada alasan kuat mengapa anda hadir disini

Bukan untuk merengek atau meminta dunia menyanjung anda

Keberadaan anda bukan untuk kesia-siaan

Bahkan se ekor cacingpun dihidupkan untuk menggemburkan tanah,

Dan sebongkah batu dipadatkan untuk menahan gunung

Alangkah hebatnya anda dengan segala kekuatan yang tak dimiliki siapapun untuk mengubah dunia

Itu hanya terwujud bila anda mau memberikannya

=SAAT=

Mei 2004

Keterpaksaan..

Itulah yang terjadi saat ini

Terbelenggu …..

Itulah persaan saat ini

Mengapa ?

Hanya diam kebisuan disekitar

Beribu tanya tak terucap

Melingkar kepala berguruh akan kepastian

Hela nafas berat dan sesak

Badan remuk hati tergores

Haruskah berteriak memanggil,

Tuhan kau dimana ?…

Sedang aku terpuruk akan kenikmatan duniawi

Jalan hitam ditempuh bersama

Bayangan setan kematian

Angan melayang tinggi jauh di awan

Badan diam menahan kenikmatan

Tetesan dosa mengalir perlahan

Menggoreskan catatan hitam

Bermuara pada penyesalan

Saat ini dan itu

Masihkah tuhan milikku ?……

Hal;

-harapan dan ratapan para pendosa-

-Diambil saat terjadi-

– kisah nyata sang penulis yang merupaka pengalaman yang benar-benar terjadi-

– untuk jadi cermin buat pengarang-

– hanya mengingatkan pada dirinya sendiri-

-Tuhan tidak membutuhkan manusia-

-……..-…….-………-…….-……-……-

-HAMPA JIWA-

Kala badai menerpa jiwa, tetaplah kau tegar berdiri

Kala cinta kian memudar,

Pastikan cintamu takan hilang

Cinta itu indah

Bagi mereka yang dapat meraihnya

Jangan kau kejar cinta

Bila hatimu sedang gundah

Cinta takan menghampiri ketulusan hati

Untuk menyejukan jiwa

Dan mengisi kehampaan hati untuk

Jiwa yang kosong….

100105

Jam. 03.13.00 ( RIiNA )

Sang pujangga

SADARKAH

Diantara dua kekasihku dan diantara dua cintaku

Yang terbagi dengan cintamu

Sadarkah aku tak mungkin dua cinta

Sadarkah aku tak mungkin dua kekasihku

Yang harus jadi pendampingku

Harus ku pilih satu, harus kulepaskan dirimu

Maafkan aku melukaimu

Tak jadi pendampingku

Karena yang terbaik untukku

Dan itu terbaik untukmu

Maafkan aku melukaimu

Tak bisa bersamamu

Refro :2005

BAYANGKAN

Bayangkan….

Bila ku tak lagi didekatmu

Bila ku tak lagi dihatimu, aku akan pergi jauh

Dan bila esok hari kan jadi kelabu

Hari-hari yang telah kita lalui akan menjadi debu

Hatimu menangis, hatimu terluka

Maafkan aku bila harus pergi dan tak pernah kembali

Hanya sebuah waktu yang pasti menunggu

Suatu saat nanti kita kan bertemu kembali

Refro: 2006

JIWA

Aku adalah jiwa yang tertekan

Tertekan kehidupan dengan kebutuhan

Kepala berair dan badan berair

Terkumpul membentuk nafas kehidupan

Hidup yang takan berujung di suatu jalan

Jalan pernafasan dari sebuah cerita

Aku adalah tekanan kehidupan

Merayap dan tersendat

Menyelip diantara kesombongan

Menggoreskan kepedihan jiwa terlunta

Demi penguasa dan keangkuhan

Dunia tak mau dipenuhi tekanan

Bumi pun enggan jadi tempat berpijaknya

Para angkara yang berpesta

Hidup tertawa beralas derita sesama

Aku adalah jiwa yang bebas

Kan ku langklahkan raga menuju kemenangan

Dimana aku kan jalani dengan kepuasan sampai dunia tahu

Akulah jiwa kebebasan !

x-mast, dec

“===KEMBALI====”

Kembali ku ingat dirimu,

Dirimu yang t’lah lama membeku

Lama ku tunggu akhir dari pengharapan

Berharap kau seperti apa yang aku inginkan

Sewindu sudah aku bermimpi

Bermimpi dalam kenyataan yang sebenarnya hanya harapan

Ingin aku merajut tali kasih bersamamu

Bercanda, tertawa, bercinta layaknya sejoli …… ( terlalu gombal)

Sewindu ku berjalan dalam kehampaan

Ketidakpastian akan masa depan tak perduli

Tak perduli ….. tak perduli…. Tak perduli….

Sekali lagi tak perduli, itu ucapmu…

Tengah malam, 230405

“…CUKUP…”

Ku tak mau mengingatmu lagi, ku tak mau bertemu lagi,

cukup lama aku hidup dalam bayanganmu itu, yang telah menghancurkan perasaan ini

Ku tak mau berharap lagi hatimu untuku, sebab itu hanya sebuah kesalahan besar

Kau tercipta sebagai tanda keagungan Tuhan, yang patut ku nikmati bukan kumiliki

Maafkan aku agak melupakanmu, maafkan aku tak perduli segala auramu

Peluk cium itu hanya biasa dan terbiasa, sampai lupa dimana arti kata cinta

Ku ingin memilikimu untuk yang terakhir, apalah kata berlainan makna

Ku kan coba melangkah perlahan menjauh dari lingkaran cintamu

Agar tak ku cium lagi wangi rambutmu yang sempat membuat aku gila

Cukuplah sayang,…. cukup sampai disini

Kau lebih baik pergi dan tak kembali

Jaga dirimu dan cintailah cintamu, sayangilah sayangmu, rindumu juga hidupmu

Kita harus berpisah tapi bukan terpisah, dan kita yakinkan ini jalan terbaik

Utara, selatan, timur, barat itu arahmu, dan ku kan berjalan berlawanan

Selamat jalan dan selamat tinggal, bawalah segala rasa yang kau punya

Jangan tinggalkan titik kenangan disini

Hati do’a kita ucapkan bersama, bahagia kau dan aku selamanya

For someone :

yang t’lah memberikan seribu pragmen cinta

Kuyakinkan dirimu bukan untukmu

1999

”……………MULAI……………”

Mulailah …….

Aku mulai mencatat apa yang dirasakan dan apa yang difikir…

Melayang terbang jauh sekali,

Tak terjangkau fakta nurani

Langkah di tempuh tanpa arah

Akankah matahari berhenti

Memperlihatkan kesilauan tubuhnya

Demi nafsu angkara !

Mulailah………

Aku mulai merasakan ..dimana sesuatunya sangat ratiotic

Jala hidup pangjang terawang namun sulit tuk di tempuh dengan santai

Inikah hidup sang pujangga?

Aku adalah pujangga kehidupan yang terbang dalam kebodohan

Yang tertidur dalam kesombongan

Yang bernafas dengan kebokbrokan

Mulailah……..

Ku in gat arti kehidupan ini

semua tak berarti

Hidup bukan sekedar hidup, itulah yag di catat

Ketidakpuasan bukanlah hidup, itulah yang dirasakan,

Apa yang kalian catat dan rasaakan ?

161104

LARUT

Larut sudah anganku juga bayangmu

Larutlah segala apa yang ada

Dari daun pintu ku lihat lagi dirimu

Dirimu yang selama ini tak ku pahami

Satu dekade larut dalam ambang tak tentu

Kucoba tuk cari kata-kata yang dulu itu

Kata biasa tapi sungguh luar biasa

Dimana kaulah shimponiy ritme ini

Mengalun hingga membuat orang melayang

Dari dulu kau telah tau iramanya

Mengapa hilang begitu cepat ?

Andai waktu bisa kembali, takkan ku titipkan rindu ini padamu

Yang kau bawa dan kau simpan untuk kau buang

Kini kau tepat dihadap ku, dan air matamu yang bercerita semua

Ku coba ngerti apa yang terjadi

Gelap, resah, dan kecewa yang ada sesak tak tertahan lagi

Kau tidak jauh dengan gumpalan awan hitam

Yang bergulung lalu memudar dihempas angin dan aku terhenyak dalam kebisuan

Larut…….larut sudah anganku

Larut….. dalam penyesalan, sementara

Aku masih mencoba cari sebuah kata yag telah lama hilang

Dec 2004

SADAR

Ada setitik kebanggan terlintas kala petualang sadar dari ceritanya

pantaskan dia berangan

Jauh terlau jauh berangan, tapi aku adalah sang petualang, ya itulah aku !

Samar kulihat bentuk suatu kehidupan antara pilihan yang tak pernah ku pilih

Aku hanya berangan keajaiban datang yang segalanya takkan kunjung

“monyet jadi raja”, itu cerita lalu dan aku masih mengingatnya

biarlah dia tetap bertualang

Dec2004

LAGI – LAGI

Lagi-lagi tentang kau,…

mata berkaca penuh kerinduan

Lagu ini telah lama kau matikan sesaat setelah kau beranjak ke kota itu

Seolah elegy yang membuatku terlelap lagi

Lagi-lagi kau,…

Asap mengepul dari arah yang berlawanan ketika kau ikuti arah perginya bayangmu

Mengepul bergulung dan sirna dan itulah wujud sebuah khayalan

Lagi-lagi kau,…

Ku usap peluh di kening dan mencoba tuk berpaling dari segalnya

Karena hidup bukanlah mimpi dan tanganku takkan berhenti disini sampai lagu itu t’lah ku dapatkan dan tenang pun disana kau dan aku bersandar

dan lagi-lagi tentang kau,.. Akankah ?

Novenber awal 20 -abdoel-

PUNCAK KEBUN TEH

Deru beruang masai, kuduk beruang masai, langit gelap diatas perkebunan teh

Malam hanya hitam sewarna rambutnya

Bintang-bintang serta energy alam berpindah dari kaki dan tubuh Halimah yang telanjang semerbak ragawinya adalah aroma daun teh muda dan butir-butir embun

Aku menghujam pada bumi yang penuh gelora

Di jalan ibu kota diprotokol-protokol arteri-arteri dipagar ibu kota di gedung-gedung beton-beton karpet-karpet dan ruang-ruang kantor bagai seribu ifrit yang menghisapi sum-sum

Adakah yang lebih menyakitkan dari penghilangan suatu kesempatan

Halimah namanya ……….

Ia tinggal di batas desa, kulit tanganya halus dan lembut,” tak biasa kerja kasar”, katanya

Ah,,suaranya gemerisik daun bambu

Klakson-klakson kendaraan dan lampu merah -lampu merah yang mati membuat ruwet jalanan begitulah derai lengking tawaku menatap matahari yang membuat bayangku rebah di trotoar

Adakah yang lebih memilukan dari pemberitahuan jiwa dan harapan?

Sembilan belas tahun umur Halimah ( aku suka angka Sembilan )

Sekarang ia sudah tak sekolah seumur hidupnya ia ingin sekali ke kota

Bekerja dan menjadi terkenal seperti artis-artis sinetron

Mengapa tidak ? Katanya……………….

“Deasy Ratnasari berasal dari desa”,

Hangat tubuhnya merasuki jiwaku membawa keheningan yang nyata

Ia tersedak pada ciuman pertama

Di de-pe-er ada demonstrasi lagi !, kata penjual Koran

Di semanggi dan Gatot Subroto mahasiswa dan rakyat di tembaki dan disepak-sepak aparat

Ada yang mati lagi !, kata penjual Koran dan yang luka – luka banyak sekali di rumah sakit Jakarta

Taksi-taksi hancur dan kendaraan umum tak beroperasi mau pulang atau ikut demontrasi ?, Kata penjual Koran

kalau ikut biar bareng saya siapa tahu dapat rejeki !

Rambut Halimah legam lebat hutan Kalimantan

Keharuman kembang cempaka menjadi miliknya

Matanya jatuh di pundakku ketika telapakku menyentuh dadanya

“Aku punya kebun teh diatas bukit “, katanya…….

Beberapa sudah harum baunya

Halimah… ohh Halimah… ,

Aku menghujam pada bumi yang sedang bergelora

Gedung-gedung ini aspal-aspal ini menderaku bagai apartheid

Mengikisku dari khayalan sosial bagai kolera

Ahhh,,masa apa iniii….?

Yang menggiring hukum manusia menjadi hukum rimba

Membuat tanaman teduh menjadi kaktus-kaktus, membuat kelahiran sekaligus kematian

Membuat berjuta orang onani, membuat isi gelas menjadi air kencing

Sungai-sungai lembah-lembah mencari jejak-jejak kehidupan

Aku melihat tubuhku dipenuhi gubuk-gubuk kardus kali-kali hitam teriak lapar bocah-bocah berkepala besar

Ohh,, suaranya gemirisik daun bambu, melingkar lingkar mengepuh setiap pori

Ia membawaku pada padang-padang ilalang subur tempat terbaru menariku lepas dari bumi

Mengempasku pada kulminasi syaraf

Oh Tuhan ….. Kau dimana ?

Aku menghujam pada bumi yang penuh gelora

Diatasku , langit sunyi …… retak

November 2000

23.00

KEMBANG BATU

Kembang diatas bukit, tumbuh semampai dijaga angin sewarna senja

Ia makin mekar terpisah beberapa bukit

Adalah pupuk bagi akarnya

Di kemarau ia buat sajak-sajak

Musim hujan terserang rindu

Waktu kian waktu tercatat sempurna

Pada daun dan batangnya

Kembang tidur bulan tidur

Matahari sampai saat nanti tersemat di keutuhan jiwa

01.30 Nov 2000

KABUT PANGRANGO

Kabut pangrango sepenuhnya hinggap dimataku

Dingin pangrango sepenuhnya bebat tubuhku

Misting-misting aku rasa masih berserakan

Kopi yang aku rebus tadi jadi es

Ah, …. masih lama dari fajar

Aku rindu kekasihku !!

PERISTIWA

Mei, Malam Rabu 00.40 2004

Tiada guna kukatakan, Saat malam menjelang, Kau ibarat bayangan hitam, Rintik hujan turun masih berasa, Basah merebah berlumur amarah

Saat itu ….

tunas kasih tumbuh berkembang, Seketika berubah jadi keraguan

Ragu akan kehadiran harimu, Pada asa dan isi nurani

Aku kembali bertanya pada malam, Mengapa ini harus kulalui, Kasih manis berganti kealfaan

Aku ragu akan dirimu !

Ada segumpal penyesalan, Aku telah mengusik tanaman itu

Bunga segar kupetik hampir layu, Meninggalkan jejak

Sementara aku terbaring lemah, Saat mataku jatuh didadanya, Hanya desahan yang kudengar

Kembali berulang …Lalu sirna lenyap

Seulas senyum puas kala kuberusaha sadarkan diri, Sesal itu tak hilang

Malah membayang , Hanya keraguan kudapatkan

TEJA DISUDUT MATA

Sebatang rokok sebutir aspirin

Segelas teh manis dan sejuta nyut-nyutan di kepala

Aku tergolek di limbah hidup, Terserang demam Dan influenza, Menggigil dan linu pinu

Aku harap ada hujan datang , Biar aliri rambut, alis, dan bulu-bulu mataku

Biar samarkan air mata, Dari kehampaan kini

Aku ingin wukuf, aku ingin sa’i

Berdengung-dengung memanggil cahaya

Sepertinya telah lama, Aku berkirim surat ke Sidratul Muntaha

Mohon pinjaman hari esok, tapi belum dapat jawaban

PESISIR

Jam 20.00

Lidah buih mencium pasir pada peluk laut, Akan tanah dibatas perkampungan

Nelayan pergi dan pulang bersama anak mereka

Yang jelang dewasa coba katakan

“Inilah laut nafas kehidupan yang juga dihembuskan perempuan pesisir lewat sepanjang waktu dari fajar hingga fajar, Dari ranjang hingga gelak pasar”

kibarlah kibar layar, Hembuslah hembus angin

Bawa perahu nelayan ke tengah senyap

Dengan gelora jala dan pancing

Dari degup jantung laut dan degup hidup kaum pesisir

PESTA

Usai pesta tak lagi hingar bingar

Tinggal gelas piring mangkok, nampan sendok, garpu, dan makanan sisa, minuman sisa terserak-serak dilantai dan meja

tak ada bak sampah, Hanya botol kosong membuat pusing senyap dan sunyi

harummu masih bekas melekat, Pada langkah pertama birama dansa

Berapa langkah lalu kau pergi tergesa

Di lingkup bola manusia jadi tirai bingkai terakhir, Perspektif jauh dari jangkau

Aku tiba-tiba lelah dan kulai, Terbujur merindukanmu, Dalam gelap sergap lingkup vodka …

Jalan sepi hampir pagi

Aku tenggelamkan wajah pada embun, Mencerna setiap pori kejadian pesta

Yang membuat jatuh cinta

Ada tiga hal yang membuatku bahagia

Hal pertama ; Siang hari di padang stepa yang cerah

Karena letihku aku sandarkan tubuh, Pada pokok pohon yang rindang

Saat itu ada seekkor elang melintas di cakrawala biru..

Hal kedua ; Sore hari dekat senja di padang pasir yang kemerahan

Karena lelahku aku tautkan tubuh pada diam bongkah batu, Saat itu seekor ular melintas di rangkum matahari

Hal ketiga ; Ini hal yang paling membahagiakan sekaligus menentramkan

Yaitu saat kau berada dekat denganku…

Jan’ 05

AKU PELUK KAU KARENA KERAGUAN

Sore hari diatas loteng rumah kayu

Aku menatap jalanan lurus yang menghilang dibalik bangunan

Cahaya matahari lewat daun dan dahan, Membentuk garis-garis

Lalu menempel di tanah aspal, Berbaur dengan serak kembang flamboyant

Melingkar menyebar menggumpal mengkrucut, Lalu terlempar ke angkasa menjadi kau

Yang menyerap mata dan seluruh syaraf

” aku sedang rindu,”

Lama kita tak saling jumpa, Jarak di depan pun tak kurang jauhnya

Tapi berartikah ?

Di setiap belukar dan jalanan aspal, selalu kucari bara yang pernah terhidupkan bersama

Agar jadi pasti tentang mimpi-mimpi tidurku serta kau

Agar jelma jadi keringat, sebuah kumpulan bahagia dalam danau dan biduk yang tenang seperti mekar teratai pada semedi ajna’, tapi layakkah ?

Burung-burung mulai pada pulang, induk-induk menyapa anak-anak mereka

Dalam hangatnya sarang, dijalan atau di kanan kiri ibu-ibu berteriak untuk anak kecilnya

Agar segera mandi sebentar lagi bapak-bapak mereka pulang membawa harapan

Harapan ?

Benarkah aku berharap kau ada disini

Meski rindu menggetarkan lutut ku ?

Gambar kau masih ada di mega yang mulai tak nampak,…

Uh, mulai malam..

Aku belum mandi seharian !!!!!!

Jan, 2000

KEMBANG BUAT KAU

Dibatas lembah untuk sesaat aku terhenti

Memandang puncak yang menyatu dengan langit

Aku harus sampai disana mengantarkan kembang sebagai bukti kesetiaan

Akan hidup yang Kau hembuskan

Tak peduli luka-luka

Karena ini penghambaan ku pada-Mu

Sampai nanti bumi menyimpanku

Dalam peluk abadi

Oh… Sang Maha Hidup

Aku ingin diam dalam biru sejahtera-Mu

Diatas lembah aku lengkingkan kerinduan

Setelah remuk-remuk zaman

Melumat seluruh tulang

Tapi biar tetap ku jaga genggam kembang

Agar Kau tahu cuma Kau kekasihku

Oh Sang Maha Kasih

Lantarkan aku dalam api suci-Mu….

Dibatas lembah aku mulai melangkah

Membawa kembang

Dalam ihktiar panjang pendakian

Nama-Mu ada dalam nafasku

8 feb 00

=tak=

Tak juga taka apa, tak bunga tak soal ; sebab,,

Ada tak yang tak tak, walau

Harpiah bilang tak yang tak

Pun semantik tak memang tak

Tak …

Tak…

Yakikahku tak

Pada blunder keadaan

Yakinkah kau tak

Dalam himpit arasy

Yakinkah mereka tak ?

Siapa mengerti kedalaman hati

Kita bertatapan mata

8 feb jam 1.30

DUA HAL YANG MEMBAHAGIAKAN SEORANG LAKI-LAKI, YAITU;

” PEREMPUAN DAN ANAK ”

Antara jalan raya dan batang rokok

Ah.. kembali aku menghisap racun

Berapa detik, berapa menit atau

Berapa jamkah

Proses percepatan organ-organku ?

KAU

KAU ADA DI AORTA

ARTERI DAN VENA

KAU ADA DI EUSTACHIUS

URETER DAN ALVEOLUS

ADA DI LIMFA DAN EMPEDU

DI SINUSOIDAL

JONTOT-JONTOT

KAU DISINI

Maret 2000

CABANG

Jangan berpaling jika kau pergi

Biar saja aku menatap punggungmu

Sebagai penghantaran dan

Salam perpisahan

Cukupkah itu ?

Kita pernah berada pada satu titik

Jejak-jejak kita pernah berpadu

Sebenarnya aku tak tahu

Kenapa kita mesti berpisah atau

Kenapa kita mesti bertemu atau

Kenapa kita saling peluk saling cium

Tapi juga saling maki

Yang jelas di depan sana

Banyak sekali jalan

Banyak sekali pilihan

Dari sini kita ambil jalan berbeda lagi

Entahlah apa yang akan kita temui ….

Jika suatu saat kita bertemu lagi

Dapat bertukar cerita

Tentang banyaknya pilihan

Menuju kematian ….!!!!

Maret 2000

MERDEKA

Untuk setiap jiwa

Merdeka…

Untuk setiap kata

Merdeka……

Pada semua takut

Yang menjemput

Lewat lorong arasy

Mendekap ajna’ …

Di barzah

Aku genggam mutiara

Buat giwang malaikat

Yang

Merdeka ……….

“………………………”

Jan 99

LAUTAN BUNGA

Pucuk teh yang mandi matahari

Dari arah hati aku menatapmu

Berikut angin yang tersimpul

Membawa jejak-jejak bunga dan kelopak

Yang terburai……….

Aku rindu hari hujan yang luruh di daun

Atau jadi embun di kaki malam

Saat nurani kembali kembang

Mendekap legam rambutmu

Yang menyala bagai gelora bara …..

Pucuk teh yang mandi embun

Dan hatiku bagai pelepah

Ku buka tanganku yang genggam benih

Pada halaman parau kan kusebar ia

Biar tumbuh bunga-bunga

Biar kembang kembang-kembang

Biar jadi lautan

Tempat musafir berenang

Dan mereguk harum cinta

Di sini

Di halaman parau

4 juli 00

Kesendirian

Angin malam, alunan musik

Segelas kopi, sebatang rokok

Sejuta pikiran

Diam bisu, tiada teman

Tiada kasih

Nyamuk nakal, rokok habis

Sedang kopi tinggal separo

Anjing sebelah menyalak

Tetangga lewat… lalu…

Sepi kembali

Bosan, jenuh, muak…….

Angin malam berhembus kembali

Menyatu bersama angan yang

Tak menentu

10 mei 2001

………………………………………………………………………………

Seandainya kau tahu apa yang kupikirkan

Buntu, itulah akhir kata,

Pagi ini semendung hatiku

Mengapa aku bisa seperti ini ?

Ragu, bimbang dan timbul tidak percaya

Sendiri dikampung orang

Yang belum tentu akhir sebuah cerita

Goyah, lelah, …..

Kenapa mudaku begitu tak menentu .?

Aku mulai tak yakin akan kehidupanku

Pulang atau terus ku lanjutkan

Sementara harapan terbuang bersama angin kebohongan

Mengapa aku bohongi diri sendiri ?

Mengapa…..

Sejuta tanya dalam benakku

Coba menebak arti kehidupan

Gelap….. segalanya jadi gelap !

Dan aku masih terpaku dalam kesendirian

Apa yang sebenarnya ku cari

Sampai kapan aku cari ?

25 sept 03

dua bulan sudah ku di sini ( Jakarta )

cita- cita yang buat ku bertahan

Tiap hari terus berusaha

Iklan apa ku jawab, kantor mana ku datangi

“TIADA LOWONGAN”

Kata ini tiap hari ku dapatkan

Badan capek, perut lapar terbiasa

Panasnya Jakarta memang bukan cerita

Tapi lebih tak seberapa dibanding

Panasnya pikiranku yang

Memaksaku tuk meregang nafas

Berlumur keringat sarat dengan kehampaan

Do’a dan harapan yang kupegang

Dia-lah yang maha tahu

Hidup sendiri tanpa kolega

S’moga kelak kan ku gapai bahagia

Cerita dari ibu kota

1988

Celoteh

Beralas kardus kumal, kanan kiri kardus juga

Jam weker 18.36

Bekas sari puspa kosong

Kantong kresek “Ramayana”

Kapur barus tinggal separo

Tasbeh putih tak pernah di pakai

Lemari pakaian sobek, celana ada di pojokan

Bak air kosong disengaja

Rumah kosong, di luar rintik hujan

Ada suara pintu bergerak sendiri

Mobil bikin berisik,,lewat

Sementara cucian kotor did us

Suara pintu terdengar lagi,, tak ada apa- apa

Pesawat terbang diatas kepala

Jam terus berdetak,, pasti

Kutepuk nyamuk , mati dilantai

Kucing masuk lewat lubang pintu

Aku sendiri !

Ya…………. Aku sendiri

270103

RASA ITU …

Datang lagi setelah sekian lama menghilang

Kembali ku temukan lewat aroma rambutmu

Serasa ku mengenang arti diri

Rasa yang t’lah lama terpendam

Begejolak bergulung sesakan dada

Dimataku ada kamu

Rasa itu….

Kembali menganggu ingatanku

Membayang dalam tiap perasaan

Ingin ku duduk lagi dan ku peluk erat tubuhmu

Agar malam ini tak jadi penyiksaan

Rasa itu ……

Bertahun sudah tak bertepi

Sejak aku kenal kegagalan

Kecewa itu tak ingin kurasakan

Kucoba bertahan walau hampa

Tanpa hangat …… Kini ….

Rasa itu kembali bertunas

Bersemi bawa harapan baru

Merubah dan memaksaku tuk katakan

“Aku sayang kamu…”

Pwkt, 22sept 03

KITA BOLEH BILANG APA SAJA

TENTANG MIMPI, TAPI JANGAN COBA KATAKAN BAHWA KITA TIDAK PUNYA DOSA..

TAKDIR

Takdir kita berjalan di sisi masing-masing

Aku hanya ingin takdir itu dipercepat

Namun terkadang lupa

Bahwa ada waktu tuk semua itu

Dan terpaksa melalui proses

Menghirup satu demi satu

Dari sekian banyak episode kehidupan

Hanya Tuhan yang tahu sgalanya

Karet

Pohon karet karet

Permen karet karet

Jam karet karet

Karet gelag karet

Apakah cintamu karet ?

01 feb 2003

RASA

Mengingatmu

Berjuta benak berputar

Pada ruang batok kepala mendesak

Sesak napas kerinduan bertiup lirih

Urat nadi nyambung ke telinga

Buta…! kata mata,

Tuli…! kata telinga,

Hamparan pasir hitam pekat dan sepi

Tak ada angin, diam !

Sedang kau masih tersenyum

Senyum kedamaian di puncak asmara

Selepas rambutmu dan pernah kucium

Damai aku peluk impian

Pada dunia dan keakraban insani

Sementara kau masih disana

Adakah esok kan terobati…?

-020203=

  • CIREMAY 4 U –

Dingin…

Itulah kesan pertama kata hati

Kadang tak tahu apa maksud kaki

Kota kecil, hati kecil, dan bocah kecil

Hawa gunung sejuk perlahan

Kupandangi kau

Tiap pagi ku menatapmu

Walau dengan mata perih dan silau

Seminggu sudah aku tertidur dikakimu

Membawa dengkur dan mimpi keindahan

Namun kau tetap anggun

Akankah kugapai angan disisimu…

“……………………………”

ingin kuhapus semua asa dan rasaku kepadamu

namun…..

saat pandang mata beradu

aku tersentak bahwa,

angan dan mimpiku masih milikmu…!

“WAKTU ITU”

Sebulan lebih kira-kira

Seiring rindu kampung halaman, Kita kan bertemu dalam keraguan

Maksud apa datang bersama angin ?

Saat hari mulai dingin……………..

Mentari telah seharian dalam kewajibannya

Takbir mulai ramai berkumandang

Ya…..esok lebaran !

Perlahan tanganmu ku gapai,

Jalan itu lurus

Berpegang pada pundakmu, Hujan pun perlahan ambil bagian

Membasahi, menjalar dan mengusap pipimu

Berkali-kali kutatap wajahnya

Benarkah yang terjadi demikian ?

Jalan itu lurus..

Ada sepenggal kenangan indah dan mendalam

Kala hati ragu bertanya

Sampai dimana kita sekarang ?

Jalan itu….lurus

Besok lebaran kenangan mendalam

Dan….kita tak tau kapan

Lebaran itu kan terulang !

290103

MATA

Mata..

Mata dewa mata

Mata keranjang mata

Mata hati mata

Mata ngantuk mata

Mata ngantuk tidur

Tidur lah…………..

Tidur lah dalam damai

Tuhan….jaga tidurku dan..

Ajaklah dia dalam mimpiku !

040203

Gelisah

Resah..streesss

g.e.l.i.s.a.h.k.u.r.e.s.a.h..

resah dan gelisah

susah tidur, resah gelisah

aku sudah tidur….

…………aku sudah tidur

Aku susah…….

……susah

Tali

“Lari terus sampai putus tali finish !!!”

Entah nengapa ku tulis kalimat itu,

Padahal diluar sana hujan rintik dan gelap

Sejenak sudah kau kembali, sepi !

Menarik memang lagu itu,

Membuat beringin bergoyang pada angan serta menyatu dikalbu

Kau..

Lagi-lagi tentang kau,

Berbeda dari alam luar

Bergelayut pada akar kerinduan

Tabir hati perlahan tersingkap

Namun kita belum sampai di pertigaan

Sementara aku terus mencari seutas tali penghubung hati

Tali yang t’lah menjerat egiosku

Yang kau simpulkan pada perasaan

Ku coba rajut tali itu jadi jembatan

Agar kita bisa berdampingan hanya azal yang pisahkan kita

Lalu kembali ku bisikan

“Lari terus sampai putus tali finish….!!!”

030203

Polos

“Tak bisa..ya, aku tak bisa !”

Kau jauh dariku, mungkin karena itu berat

Berat kepala ada air mendidih di rambutku

Panas asap juga kematian

Panorama alam jadi pertanyaan

aku terbaring lemah

Dalam ketidakberdayaan ini

Kecil dan kerdil, adakah kau rasakan ?

Apa arti kata cinta diangan….

Tidak !!

Kau rahasia bagiku,

Sang Dewi tenggelam di atas angin sawah

Berderai rambutmu lepas bebas

Senyum merekah diatas ayunan bambu, akankah ku gapai selendangmu ?

Sedang aku kurang percaya akan kelebihanku

Ku kejar kau Dewi !

kita hidup sampai orang lupa bahagia abadi mendekap sang Dewi

Sampai tumbuh benih kasih dan kita terlahir kembali…polos

Itulah cintaku padamu !!

Jkt, 00

Kuningan

adakah

Mawar merah yang kau berikan

Kini mulai layu dalam pelukan

Adakah kerinduan dihatimu ?

Adakah kedamaian di hidup ini ?

Hari-hriku lalui tanpa dirimu

Hari-hariku lalui tanpa bayangmu

Adakah kerinduan dihatimu

Adakah kedamaian dihidup ini…

t. jpis–

Angkuh

Merah, kuning, hijau dan biru kedip berganti

Menghiasi angkuh pencakar langit

Meski tak sehidup Los Angeles atau New York

Namun cukup untuk bangkitkan gairah hidup

Jakarta..

Disini aku ada dan menghisap asap racunmu, bergelut memutar otak dan otot tanpa darah

Coba mendayung biduk bambu yang rapuh reyot terapung di ciliwung penuh sampah darah

Menyelip diantara Titanic nya Gubernur, cipratan Compagne yang konon harganya selangit

Tinggalkan noda dan daki di hatiku

Makin menambah beban tuk tetap bertahan maju, karena aku punya mimpi !!!

Sementara angin mulai kencang merobek bajuku, aku mulai kehilangan sebagian tempat pijakan

Mundur terseok dan hanyut bersama comberan diinjak sang pemulung di pembuangan akhir

Tetapi..

Tanganku belum berhenti menuliskan cerita itu

Tentang perjalanan musafir di ibu kota patamorgana

Karena aku punya mimpi

“Jakarta…aku punya mimpi !!”

04 feb 2003

Pukul 12.55

””””””””””””””kuningan””””””””””””””’

Ah panas sekali hari ini..

Kulemparkan pandangku ke teras, terbentur sang pengemis yang terselip diantara betis para pengunjung

Rokok terakhir ku isap dalam-dalam, meresap ke paru meninggalkan racun

Kepulan nikkotin bercampur resah

Galau di benak makin berarak,

Disini…

Kota kecil penuh keindahan dari budaya yang berlatar perbedaan

Ya,,disini aku bernafas

Nafas yang suatu saat pasti berpisah

Pisah seperti halnya kemulyaan

Aku disini..

Di kota kecil ku gantungkan harapan yang mungkin terabaikan

Akankah kau berharap aku kan datang ?

-Surya-

Terpendam

  1. Persis,

CERMIN

Gadis kecil bemata bulat, berambut merah, kumal

Kulit hitam dengan daki menempel, dekil

Baju belang sobek, pada perut, celana juga

Kaki kotor, tak beralas, penuh goresan kecil

Banyak luka dan bernanah di kerubuti lalat

Berjalan, terseok membawa wadah kecil

Terkadang mengais tempat sampah, di pinggiran

Dengan harapan sisa makanan yang di dapatkan

Panas hari itu

Gadis kecil bermata bulat, terus berjalan

Sesekali, mengusap keringat walau dia tahu, bau !

Namun perut tetap harus terisi seharian

Di goyangkan tutup botol sprite yang terpaku di kayu, sebait lagu akrab

Di terima,,, polos-

Berulang dia nyanyikan sampai terisi wadah itu

Gadis kecil bermata bulat

Bulat matamu menatap masa depan yang hitam

Takut dia mengenal arti kehidupan

Pancaran matanya penuh pertanyaan

Mengapa nasib membawaku begini ?

Bisakah aku merasakan mobil mewah itu

Dimanakah ku dapatkan tempat yang layak ?

Kapankah perutku berhenti keroncongan ?

Adakah kepedulian akan masa kedepanku ?

Angin dan debu menerpa wajahnya

Dan seakan terjawab keluhannya

Gadis kecil bermata bulat

Terus melanjutkan perjalanan di trotoar panas

Entah sampai kapan dia disitu, dan

Entah sampai kapan dia seperti itu……

Banyak sudah halaman yang terlewati

Hamper tiap waktu terus ku tekuni

Apa yang menjadi suratan tanpa emosi

Terbilah tercabik, terpotong lalu terhempas

Terseret di antara air limbah yang memuakkan, menggapai tepian yang tak tentu penghabisan

Disana….

Di balik senyum dan gemersik dedaunan

Barisan mutiara sebagai pertanda cinta

Tunas baru muncul di sela kesombongan

Menghantam tabir di mana mulailah bibit bersemi….

Air laut masih terus bergelora

Campuran tergesa – gesa seketika

Kepak sayap – sayap yang penuh luka

Mendorongnya tuk pulang ke serang

Walau senja belum tiba namun perlahan kutinggalkan,

Pada angin senja ku coba titip kabar

Dengan sejuta harap dapat kau cermati

Di mana langkah ku mulai terasa goyah

Terseok di terpa badai prasangka

Hanya satu kata yang ku cari dengan teliti

Pada hakikat perasaan yang tak terbohongi

Kata yang dulu pernah kau ikrarkan

Saat hujan lebat malam itu

Disana…..

Di balik senyum dan gemerisik dedaunan

Barisan permata sudah bukan pertanda cinta

Satu pesanku di akhir kata

“Jangan lupa kita pernah seirama”

Kau Dan Aku

Seperti halal dan haram, seperti durian dan timun

Seperti langit dan bumi, seperti api dan air

Itulah kau dan aku …

Tepi dan sisi, sendok dan garpu, Kancing dan kemeja, Nasi dan lauk…laksana

Kau dan aku

Kau betina aku jantannya

Kau bulan aku langit malamnya, dan

Itulah kau dan aku

Begitu indah dan nyata

Bersama bermain rebana di atas bara

Tertawa dan berhenti lalu menangis

“Tak ada garam”, suatu hari kau mengadu

Ku belai rambutnya dan kubawa di dada

Hanya nafasmu yang kurasakan, lirih dan berat

Malam merayap meninggalkan dingin

Kutarik selimut itu agar menutupi badanmu yang

Tanpa helai benang pun kau kenakan

Putih kau punya kulit

“tak ada garam” dia bergumam perlahan

Sementara aku terdiam dan fajarpun mulai muncul

Ku bangun dan ngeloyor ke pancuran bambu

Kan berlomba dengan matahari demi satu kata yang kucari

“tak ada garam”..Bisiknya manja

Sepucuk surat buat sahabat karib;

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Sobat . . . .

Kita hanya bisa berencana, seandainya Tuhan merestui hubungan kita, rasanya

kaulah segalanya buatku

Terang saja, aku mulai mencintai kamu

Entah kapan asa dan rasa itu datang, yang jelas kau lah yang telah mengisi indah

hari-hari ku

Sobat . . .

Kita ( aku dan kau ) tidak bisa berharap banyak tentang kedekatan kita untuk

Berlanjut seperti apa yang telah di contohkan Adam dan Hawa

Dan kita kembalikan hanya pada Tuhan

Sobat . . . .

Tapi kita masih ada kesempatan, ruang dan waktu untuk mengisi hubungan kita

Dengan saling take and gave serta bisa terima apa adanya

Kau harus lebih jeli dan awas serta teliti siapa aku sebenarnya dan tentunya aku

pun harus melakukan hal yang sama.

Sobat . . . .

Kita jalani saja seperti adanya , biar waktu yang menilai tentang kita

Jangan lupa berdo’a mudah-mudahan kita ada dalam restu-Nya, amiiin

311002

Matamu . . . . . . . . . .

Aku terbuay

Senyumu . . . . . . . . .

Aku terlena

Perhatianmu . . . . . . .

Aku tergugah

Tutur katamu . . . . . . .

Aku tersentak

Ingat dirimu . . . . . . .

Aku tersadar bahwa

Kau lau dewi impianku

Hallowin 2002

311002

Entry filed under: ARTIKEL. Tags: , , , .

UPAYA MEWUJUDKAN EKONOMI KERAKYATAN BERBASIS POTENSI LOKAL KABUPATEN TASIKMALAYA Film “Mata Tertutup”

2 Komentar Add your own

  • 1. astiwi 7b smpn 27  |  Februari 27, 2014 pukul 12:28 pm

    trims,puisi nya menyentuh baunget.

    Balas
  • 2. bisnis olahan susu  |  Januari 31, 2016 pukul 8:17 am

    ijin kopi paste ya gan, buat tugas sekolah…🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 195,004 hits
Januari 2013
S S R K J S M
« Okt   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

PandapaCDS

Pandapa CDS


%d blogger menyukai ini: