DILEMA HUKUM PANCUNG BAGI YANG MURTAD

Agustus 24, 2009 at 1:30 pm Tinggalkan komentar

PENDAHULUAN

A. Yang Tetap dan Yang Berubah

Tidak diragukan lagi bahwa setiap komunitas atau sebuah bangsa memiliki sekumpulan ketetapan yang dengan berbagai upaya dan media yang dimilikinya senatiasa dipelihara dan dilestarikan. Upaya dan media tersebut berupa struktur-struktur atau jaminan-jamian agar ketetapan-ketetapan itu terhindar dari sentuhan perubahan, pergantian, penyelewengan atau disepelekan. Ketetapan yang paling penting dan harus selalu dijaga tersebut serta diakui oleh seluruh bangsa adalah “identitas.” Identitas sebuah bangsa adalah eksistensi bangsa itu sendiri yang tidak bisa tidak harus ada, bersifat konstan dan bersih dari penyelewengan, baik sebagian atau seluruh unsurnya. Identitas suatu bangsa tidak sama dengan identitas bangsa lainnya, baik dari unsur-unsur pendukungnya atau faktor-faktor yang membentuknya. Apa yang diakui sebagai bagian dari identitas suatu bangsa tidak bisa diakui bangsa lain. Namun demikian, ada standar yang disepakati oleh semua bangsa, yaitu adanya keharusan menghormati dan menjaga identitas masing-masing. Seluruh bangsa merasa memiliki kewajiban untuk melestarikan dan menjaga identitasnya dengan segenap pengorbanan, mulai berbentuk materi yang sangat mahal dan berharga, jiwa dan raga, sampai titik darah penghabisan.

Dan tidak diragukan lagi, bahwa bangsa-bangsa besar –sebelum kita—menganggap agamanya sebagai power of defence terpenting. Anda dapat mengenal sebagian di antaranya. Antara lain bangsa penyembah berhala seperti bangsa Romawi sebelum menjadi Kristen, bangsa Babilonia dan lain-lain, yang identitasnya sangat terkait dengan agama yang dianutnya, bahkan menjadikan agama sebagai dasar pembentukan identitasnya. Berdasarkan hal ini, maka para ahli fiqh Islam (fuqaha) pun tidak berbeda jauh dengan mereka, ketika menganggap agama sebagai salah satu dari lima maqasid syari’ah dan menganggapnya sebagai hak asasi manusia serta sebagai illat (alasan) bagi lahirnya berbagai dasar-dasar pembentukan hukum (syari’at). Mereka meletakkan jihad sebagai prioritas utama dan media pertahanan terpenting untuk menjaga dan memelihara agama dari serangan bangsa lain.

Batasan hukum dan sanksi(Hadd) murtad, menurut sebagian fuqaha adalah merupakan wilayah pribadi. Namun, setiap individu berkewajiban menjaga agamanya (hifdz al din) dari orang yang ingin menyelewengkannya, atau mempermainkannya, atau (memaksa) memeluknya atau berusaha mengeluarkannya (memurtadkannya). Para fuqaha Islam telah mengakui dan menetapkan adanya batasan (hukum dan sanksi) murtad sebagai bagian dari syari’at, tetapi mereka tidak melihat bahwa syari’at tersebut bertentangan (ta’arudh) dengan apa yang telah mereka akui dan sepakati sendiri yaitu prinsip kebebasan beragama, karena memang tidak ada paksaan dalam agama. Selama beberapa abad perjalanan sejarah, pandangan adanya sanksi di dunia bagi orang murtad adalah pandangan populer yang dipegang, dan tidak memberikan kesempatan untuk berkembangnya pendapat para fuqaha besar lainnya yang memiliki pendapat yang berbeda dan kontroversial dengan suara mayoritas, padahal memiliki posisi tersendiri untuk dipertimbangkan, seperti Umar bin al Khaththab (w. 23 H.), Ibrahim al Nakha’iy (w. 196 H.), Sufyan al Tsaury (w. 161 H.), dan nama-nama lain yang tidak diberikan kesempatan untuk populer dan dipublikasikan. Hal tersebut disebabkan oleh mayoritas penukil fiqh Islam menyebarkan legitimiasi ijma’ dalam masalah ini yang dibangun oleh mayoritas (jumhur) ulama fiqh, yaitu memaksa orang murtad dengan segenap kekuatan untuk kembali kepada Islam, atau dilberlakukan hukuman mati jika ia tetap menolak untuk kembali kepada Islam. Mereka beralasan bahwa hal itu dilakukan demi menjaga agama dari usaha-usaha pelecehan, dan usaha ini dianggap sebagai sumber pembentukan dan kekuatan ummat dan dianggap sebagai sumber tegaknya kedaulatan, sebagaimana hal itu dianggap sebagai sumber akidah, syari’ah dan sistem hidup di wilayah kaum Muslimin dan kedaulatan Islam. Maka tidak aneh, jika setelah itu, hukum tersebut tetap menjadi keputusan final dan dianggap sebagai satu-satunya batasan syari’at yang tetap dan telah disepakati bahkan diijmakan dalam akal, hati dan keputusan-keputusan hukum sebelumnya, sehingga menjadi sebuah perkara yang dilarang didiskusikan kembali dan memang menurut mayoritas tidak ada prosedurnya untuk itu. Mengapa?, sebab bagaimana bisa didiskusikan, jika hal tersebut sudah merupakan konsensus bersama (ijma’)?

Jika fenomena peradaban modern tidak menjadikan kritik dan penelaahan ulang sebagai langkah dan metode yang secara mutlak layak digunakan dalam menganalisa dan mengadakan penelitian, maka kini lembaran yang berisi objek pembahasan semacam ini tidak dapat dibuka kembali. Akan tetapi, ternyata lembaran tersebut telah diawali dan dibuka kembali oleh para reformis dan pembaharu; Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan lain-lain. Mereka menganggap masalah tersebut bertentangan dengan prinsip kebebasan beragama dan kebebasan mengemukakan pendapat, serta berbenturan dengan hak asasi manusia dalam hal memilih keyakinan dan agamanya tanpa ada paksaan.

Ketika berbagai pernyataan dan pertanyaan diajukan kepada para pembaharu tersebut, “Sesungguhnya di dalam Islam terdapat paksaan, yaitu adanya keharusan untuk memaksa seseorang yang murtad dari Islam untuk kembali kepada Islam atau dibunuh, hal ini juga menunjukkan bahwa di dalam Islam terdapat pemberangusan terhadap kebebasan berakidah dan pemasungan terhadap hak asasi manusia dalam mengemukakan pendapat.” Jawaban dari para pembaharu pun beragam, bahkan sebagian mereka bernada apologi dengan berbagai dalih. Maka Al Afgani menulis sebuah bukunya yang terkenal “Al Raddu ‘ala al Dahriyyin (Kritik terhadap Atheisme) yang berisi penegasan akan pentingnya menempuh metode yang digunakan Alquran dalam melakukan debat dan berdialog dengan para penentangnya, serta berusaha mencari benang merah dalam keraguan-keraguan dan lontaran yang mereka gunakan dengan argumentasi dan hujjah-hujjah Islamiyah.

Polemik tersebut tetap berlangsung, bahkan perdebatannya semakin keras disuarakan oleh orang-orang yang cenderung dan berpikiran sama. Sebagian ulama hanya berbisk-bisik ketika mengemukakan pendapat mereka yang bertentangan dengan suara mayoritas (jumhur) sekitar masalah ini. Keragu-raguan tersebut terus turun temurun, bahwa masalah ini adalah telah menjadi konsensus bersama (ijma’). Keragu-raguan semacam ini terbaca pada tokoh-tokoh semisal Syeikh Mahmud Syaltut (w. 1963), Syeikh Muhammad Abu Zahrah (w. 1974), dan dari tokoh lainnya. bahkan suara mereka tidak terdengar dan terkesan untuk tetap mengambil sikap diam, sehingga terulang kembali apa yang biasa dilontarkan oleh para pendahulunya, “Masalah ini adalah masalah yang sangat pelik yang jika dibahas, maka akan terjadi begini dan begitu.” Lembaran ini pun seolah-olah terbuka tetapi tertutup, yakni tidak tertutup namun juga tidak terbuka. Kemudian terjadilah kasus hukuman mati terhadap Ali Mahmud Thaha di Sudan pada tahun 1985. Peristiwa itu terjadi ketika Presiden Sudan yang bernama Ja’far Namiri ketika itu mengumumkan diberlakukannya penerapan syari’at Islam, yang didampingi wakilnya DR. Hasan Turabi yang sebenarnya dengan berani dan terang-terangan, ia memiliki pendapat yang kontras tentang orang murtad. Padahal ketika itu tidak ada yang berani mengemukakan pendapat seperti dirinya. Bahkan pendapat dan suara Hasan Turabi menyebar luas di kalangan murid-murid dan pendukungnya. Di bawah kepemimpinan Al Kabasyi, pengadilan Sudan memberikan vonis hukuman mati terhadap Ali Mahmud Thaha yang ketika itu berumur 79 tahun. Eksekusi pun berlangsung tanpa ada gugatan atau perdebatan dari sang wakil presiden.

Dan ketika Faisol bin Musaid (paman dari Raja Faisol) divonis hukuman mati pada tahun 1974, yang lebih dari sepuluh tahun sebelumnya divonis hukuman penggal dengan pedang disebabkan tuduhan murtad, padahal ia telah mengakui tindakan kriminal yang dilakukannya adalah kasus pembunuhan dengan sengaja terhadap musuhnya, yang hal ini menurut syara’ pun cukup bukti untuk memvonis hukuman mati baginya. Jadi, sebenarnya para ulama dan para hakim tidak perlu memvonis dengan tuduhan lain (murtad) untuk membunuhnya, tetapi kenyataannya dalam berbagai keputusan mereka menyebutkan ia dihukum mati karena murtad. Dalam kasus tersebut tidak ada perdebatan yang serius, apakah memang tindakan kriminalitasnya dianggap layak dan seimbang untuk menyeretnya kepada hukuman mati, atau dosa yang lainnya?, dan keputusan pengadilan tidak sedikitpun mengarah kepada sebab pembunuhan.

Kemudian terjadi kasus Salman Rusydi. Fatwa pun bermunculan dengan berbagai versi seputar kasus ini, di antaranya fatwa populer Imam Khomeini (w. 1989) untuk menghalalkan darahnya. Reaksi pun datang dari berbagai kalangan, sehingga kasus ini menjadi kasus internasional. Barat pun telah menjadikan isu ini untuk menyuarakan hak asasi manusia yang –menurut mereka- telah diberangus oleh Islam, di dalamnya termasuk juga kebebasan berpendapat dan kebebasan beragama. Islam dianggap sebagai penentang nilai-nilai tinggi yang dianut oleh Barat modern, yakni nilai kebebasan. Memang fatwa-fatwa dan buku-buku yang dikeluarkan kalangan Islam yang telah merasuk ke dalam jiwa dan pendapat para ahli fikih dengan berbagai argumentasi yang mereka ambil adalah selalu mengarah kepada wajibnya hukuman mati bagi orang murtad. Dan tidak ada yang melawan dan menentangnya atas nama hak asasi manusia, atau atas nama kebebasan berpikir, kebebasan berpendapat, dan kebebasan beragama. Sebagian mereka menyuarakan slogan “Kebebasan berpikir, yes, kebebasan untuk berkafir, no.” Akhirnya Barat tetap Barat dan Timur tetap Timur, –sebagaimana mereka katakan– pemerintah Inggris telah mengerahkan dana berpuluh-puluh juta poundsterling untuk menjaga Salman Rusydi dari sentuhan kaum Muslimin, yang dijadikan simbol dunia untuk menyuarakan prinsip kebebasan yang sangat tidak seimbang dengan harga yang dikeluarkan oleh Salman Rusydi sendiri dalam menyusun bukunya. Dengan harga yang sangat murah ia telah mendapatkan popularitas melalui booming media informasi.

Selanjutnya, terjadi kasus pengkafiran terhadap Farag Faudah oleh generasi muda dari kelompok Islam (Jamaah Islamiyah) di Mesir. Para pengacara mereka mengajak para ulama untuk bersikap lurus dan menjaga keseimbangan. Dan ketika itu, salah satunya adalah Syeikh Muhammad Al Ghazali (w. 1996). Ia tidak menemukan sama sekali ketetapan dan keputusan dari madzhab ahli fikih manapun dalam masalah ini yang mengarah kepada adanya keharusan hukuman mati bagi orang murtad. Namun, Farag Faudah tetap dianggap telah murtad yang harus dihukum mati. Dan apa yang dilakukan oleh kelompok muda dari Jamaah Islamiyah tersebut adalah melaksanakan hukum syara’ terhadap seseorang dengan cara mengucurkan darahnya bukan dengan cara menghormati darah dan harga dirinya. Namun demikan, pemerintah sendiri merasa perlu untuk menumpahkan darahnya, karena jika hal itu tidak dilakukan, maka kelompok muda tersebut akan menggugat dan memvonis balik terhadap pemerintah, dan dengan caranya sendiri akan melaksanakan apa yang perlu mereka lakukan terhadap pemerintah. Maka terjadilah gejolak yang sangat hebat di Mesir. Polemik terus berlangsung antara sebagian ulama dengan beberapa kalangan dan kelompok lain, baik dari kalangan pengacara, aktifis HAM, wartawan atau kalangan dan kelompok yang berpikiran liberal lainnya. Maka kalangan terpelajar Mesirpun terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selebaran-selebaran yang tersebar tentang masalah ini di dunia jurnalistik mencapai sekitar 9 jilid besar. Pintu polemik tersebut tetap terbuka, dan perdebatan pun terus berlangsung. Peristiwa ini hampir tidak pernah berhenti sampai akhirnya muncul kasus DR. Nashir Hamid Abu Zaid yang telah dituduh dan divonis murtad. Bahkan salah seorang telah menuntut untuk dilakukan penceraian antara Abu Zaid dan istrinya, dengan alasan ia telah dianggap murtad. Lembaran ini pun tebuka sekali lagi. Masyarakatpun bergantian melakukan komentar dan perdebatan dengan menulis artikel dan selebaran-selebaran sehingga lembaran polemik tersebut mencapai 5 jilid besar. Di antara buku dan tulisan yang paling penting adalah berjudul “Al Tafkir fi Zaman al Takfir (Berpikir di Era Pengkafiran),” setidaknya telah anda dapatkan melalui siaran radio dan tayangan televisi. Abu Zaid pun berubah posisinya menjadi sebuah simbol dari sekian simbol kebebasan, sehingga mengalirlah tawaran-tawaran dari berbagai universitas Eropa dan Amerika untuk bekerja sama. Akhirnya ia bersama Muhammad Arkoun menjadi penasihat untuk sebuah proyek besar di bidang penerbitan Ensiklopedi Barat yang berkaitan dengan kajian Alquran. Abu Zaid akhirnya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dari Universitas Leiden Belanda.

Tinta yang digunakan untuk menulis polemik seputar Abu Zaid belum kering, ternyata telah terjadi lagi kasus DR. Hasan Hanafi yang didakwa dengan tuduhan yang sama. Al Azhar dan kalangan lainnya mulai memandang hikmah yang terkandung dalam kasus-kasus tersebut dan tidak memberikan kesempatan untuk timbulnya kesombongan-kesombongan. Setelah beberapa saat, serangan dan hujatan kepada Hasan Hanafi pun mereda, apalagi jika dikaitkan dengan serangan terhadap Islam. Akan tetapi Amerika Serikat dan organisasi atau lembaga-lembaga yang ada di bawahnya bahkan Organisasi atau Sistem Tata Dunia Baru yang sengaja dipersiapkan untuk menyerang Islam terus melakukan serangan bahwa Islam adalah agama yang paling keras memusuhi kebebasan dan HAM, dengan dalih bahwa Islam masih memberikan pemahaman tentang murtad dan hukumnya dengan hukum bunuh (hukuman mati). Jadi, bagaimana kemusykilan yang senantiasa berlangsung terus-menerus ini akan bisa diobati?

Kami mempersiapkan kajian dan pembahasan ini untuk diterbitkan ketika Mesir sedang disibukkan oleh kasus DR. Nawal Sa’dawi yang didakwa dengan hisbah untuk dipisahkan (diceraikan) dengan suaminya. Hal ini terjadi akibat pengaruh dari informasi dan penjelasan yang disebarkan oleh salah satu majalah, bahwa Nawwal telah mencoba meperolok-olok sebagian hukum syara’. Dengan demikian, Nawwal didakwa dengan tuduhan hisbah agar ia diceiakan dengan suaminya. Bagi kami, dakwaan hisbah dalam kasus ini akan menjadi catatan tersendiri dan akan kami uraikan dalam bahasan tersendiri pula disertai dengan sikap para ahli fiqh dalam usahanya meneliti dan menetapkan hukum murtad. Di sini, DR. Nawwal Sa’dawi’ memiliki dua sikap penting; yang pertama ketika ia di Maroko; dan yang kedua ketika ia di Amerika. Namun cukup kiranya kami sebutkan sikapnya ketika di Amerika, ketika ia mempertahankan dan membela Islam di hadapan para profesor dan para pakar kajian dan studi Timur Tengah. Nawwal berkata; “Wahai para guru besar Barat, saudara-saudara telah mengajak kami untuk keluar dari agama kami dan mengkhianati kebudayaan dan peradaban kami. Saudara-saudara juga telah mengira bahwa Islam telah memusuhi hak-hak perempuan. Saudara-saudara juga telah melakukan pembedaan-pembedaan dan pemisahan-pemisahan melalui beberapa masalah, serta memandang rendah bangsa lain. Hal ini tidak mungkin ditemukan bukti dan kenyataannya dalam agama, kebudayaan, dan tradisi kami.” Apa yang dikatakan oleh Nawwal telah membuat saya menangis ketika itu. Mudah-mudahan sikap seperti ini akan menjadi syafaat baginya dari Allah Swt. jika ia tetap konsisten dengan keimanannya, walaupun serangan dan hujatan begitu gencar dilancarkan kepadanya.

Tidak diragukan lagi, bahwa di luar sana banyak orang-orang murtad dan orang-orang Islam yang memilih untuk melepaskan diri dari ikatan Islam, sementara Islam selalu menghapus kekejian mereka. Akan tetapi berapa banyak pertanyaan yang selalu mengganjal dalam benak saya, “Jika hukuman ini diterapkan selama perjalanan sejarah dengan tepat, menyeluruh, dan sempurna, apakah kemurtadan akan berhenti?, dan apakah masyarakat Islam dewasa ini akan bersih dari orang-orang yang mendirikan pemikiran dan aliran-aliran atheisme atau yang sejenisnya yang tidak mengetahui keunggulan dan kekayaan Islam serta akidah Islamiyah?, dan apakah mereka yang berkumpul dan bergabung dengan gerakan-gerakan partai politik atau organisasi masyarakat yang berhaluan sosialis, markis, materialis, dan lain-lain akan tetap ada dan menjadi bahaya latin yang tidak pernah nampak ke permukaan?. Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut diubah menjadi, “Apakah jika hukuman (mati) bagi orang murtad diberlakukan dan diterapkan di negara-negara kaum Muslimin, mereka yang selama hidupnya menganut faham markisme-leninisme, skularisme, atheisme, dan lain-lain kemudian mereka sadar dan tanpa mengungkapkan identitasnya, mereka membangun paradigma baru mengadopsi manhaj Islam, apakah mereka saat ini akan tetap hidup dan melakukan apa yang mesti mereka lakukan dalam membela Islam dan menyucikan warisan keilmuan Islam (turats al Islamy) serta mempertahankan prinsip-prinsipnya dan menyebarluaskan sinarnya?.

Dengan demikian, saya sangat tertarik untuk mengkaji lebih jauh tentang hukum bunuh (hukuman mati) bagi orang murtad, dengan pemahaman-pemahaman baru yang mendalam, mencakup faktor-faktor penyebabnya serta background yang melatarbelakangi timbulnya hukum tersebut secara khusus. Di sisi lain, secara umum prinsip dasar Islam yang dipresentasikan oleh Alquran adalah “kebebasan beragama” dan “tidak ada paksaan dalam agama.” Saya berpendapat bahwa penelahan kembali objek pembahasan ini adalah merupakan penelaahan yang mendapatkan legalitas dari hukum syara’ yang utuh dan dapat menjadi obat penawar yang sangat penting. Sehingga jika kami tidak menghasilkan apa-apa dari kajian ini kecuali hanya mempertegas kembali hukum yang sudah ada dan akhirnya gigit jari, maka tidak apa-apa jika hasilnya ternyata benar, utuh, dan menyeluruh berdasarkan penulusuran terhadap Kitab Allah Swt. dan Sunnah Rasulullah Saw. Jika demikian, sebelum dan sesudahnya kami adalah orang yang beriman dan percaya serta tidak keberatan sedikitpun untuk tunduk pasrah menerima hukum Allah Swt. yang datang melalui wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. apapun dan bagaimanapun bentuknya. Dan kami bersyukur kepada Allah atas teselesaikannya bahasan ini dengan menggunakan metode Alquran yang ilmiah yang menunjukkan kepada jalan yang paling lurus, sehingga telah menghasilkan kesimpulan yang sangat penting. Kami berharap para pembaca untuk tidak tergesa-gesa ingin segera mengetahuinya, karena untuk membaca pembahasan ini bukan saja harus dengan ketekunan dan kesabaran yang amat tinggi –seperti kami melakukannya– melainkan harus pula disertai dengan pemikiran, analisa, dan kepekaan sebagai peneliti dan pencari ilmu sejati. Kami telah mencurahkan segenap waktu dan kemampuan serta mengerahkan seluruh perangkat penelitian semestinya yang kami miliki. Akan tetapi –sebelum dan sesudahnya– apa yang disebut kemampuan manusia –bagaimanapun– merupakan pusat kekurangan dan keteledoran. Siapa yang mendapatkan kebaikan, maka bersyukurlah kepada Allah dan do’akanlah kami, karena kami adalah manusia yang paling membutuhkan ajakan dan perbaikan. Dan siapa yang mendapatkan sebaliknya, maka mintakanlah ampun buat kami dan tunjukanlah kepada kami kecacatan dan kekurangan kami, karena tidak ada yang kami harapkan kecuali saran dan perbaikan yang akan kami lakukan sekemampuan kami dan hanya kepada Allah kami memohon taufik.

Sejak awal, kami sudah yakin bahwa apa yang ditemukan dalam kajian dan pembahasan ini membuat kebanyakan orang tidak akan merestuinya. Bahkan kami tidak khawatir jika sebagian isi pembahasan ini membuat marah para ulama dan para pencari ilmu. Sama saja, apakah mereka setuju atau tidak terhadap isi kandungannya, semuanya sangat tergantung kepada kemampuan dan ilmu masing-masing. Adapun ulama dan pelajar yang mengetahui kode etik dalam perbedaan (pendapat) akan menimbang-nimbang niat dan komentar mereka. Yang kami khawatirkan –justru– mereka yang hanya ikut-ikutan dan taklid buta yang oleh Al Jahidz dinamakan “Aqaliyyat al ‘Awam (cara berpikir masyarakat biasa).” Arus pemikiran mereka akan terbawa begitu saja oleh apa yang saya tulis dan saya katakan. Dan setelah lama diam, akhirnya cara berpikir mereka akan bergerak dan memvonis untuk menyerang penulis. Barangkali serangan mereka dan orang-orang yang menyertainya dengan berbagai tuduhan dan sesuai dengan tingkat kebodohan dan kebathilan mereka, maka pemikiran orang awam biasanya tidak mampu menganalisa dan berhenti untuk meneliti pembahasan, karena wawasan mereka yang terbatas. Mereka lebih didominasi oleh perkataan dan informasi yang mereka dengar yang beredar di sekitarnya, sehingga menancap di dalam otak dan hati mereka setelah sebelumnya lama menempuh jalan taklid, yang pada akhirnya dengan mudah dapat dimasuki oleh khurafat dan kebatilan. Dan sebaliknya, kebenaran dan hak yang didasarkan atas argumentasi dan alasan serta pemikiran akan sangat sulit masuk kepada mereka. Akal pemikiran yang beberapa abad berpijak di atas jalan taklid adalah akal masyarakat awam yang tidak dapat mencerap sesuatu pun kecuali tunduk kepada apa yang menyebar dan sampai kepada mereka dan apa yang diwarisi oleh nenek moyang mereka. Padahal Alquran telah menganjurkan dan mengajarkan bagaimana seharusnya mencari dalil dan argumentasi, serta tidak menerima sesuatu tanpa data otentik, Katakanlah: “Tunjukanlah bukti kebenarnmu, jika kalian termasuk
orang-orang yang benar (QS Al Baqarah [2]: 111). Dalam ayat lain Allah berfirman, Katakanlah:Apakah kalian memiliki suatu ilmu pengetahuan sehingga kamu dapat mengemukakannya kepada Kami.” Kamu tidak mengikuti
kecuali hanya prasangka belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta (QS Al An’am [6]: 146).

Sesungguhnya Allah Swt. telah menyebutkan hikmah atau alasan (illat) diutusnya para rasul agar menjadi hujjah bagi manusia, atau agar manusia tidak lagi memiliki hujjah. Allah Swt. Berfirman, Para rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan agar manusia tidak memiliki hujjah kepada Allah setelah (diutusnya) para rasul, dan Allah adalah Yang Maha mulia lagi Maha bijaksana (QS An Nisa [4]: 165). Firman Allah ini menjelaskan bahwa Allah Swt. telah menitipkan potensi dan kesiapan manusia untuk menerima hujjah dan dititipkan pula fitrah untuk mencari alasan dan argumentasi, serta Allah pun telah mengizinkan manusia untuk meminta dan memohon kepada-Nya sebelum kepada siapapun, baru kemudian kepada para nabi dan rasul-Nya. Jadi tidak ada alasan bagi anda untuk memohon dan meminta kepada selain Allah dan rasul-Nya. Akan tetapi sebagian para pelajar dan para pencari ilmu serta masyarakat umum tidak memiliki sesuatu kecuali taklid dan ikut-ikutan dengan akal dan jiwa yang startis. Oleh karena itu para penyebar kebatilan dan kesesatan sudah mengetahui bagaimana mengelabui mereka sehingga mereka mengikutinya, dan menolong mereka dalam kebatilan, serta mereka dijadikan alat untuk mengepung para pencari maslahat dan pejuang kebenaran. Dengan demikian, sekarang saya mengingatkan dan menghadirkan kajian ini ketika saya masih menjadi pelajar junior yang selalu dibimbing oleh guru kami Abdul Aziz al Samaraiy –semoga Allah merahmatinya–. Ia selalu mengulang-ulang sebuah hadis yang berbunyi, “Pada hari kiamat tinta para ulama ditimbang dengan darah para syuhada.” Ketika itu, kami sangat bahagia mendengar hadis ini dan hadis lainnya yang berbunyi, “Barang siapa yang menempuh jalan ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” sampai hadis lain yang banyak dan selalu diulang-ulang oleh beliau kepada kami sebagai motivasi pada masa mencari ilmu dan sisa-sisa umur lainnya. Kadang-kadang saya selalu bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin tinta para ulama ditimbang dengan darah para syuhada, padahal mereka senantiasa duduk memusatkan konsentrasinya di madrasah-madrasah dan masjid-masjid mereka untuk mempelajari berbagai ilmu dengan tenang?” Kadang-kadang mereka mendapatkan wakaf dan mendapatkan keistimewaan yang bermacam-macam. Bagaimana bisa kehidupan yang senantiasa bergaul dengan buku, pena dan kertas tersebut dibandingkan dengan para pejuang yang selalu berhadapan dengan bahaya, membunuh atau terbunuh?. Pertanyaan ini terus membesar dan tidak pernah terjawab. Akan tetapi setelah saya berusia 50 tahun lebih, saya mulai menemukan dan mengerti jawaban-jawaban untuk pertanyaan tersebut. Saya telah memulai fase pergulatan dan pergaulan bersama masyarakat dengan Alquran melalui acara “Aslamat al Ma’rifah (Islamisasi Ilmu Pengetahuan).” Acara tersebut biasa dimulai dengan sesi yang berisi keharusan kami untuk mendahulukan pengkajian dan penganalisaan terhadap masalah keserbacakupan (universalitas) Islam, keunggulan metode-metode dan keistimewaan risalahnya serta maqasid syari’ah, daripada sekedar memperhatikan kepada bagian-bagian fiqh yang farsial dan potongan-potongan teks-teks verbal (dalil naqli) semata. Acara tersebut juga disertai dengan sesi yang berisi penganalisaan terhadap kondisi umat Islam yang sejatinya diciptakan sebagai umat ideal, tantangan-tantangan dan segala fenomena yang dihadapkan kepadanya berupa warisan keislaman (turats) dan fakta sejarahnya yang berhadapan dengan warisan manusia modern dan realitas masa kini. Dengan demikian, terbentuklah watak ilmiah dan pandangan metodologis saya seputar masalah ini yang saya lihat sangat beragam. Sebagian dalam bentuk diskusi dan sebagian lagi dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan. kemudian diteruskan dengan sesi yang berisi pembahasan tentang solusi untuk mengatasi krisis-krisis tersebut dan bagaimana menyelamatkan fitnah-fitnah ini, bukan dengan cara pandang pribadi, melainkan dengan cara pandang keumatan. Yang dimaksud dengan cara pandang pribadi adalah bagaimana seseorang secara egois bisa beribadah dan berharap bisa merealisasikan diri menjadi seorang hamba yang tulus dan selamat menempuh sebuah jalan menuju surga melalui perkenan dan karunia Allah Swt., sedangkan cara pandang keumatan adalah bagaimana menyelamatkan umat yang diciptakan sebagai umat ideal dan tengah-tengah (wasathan) ini dari krisis dan kondisi buruk. Untuk merealisasikan cara pandang kedua ini, maka langkah pertama yang harus diambil dalam rangka melakukan perbaikan dan mengeluarkan umat ini dari krisis adalah dengan mengubah cara berpikir umat ini yang potensi dan kemampuannya selalu terbelenggu oleh kumpulan doktrin yang statis dan mematikan, antara lain; jabariyah dan tawakal, tidak adanya pemahaman terhadap fungsi sebab-akibat, lemah dalam mencerna hukum alam (sunnatullah), dan sebagainya. Cara berpikir yang statis dan mematikan tersebut pada dasarnya tidak mungkin menjadi media untuk mempertahankan peradaban, sebagaimana ia tidak mungkin pula membangun peradaban baru yang dinamis, atau membawanya menjadi peradaban yang unggul. Bahkan sebaliknya, cara pandang dan berpikir seperti itu akan menanggung beban kehancuran dan melenyapkan apa yang sudah ada selama ini.

Tentang akar pemikiran yang statis, sakit dan mematikan tersebut, dalam pembahasan ini, saya mendapatkan jalan melalui tumpukan dan kumpulan paradigma yang membentuk warisan keilmuan kita, baik naqli maupun aqli. Dan mulai jelaslah bagi saya, cara pandang terhadap masalah yang banyak ini ternyata telah dikemukakan oleh para pendahulu kita, dan mereka mengira telah menyelesaikan sebagian problematikanya, serta mereka merasa bebas tugas untuk menyelesaikan sisa permasalahan yang ada, sehingga generasi berikutnya mewarisinya secara turun temurun. Akan tetapi kadang-kadang mereka tidak mencurahkan kemampuannya kecuali hanya melaksanakan, mengadakan perbaikan dan menyebarkan apa yang sudah ada. Seolah-olah mereka berpegang kepada slogan “Pendahulu tidak menyisakan sesuatupun bagi generasi berikutnya.” Yang akhirnya, Islam membawa muatan dan membayarnya dengan harga yang sangat mahal untuk pembangkangan generasinya, dan yang ada hanyalah kerancuan berpikir serta sisa-sisa doktrin dan ideolgi saja.

Sebelumnya, saya telah menulis kata pengantar bagi buku kawan saya; Prof. Rasyid Ganusyi tentang “Hak Warga Negara”. Saya berusaha untuk menjelaskan bahwa faktor yang beraneka ragam bagi “Program Kemakmuran Islam Modern” akan senantiasa berputar-putar sekitar kesempitan dan kesumpekan, kecuali para tokoh pemikir Islam memahami permasalahan penting dan pelik yang membentuk warisan keilmuan kita. Kemudian setelah itu dilakukan pemurnian-pemurnian. Pada tataran praktis pelaksanaan program tersebut, tidak cukup hanya dengan ijtihad-ijtihad parsial yang tidak utuh dan tidak menyeluruh terhadap permasalahan-permasalahan yang disodorkan oleh musuh mereka atau dihidangkan ke hadapan mereka, atau hanya dengan cara menguraikan pendekatan-pendekatan dan perbandingan-perbandingan, atau pena’wilan-pena’wilan yang dangkal.

Islam tidak akan banyak terbantu hanya oleh ijtihad seseorang yang berhenti pada tahap menyetujui dan menyerahkan urusan kepada madzhab jumhur fuqaha yang memiliki konsep bahwa warga negara di negara Islam menjadi dua bagian; pertama, muslim yang hidup dalam jaminan negara Islam; dan kedua, kafir dzimmy yang hidup di negara Islam dengan jaminan umat Islam atas nama warga negara dengan segala konsekuensi modernitasnya. Hal itu –misalnya- dilakukan demi memperluas cakrawala berpikir seorang muslim agar terbentuk pemahaman tentang warga negara yang di lahirkan di kawasan kedaulatan nasionalisme Barat modern yang kemudian secara instan disodorkan kepada kita.

Problematiaka umat yang sakit ini pun tidak akan terobati hanya dengan ijtihad seseorang yang mengambil pemahaman ‘demokrasi’ yang berakar liberaliisme dengan segala konsekuensinya tanpa melakukan perbaikan terhadap sistem berpikir warisan yang menuju kepada kehidupan individualisme, tekanan dan kesewenang-wenangan dalam umat kita. Hal ini tidak hanya terjadi pada masa kini, melainkan juga terjadi di masa lalu. Hanya Allah yang mengetahi sampai kapan masa depan kita roboh atau akan dibangun.

Demikian pula, umat Islam tidak cukup hanya dengan mengambil pengertian ‘federalisme’ dengan segala tata aturannya sebelum melakukan perbaikan terhadap cara berpikir yang menimbulkan lahirnya fanatisme buta dan kembali kepada titik nol dengan menegasikan hasil yang sudah diraih, dan menolak kerukunan dalam perbedaan dan keberagaman, yang sebetulnya Islam telah menyelamatkan kita dari hal tersebut walaupun hanya sebatas berbeda dalam furuiyah.

Dan tetap tidak mungkin mengobati kesulitan umat Islam ini hanya dengan cara mengambil pendekatan-pendekatan atau perbandingan-perbandingan, dan pena’wilan-pena’wilan yang parsial. Jika hal itu dimungkinkan dalam tataran analisa, maka cara ini pun hanya merupakan usaha-usaha sporadis dan parsial yang tidak menyelesaikan masalah-masalah umat Islam modern (masa kini). Terus-menerus menggunakan cara demikian adalah cara yang biasa ditempuh oleh para pelaku politik Islam yang berakhir dengan kesempitan-kesempitan yang tidak jauh berbeda dengan kesempitan-kesempitan lain yang sudah ada. Karena jika mereka tetap melakukan upaya dan usaha parsial (tidak menyeluruh) yang mengikuti cara pandang fiqh warisan tempo dulu, maka mereka hanya akan mendapatkan bahwa mereka hanya berputar-putar dalam sistem yang sama. Dan bila hal itu dikaitkan dengan Islam, maka tidak jauh beda dengan para penganut sosialisme dan liberalisme terhadap demokrasi dan kebebasan serta slogan-slogan lainnya yang biasa mereka teriakkan ketika berlomba untuk merebut kekuasaan. Sehingga jika mereka menyampaikannya, mereka hanya mengulang-ulang penafsiran dan bacaannya, mengkayyidkan kemutlakannya, serta memerinci keglobalannya dengan bentuk yang sesuai dengan selera masing-masing. Sehingga atas nama dan menurut tafsir mereka tentang demokrasi dan kebebasan, mereka membuka pintu penjara dan rumah tahanan bagi para penentangnya, memberangus kebebasan-kebebasan lain yang tidak mereka kehendaki, serta membiasakan dan melestarikan perampasan, perbudakan, penindasan, penyiksaan, dan penderitaan bagi manusia dan kemanusiaan.

Para Islamolog dan politikus Islam sebelum mereka adalah orang yang sama-sama menuntut untuk membersihkan diri dan menjaga agar tidak terjerumus ke dalam kebiasaan-kebiasaan tersebut. Karena tujuan Islam dewasa ini bukanlah menguasai manusia terhadap manusia lainnya, melainkan membacakann ayat-ayat Allah kepada manusia mengajarkan kitab dan hikmah agar mereka suci dan menyucikan diri serta membebaskan jiwa mereka dari tekanan-tekanan, sehingga mereka menjadi khlaifah dan pemakmur bumi ini yang dapat merealisasikan penghambaan dan ibadah mereka kepada Allah semata.

Jika kesulitan-kesulitan ini dapat diatasi –dengan cara dan bentuk yang islami–, maka selanjutnya akan dapat mengeluarkan umat Islam dari krisis pemikiran warisan tempo dulu atau kekininan, serta melakukan rekontruksi pemikiran Islam yang cerdas, bebas, otentik, dapat melakukan discoveri, dan cemerlang sebagaimana gaya pemikiran yang dibentuk oleh pemangku risalah Rasulullah Saw. Dengan Alquran sebagai sumber awal dan -sekaligus- pertimbangan akhir, dan juga segala urusan hanya diukur dan ditimbang oleh Sunnah Rasulullah Saw.

Jika reposisi wahyu dan hadis telah sempurna dilakukan, dalam arti upaya mengembalikan wahyu (teks yang biasa dibaca dan menjadi ibadah, yang menjadi mu’jizat walaupun satu ayat) sebagai referensi primer, serta memposisikan hadis sebagai penafsir dan penjelas, maka akal seorang muslim akan dapat mengungkap keistimewaan dan universalitas Islam, serta mengerti terhadap idealitas maksud dan tujuannya yang pasti dan memprioritaskan pada; tauid, tazkiyah, dan kemakmuran. Selanjutnya akan dapat direalisasikan pula maqasid syari’ah dan nilai-nilai Islam lainnya, seperti keadilan, kebebasan, kepercayaan, keamanan, persamaan, membebaskan manusia dan mengeluarkannya dari kungkungan makhluk lainnya untuk hanya tunduk kepada Sang Pencipta, mengeluarkannya dari kungkungan pengkhianatan agama-agama menuju keadilan Islam, dan dari kesempitan dunia menuju kelapangan dunia dan akhirat. Demikian keistimewaan-keistimewaan Islam dan kekhasan ummatnya yang dapat diungkap dan disimpulkan, antara lain sebagai berikut:

  1. Universalitas Islam dan sifatnya yang membumi. Keumuman risalahnya dan integralitasnya bagi seluruh manusia, di setiap waktu dan segala tempat. Adapun prasyarat yang dituntut untuk merealisasikan dan menampilkannya ke permukaan adalah adanya sikap lapang, membiasakan dan membuka diri terhadap segala struktur peradaban dan kebudayaan yang ada di dunia dan bergaul bersama-sama, memepercayai dan mengambilnya, serta berlomba untuk menjadi yang utama setelah mengunggulinya.
  2. Alquran yang berpungsi sebagai hakim dan batu uji serta pengawasan terhadap segala sesuatu adalah sumber dari segala sumber hukum, sumber primer bagi segala cara pandang dan pemikiran seorang muslim, segenap sikapnya, dan seluruh tindak-tanduknya.
  3. Syariatnya yang mudah, penuh rahmat adalah menghapus syari’at-syari’at pembebanan dan pembelengguan.
  4. Kenabian Rasulullah Saw. sebagai penutup risalah adalah penjelmaan dari seluruh risalah para nabi yang mencakup segenap petunjuk. Maka manusia tidak akan membutuhkan nabi lain atau wahyu lain lagi setelah itu.
  5. Umat Islam adalah umat yang tercipta sebagai umat ideal, umat percontohan yang dibentuk sebagai magnet dan komando bagi humanisme dengan petunjuk dan kebenaran.

Demikian, sejak awal Allah telah menjadikan umat ini bagi manusia, tidak membutuhkan apa-apa kecuali ulama yang ahli ibadah dan para mujtahid yang mampu memperbaharui pemahaman agamanya dan membumikan ayat-ayat Tuhan sesuai dengan kebutuhan realitas atau memposisikan realitas sesuai dengan nilai-nilai dan idealitas wahyu yang tinggi dan pasti, yaitu; tauhid, tazkiyah dan kemakmuran, walaupun sejarah dan sistem kehidupan sosial terus berubah, namun mereka tetap mampu dan dengan tepat memahami ayat-ayat Tuhan demi kebutuhan realitas, serta dapat memurnikan hakikat agama dari perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang melebihi batas dan dari aliran pemikiran para pembuat kebathilan, dan dari penyimpangan-penyimpangan orang bodoh di setiap waktu dan tempat. Mereka tetap mengetahui bagaimana mengikat manusia dengan Alquran dan Sunnah Rasulullah di setiap waktu dan tempat serta mengembalikan mereka kepada keduanya dengan cara yang baik.

Yang Mutlak, yang Nisbi, dan Maqasid Syari’ah

Pintu kenabian telah ditutup dan tidak ada keraguan dalam akidah mukmin manapun kecuali Qadiyaniyah dan orang-orang yang tidak mengakui Rasulullah Saw. sebagai penutup para nabi, mereka senantiasa menunggu seorang nabi penutup yang digambarkan sebagai Al Masih oleh Nashrani, atau Mesiah oleh Yahudi. Alquran senantiasa tetap mutlak dan terus menerus dalam kemutlakannya seiring dengan perubahan zaman dan perbedaan tempat. Sementara generasi manusia terus berganti, Islam dengan Alqurannya tetap memberikan cakrawalanya yang sangat luas dan pembaharuan-pembaruan seiring dengan perubahan zaman, di satu sisi. Di sisi lain Islam dengan Alqurannya adalah berfungsi sebagai pengemban akidah yang asli dan tetap, serta menjelaskan kaidah-kaidah syariatnya. Islam adalah risalah Tuhan yang diperintahkan untuk dipegang teguh oleh manusia sebagai agama sejak diwahyukan kepada nabi pertama hingga nabi penutup, tetapi dengan pemahaman yang integral, universal dan umum, serta sekaligus dengan pemahaman yang baru dan selalu baru dan terus-menerus dilakuakan terhadap Alquran yang kekal abadi dan terhadap Sunnah Rasulullah Saw. yang secara keseluruhan menggambarkan sebuah metodologi untuk memahami, menghayati dan mengikuti serta mengamalkan isi kandungannya bukan dengan cara taqlid buta dan tanpa reserve. Islam sesungguhnya melalui kaidah-kaidah tentang akhirat yang dikandung oleh Alquran adalah agama Allah yang tidak akan diterima jika seseorang mengambil agama selainnya, telah menjadikan Alquran sebagai penguji dan pengawas yang terus menerus terhadap yang lainnya. Karena jangkauan pemahaman manusia manapun pada masa apapun tidak mungkin meliputi dan mencakup atau menjadi penguji dan pengawas serta meletakkan kandungan isinya dengan utuh dan menyeluruh. Jika hal yang dibutuhkan berada di luar pengawasan kemutlakan Alquran dan diperkenankan untuk beralih kepada teks lain yang nisbi yang sesuai dengan kondisi waktu dan tempat, atau sejarahnya, maka kemungkinan pengawasan tersebut dimungkinkan oleh makna-makananya melaui tafsir-tafsir dan ta’wil manusia yang tunduk terhadap perubahan zaman, tempat, manusia, peristiwa-peristiwa, pengetahuan-pengetahuan, kebudayaan dan tradisi-tradisi.

Dengan demikian, Rasulullah Saw. tidak membuat absolut makna-makna Alquran yang mutlak dan tidak membakukannya dengan tafsir yang final dari diri beliau sendiri, melainkan ajaran-ajaran dan hukum-hukum Alquran itu ia jelmakan dalam sunnahnya dalam bentuk metodologi yang bisa diikuti dan dijadikan standar dan anutan, yang memang diperintahkan oleh Allah untuk mengikutinya. Hal ini jika berkaitan dengan ayat-ayat hukum yang sudah pasti. Namun, jika berkaitan dengan ayat-ayat yang secara mutlak sangat berhubungan dengan kondisi tempat dan zaman yang setiap generasi –dengan perkenan dan pertolongan Allah- mampu mengambil manfaat dari kandungan makna-maknanya yang tersembunyi yang dapat diungkap melalui penganalisaan dan pemikiran yang mendalam dan maksimal dan memang sudah menjadi keharusan, maka Sunnah Fi’liyah Rasulullah Saw. menggambarkan pemahaman dan penerapan yang sangat apik dan mendalam terhadap ayat-ayat al Quran, sedangkan sunnah qauliyah dan taqririyah Rasulullah Saw. menggambarkan penjelasan yang sangat mendalam terhadap ayat-ayat tersebut. Hal tersebut disebabkan oleh posisi perpaduan ketiga jenis Sunnah Rasulullah tersebut menggambarkan metode untuk mengikuti Rasululah Saw. Dalam hal ini, kita harus mampu membedakan antara meneladani dan mengikuti Rasulullah Saw. dalam arti al itba’ wa al iqtida wa al ta’assy dan mengikuti yang bersifat taqlid. Yang disebut pertama adalah berdasarkan argumentasi dan hujjah (dalil), sedangkan yang kedua hanya berdasarkan “katanya” dan “ikut-ikutan” tanpa alasan.

Dengan demikian, warisan keilmuan kita (turats al Islami) berada di bawah keabsolutan al Quran dan berada pada posisi nisbi yang tidak terlepas dari ruang dan waktu serta kebudayaanya yang khas, dan dipengaruhi pula oleh lingkungan sosial dan pemikirannya sendiri. Ketika kita memahami hal ini, dan pada waktu yang bersamaan kita memahami keistimewaan risalah Islam yang kekal dan abadi dengan kecerdasan logika yang integral dan yang mampu memahami nilai-nilai yang pasti dan maqasid syariah (idealitas al Quran) serta tujuan-tujuan utama agama, maka kita akan mampu mengungkap berapa banyak kelemahan warisan keilmuan (turats) kita dari berbagai sudut pandang.

Di dalam kitab-kitab tafsir, mungkin kita menemukan israiliyyat sebagai satu titik kelemahan yang sangat rawan, pelik dan berbahaya yang terselip sejak awal pengkodifikasiannya dan bercampur aduk bersama ilmu-ilmu Alquran yang masih berkembang pesat sejak masa pengkodifikasian tersebut. Memang benar, bahwa para pendahulu kita telah mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuannya, tetapi sebagian mereka mungkin telah meninggalkan sebagian warisan negatif.

Di bidang hadis, mungkin kita dapat mengungkap hadis-hadis palsu (maudhu’) yang disisipkan yang telah memecah belah persatuan umat yang terlepas dari standar dan batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh ulama hadis yang mendalam dari segi sanad maupun matan.

Di bidang kaidah-kaidah ushuliyah (ushul fiqh) dan hukum-hukum fiqh, mungkin kita menemukan sebagian pengaruh prinsip pembebanan (al ishr) dan pengekangan (al aghlal) yang telah Allah tetapkan bagi umat terdahulu (umat sebelum Rasulullah) yang oleh agama Islam telah dinasakh dan diganti dengan syari’at yang ringan (al takhfif) dan penuh rahmat (al rahmah). Dengan demikian, semua ahli ilmu dan para ulama dapat melakukan tugas dan kepentingannya, serta mampu konsentrasi sebagai peneliti profesional dan pengkaji spesialis agar di dalam Islam tidak terselip dan menyebar kepalsuan-kepalsuan yang seharusnya tidak termasuk di dalamnya untuk menjaga kemurnian dan kesucian risalah, sehingga kebenaran dan agama yang hak ini nampak dan mengalahkan agama-agama (yang sesat), dan agar relasi harmonis antara Alquran, alam, dan manusia tetap terjaga sehingga seluruh alam ini menjadi rumah yang aman untuk dihuni manusia dan agar nilai-nilai kebenaran, petunjuk, dan amanah ini seluruhnya dapat direalisasikan di dalamnya.

Di mana Bahaya Latin yang menyerang Islam Bersembunyi?

Allah telah menetapkan keistimewaan yang paling khusus bagi risalah penutup nabi (Islam) yaitu universalitas, sebagaimana Allah telah menetapkan syari’atnya sebagai syari’at yang ringan dan penuh rahmat. Hal ini terjadi sejak sebelum kenabian Rasulullah Saw. Keistimewaan –terutama prinsip ringan dan rahmat– ini telah banyak disebutkan dalam seluruh kitab, baik risalah Ibrahim, batu sabak (alwah) dan Taurat Musa, Injil Isa, dan suhuf-suhuf terdahulu. Keistimewaan ini terus berlangsung dalam jiwa-jiwa manuia sebelum Rasulullah Saw. diutus. Para ahli kitab di Jazirah Arab telah menginformasikannya kepada musyrikin Arab dan Allah telah menjadikannya risalah universal yang ditujukan untuk seluruh alam disertai dengan prinsip ringan dan rahmat, serta membuang prinsip pembebanan dan pengekangan, serta menasakh syari’at pemberatan dan pembelengguan sebagai dua khususiyyat yang membedakan Rasulullah Saw. yang ummi ini dari rasul-rasul lainnya. Beliaulah pembawa panji risalah Islam yang Universal, ringan, penuh rahmat, integral yang berdiri di atas dasar nilai-nilai mulia yang dipegang oleh seluruh manusia.

Teks yang paling jelas dan penting yang menunjukkan hal tersebut di atas adalah apa yang terdapat di dalam Surah Al A’raf yang di dalamnya menjelaskan peristiwa pengingkaran (murtad) Bani Israil secara kolektif dan tidak mau mengakui keuniversalan risalah Rasulullah dan kepastian kitabnya (Alquran) untuk seluruh manusia. Hal itu terjadi ketika mereka menyembah sapi buatan (al ‘ijl), kemudian mereka berlutut meminta ampun di hadapan Tuhan. Pada awalnya Musa As. mengampuninya dan memintakan ampun kepada Allah bagi mereka, serta menginginkan peringanan syari’at yang sebelumnya dirasakan sangat berat agar mereka tidak melakukan penyimpangan ibadah lagi dan tidak menggantinya dengan penyembahan terhadap sapi yang dibuat dari emas atau yang lainnya. Allah pun mengampuninya. Akan tetapi Allah menjelaskan dan menegaskan bahwa peringanan syari’at adalah merupakan karamah yang disimpan untuk kemanusiaan, yang tidak akan dideklarasikan kecuali ketika lahirnya Nabi Saw. yang ummi. Nabi yang ummi inilah yang diangkat oleh Allah untuk membawa syari’at yang ringan tersebut dan menghapus syari’at yang berat. Itulah tanda-tanda kenabian dan kerasulannya. Ayat-ayat yang terdapat di dalam Surah Al A’raf tersebut adalah :

Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon taubat kepada Kami) pada waktu yang telah kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari-Mu. Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya (155) Dan tetapkanlah untuk Kami kebajikan di dunia dan di akhirat, sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman terhadap ayat-ayat Kami (156) (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi meraka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Alquran), mereka itulah orang-orang yang beruntung (157) Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Menghidupkan dan Mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk (QS Al A’raf [7]: 155-157)

Demikian, sempurnalah kalimat Tuhamu sebagai kalimat yang benar dalam informasinya, dan kalimat yang adil di dalam hukum-hukumnya, maka Allah mengutus Nabi yang ummi kepada seluruh manusia dengan khithab yang universal dan kitab pasti yang mengandung sebuah syari’at yang menghapus syari’at-syari’at sebelumnya, yang memiliki prinsip peringanan (takhfif) dan kasih sayang (rahmat), menghapus prinsip pembebanan (ishr) dan pembelengguan (aghlal), baik secara global maupun pemerinciannya. Maka ketika hal tersebut jelas bagi Yahudi, mereka pun telah berkumpul di Jazirah Arab kira-kira tujuh abad sebelum kenabian (Rasulullah), sambil menunggu lahirnya nabi yang dijanjikan di antara mereka. Namun mereka telah terpedaya oleh tipuan mereka sendiri bahwa nabi tersebut hanya akan ada di tempat mereka dan kenabian tidak akan keluar dari kalangan mereka. Ketika hal tersebut tidak terbukti dan yang terjadi justru adalah pergantian yang merupakan sunnatullah, maka mereka dipenuhi oleh kedengkian. Merekapun mendapatkan bahwa keistimewaan mereka sebagai bangsa pilihan Tuhan telah berakhir, dan meyakini bahwa fase keunggulan mereka telah habis, maka mereka berusaha memasukkan tipuan-tipuan dan kepalsuan-kepalsuan secara langsung ke dalam Islam dan kepada Nabinya, padahal mereka mengetahui Nabi yang ummi sebagaimana mereka mengetahui anak-anaknya sendiri. Sebagaimana firman-Nya, Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Alkitab (Taurat dan Injil) mengenal mereka seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui (QS Al Baqarah [2]: 146)

Kedengkian mereka berkembang dan berubah menjadi kesepakatan-kesepakatan jahat dari berbagai sisi. Mereka berusaha memalsukan tanda-tanda kenabian dan sifat-sifat nabi terakhir. Antara lain; mencabut prinsip peringanan dan kasih sayang dari syari’at Islam yang menghapus prinsip pembebanan dan pembelengguan, dan berusaha menyamarkan seputar kemutlakan Alquran dan kemuliaan teksnya serta adanya penjagaan dan jaminan Allah terhadapnya. Mereka menyisipkan sebagian prinsip pembebanan dan pembelengguan di dalam pembentukan syari’at agar bercampur dengan prinsip aslinya yaitu ringan dan penuh kasih sayang. Mereka membuat kebohongan-kebohongan yang mencacati keaslian dan keterjagaan Alquran dan ayat-ayatnya dan bagaimana mengumpulkannya, menyusunnya agar terkesan bahwa Alkitab (kitab mereka) adalah kitab penguji dan pengawas yang tidak ada kebathilan (dulu, kini, dan nanti) di dalamnya, serta pemalsuan tentang kema’shuman Nabi yang ummi; Rasul penutup dengan berbagai cara. Sebagaimana Allah berfirman,

Sekelompok (lain) dari ahli kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran) (72) Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu.” Katakanlah: “Sesungguhnya karunia di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehenaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (73) Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar (QS Ali Imran [3]: 72-74)

Usaha
Yahudi dalam Membusuki Warisan dan Ilmu Pengetahuan Islam.

Sejak awal, Yahudi berangkat dari ayat-ayat yang termaktub di dalam Alquran sendiri bahwa Alquran adalah berfungsi sebagai pembenar atau yang membenarkan (mushaddiq) terhadap kitab-kitab samawi yang mendahuluinya termasuk di dalamnya Taurat, Wa Aaminuu bimaa Anzaltu Mushaddiqan limaa ma’akum wa laa Takuunuu Awwala Kaafirin bih wa laa Tasytaruu bi Aayaatii Tsamanan Qaliilan Wa Iyyaaya fa-ittaquuni (Dan berimalah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Alquran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit, dan hanya kepada Allah kamu harus bertaqwa) (QS Al Baqarah [2]: 41) dan ayat lain, Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku (QS Ali Imran [3]: 50). Mereka (orang-orang Yahudi) menafsirkan kata Tashdiq atau mushaddiq (Pembenar/yang membenarkan) dengan legitimasi atau adanya kesesuaian dan pengukuhan bahkan ikut-ikutan dalam sesuatu yang sudah ditetapkan sebagai kebenaran, dan mereka menjadikan Taurat sebagai referensi dan rujukan bagi Alquran, sambil pura-pura tidak tahu terhadap perubahan-perubahan yang begitu jelas dan mencolok yang mereka masukkan ke dalamnya. Perubahan yang mereka lakukan sampai pada skala yang jika Musa masih ada dan mengetahuinya tentu ia akan mengingkarinya. Mereka juga pura-pura tidak tahu dan melewatkan begitu saja fungsi Alquran sebagai alat untuk mengevaluasi dan sebagai mengawasi (haimanah/muhaimin) terhadap kitab Taurat, serta menghapus hukum-hukumnya. Mereka tidak mengakui adanya penghapusan tersebut terhadap syari’at mereka, baik akli maupun nakli. Dan mereka pura-pura tidak tahu bahwa pembenaran Alquran terhadap kitab-kitab samawi atau apa yang dibenarkan oleh Alquran dalam kitab-kitab samawi yang tertera di dalam alquran adalah pembenaran terhadap sesuatu yang tetap dan permanen tentang kesamaan risalah semua rasul yaitu, iman kepada Allah dan mengesakannya baik dalam tauhid rububiyyah, uluhiyyah dan asma wa sifat-Nya, sedangkan pengawasan Alquran adalah ia mengevaluasi kitab-kitab sebelumnya dengan membersihkannya dari berbagai penyelewengan, perubahan dan pergantian. Alquran adalah sumber bagi seluruh kitab yang sebelumnya, bukan sebaliknya. Dengan demikian pembenaran (tashdiq/mushaddiq) tersebut sangat berkaitan erat dengan pengawasan dan evaluasi (haimanah/muhaimin) dan penghapusan syari’at-syari’atnya yang berdiri di atas dasar pembebanan dan pembelengguan. Hal tersebut ditegaskan dalam firman-Nya,

Dan Kami telah menurunkan kepadamu Alquran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu (kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, tentulah menjadikan kamu satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu dengan apa yang diberikan kepadamu (QS Al Maidah [5]: 48)

Dengan demikian, Alquran merupakan pembenar dan membenarkan serta merupakan batu uji terhadap kitab-kitab sebelumnya. Tidak mungkin ada perubahan. Ia juga merupakan hakim terhadap apa yang ada, menghapus pembebanan dan pembelengguan, dan keterikatan-keterikatan yang ada. Dalam ari, pembenaran tersebut tidak berarti tunduk dan menerima terhadap pokok-pokok isi kandungan kitab-kitab samawi sebelumnya yang telah diubah, melainkan mengevaluasi dan mengadakan perbaikan yang mengembalikan hakikat kebenaran dan keaslian serta pokok-pokok yang sama dan tetap yang terdapat di dalam kitab-kitab tersebut, serta membersihkannya dari penyimpangan dan penyelewengan dan mengembalikan apa yang sudah dihilangkan. Allah berfirman:

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dam Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (QS Al Maidah [5]: 13)

Tashdiq berarti mengembalikan kepada hakikat aslinya agar kembali kepada keadaan yang sebenarnya sebagaimana Allah menurunkannya, bukan membenarkan terhadap apa yang sudah diubah dan diselewengkan yang mereka tulis sendiri dengan tangannya dan memasukkannya ke dalam kitab-kitab mereka dan diakuinya sebagai kebenaran. Tashdiq juga berkaitan erat dengan menjaga dan melestarikan hakikat kebenaran, dan keaslian kitab-kitab tersebut dengan standar hukum Alquran. Oleh karena itu, Allah berfirman, Innaa Nahnu Nazzalnaa al dzikra wa Inna lahuu Lahaafidzuun (Sesungguhnya Kami telah menurunkan al dzikra (Alquran) dan sesungguhnya Kami adalah Yang Menjaganya) (QS Al Hijr [15]: 9). Al Dzikr pada ayat tersebut secara mutlak mencakup kebenaran-kebenaran yang sama-sama diakui oleh Alquran dan kitab-kitab sebelumnya, yaitu kebenaran dan hakikat yang telah ditentukan yang tidak mungkin ada perubahan atau penyimpangan, seperti tauhid dan nilai-nilai lurus lainnya. Dengan demikian, kitab-kitab samawi sebelumnya setelah di-tashdiq oleh Alquran dan pokok-pokok serta keasliannya telah dikembalikan melalui pengawasan Alquran, kemudian dijaganya, maka Alquran pun menjaga dan melestarikan al Dzikru (hakikat-hakikat, kebenaran-kebenaran, dan nilai-nilai) yang telah didatangkan oleh seluruh para rasul. Allah Swt berfirman:

Dan sempurnalah kalimat Tuhanmu sebagai kalimat yang benar dan adil, tidak ada yang dapat merubah kalimat-kalmat-Nya, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Al An’am [6]: 115)

Yahudi berangkat dari pengertian tashdiq, kemudian mereka mengubahnya dan membongkar muatannya serta memenuhinya dengan makna-makna yang berlawanan demi membenarkan pusaka warisan mereka, yang tidak disertai dan dikaitkan dengan pengertian haimanah; mengembalikan kepada aslinya dan penghapusan. Bahkan sebaliknya, mereka menjadikan kitab-kitab mereka yang telah mengalami perubahan dan berisi syari’at-syari’at pembebanan dan pembelengguan itu sebagai batu uji dan pengawas (haimanah) terhadap Alquran, dan sebagai referensi untuk menafsirkan ayat-ayatnya. Oleh karena itu, tidak aneh jika sejumlah israiliyyat masuk menyelusup ke dalam warisan keilmuan dan berbagai pengetahuan kita. Bahkan para ahli Ushul Fiqh kita telah membuat sebuah kaidah: “Syar’un Man Qablana Syar’un lanaa Maa lam Yarid Naasikh (Syari’at orang-orang sebelum kita adalah syari’at bagi kita selama tidak ada nasikh), yakni penghapusan secara parsial (juz’iy) yang ditentukan, tanpa adanya penganalisaan terhadap pertentangan dan berbagai pendapat tentang kaidah ini.

Yahudi telah berusaha dengan mengerahkan segenap dana dan daya serta upayanya untuk menyerang langsung terhadap Alquran, dengan anggapan bahwa Alquran sama seperti kitab-kitab samawi lainnya yang dapat mereka ubah. Mereka juga berusaha keras untuk melakukan penyelewengan terhadap keistimewaan syari’at Islam, agar berubah dari prinsip peringanan dan kasih sayang menjadi pembebanan dan pembelengguan. Mereka telah berusaha mengejek kehormatan dan kesucian teks Alquran, mereka mengira bahwa dengan kemampuannya mereka mampu mencapai sedikit kesuksesan sebagaimana mereka lakukan terhadap kitab-kitabnya sendiri. Namun ternyata, mereka menemukan bahwa Alquran menjaga dirinya sendiri secara intern melalui susunannya, terpelihara melalui ungkapan dan balaghahnya, kemu’jizatannya terjaga dalam berjuta-juta dada umatnya, jika dibandingkan dengan berbagai penghapusan yang diabadikan oleh teks Alquran, tidak mungkin disusupi oleh perubahan dan pemelsuan. Yahudi tidak mampu merealisasikannya sedikitpun, usahanya kembali gagal dan rugi. Jika setan telah putus asa untuk disembah di Jazirah Arab, maka ia rela untuk dipuja di tempat lain. Yahudi telah rela dengan hal lain walaupun gagal mengubah teks Alquran yang dijaga oleh Allah, baik kehormatan dan kesuciannya, cahayanya, susunannya, kebalaghahannya, maupun kemu’jizatannya. Kemudian Yahudi sengaja masuk ke dalam lapangan tafsir dan ta’wil yang beraneka, dan sengaja melakukan penyimpangan-penyimpangan riwayat yang mengandung kesamaran dan keraguan yang nampak antara sebagian kisah Alquran dengan masalah-masalah akhirat, dan menghadapkannya ke dalam Taurat. Demikian pula masalah-masalah yang campur aduk yang berkaitan dengan masalah penciptaan (makhluq), alam, manusia, dan masalah-masalah lainnya. mereka masuk ke wilayah pembahasan-pembahasan detail yang mereka senangi dan memenuhi khayalan mereka yang sakit dengan usaha-usaha perubahan, pengubahan, dan penyimpangan-penyimpangan dalam bab-bab khusus dalam syari’at.

Tujuan dan Target Yahudi

Sejak pertama, target dan tujuan Yahudi hanya bersifat defensif. Mereka telah menetapkan target dan tujuan-tujuan tersebut dalam bentuk menutupi generasinya untuk mengenal Islam dan risalah nabinya yang ummi. Dengan segenep kemampuan dan kekuatannya mereka berkonsentrasi untuk menganggap cukup apa-apa yang ada dalam Taurat bahwa Muhammad Bin Abdillah bukanlah nabi yang diinformasikan oleh Musa As. di gunung (Sinai) yang dilengkapi dengan sifat-sifat dan keistimewaan syari’atnya. Untuk tujuan ini, mereka tidak membiarkan sebuah media dan satu langkahpun kecuali ditempuhnya, dan dengan sekuat tenaga berusaha menentangnya. Di garis terdepan langsung dipimpin oleh para rahib dan kaum intelektualnya. Mereka berusaha mengubah dan membuang sifat-sifat Rasulullah yang ada di dalam Taurat, padahal di sana disebutkan bahwa, “Risalahnya adalah universal, memiliki prinsip mudah dan penuh rahmat, bersifat ummi –sebagaimana disebutkan oleh Allah Swt.—kepada Musa dan tujuh puluh pengikutnya di gunung Sinai”. Mereka berusaha menyimpangkannya dan membuat penjelasan-penjelasan (syarah) kitab Taurat dan Talmud serta keterangan-keterangan pendukung untuk merealisasikan tujuannya dan menyebarluaskan warisan dan tradisi budaya mereka.

Dengan demikian, tujuan pertama yang bersifat defensif tersebut ternyata sukses dengan bukti sedikit sekali orang-orang Yahudi yang masuk Islam.

Adapun tujuan kedua adalah mengoyak-ngoyak barisan kaum Muslimin secara langsung. Usaha ini sangat beragam, antara lain upaya yang jelek ini direkam oleh Alquran QS Ali Imran 3: 72-74:

Sekelompok (lain) dari ahli kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran) (72) Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu.” Katakanlah: “Sesungguhnya karunia di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehenaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (73) Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar (QS Ali Imran [3]: 72-74)

Jika tujuan pertama yaitu defensif berlangsung pada masa-masa kenabian, maka tujuan kedua ditempuh setelah Rasulullah Saw. wafat dan setelah masa-masa Khulafaurrasyidin serta setelah meluasnya kedaulatan Islam, yaitu sejak daratan Andalus termasuk ke dalam naungan daulah Islamiyyah yang mencapai puncak kejayaan dalam peradaban dan kebudayaan yang lebih tersusun rapi dan terkoordinasi dengan baik dibanding Mesir.

Bentuk-bentuk Usaha Yahudi dalam Lapangan Pemalsuan

Setiap komunitas yang hendak melakukan perubahan dan bertujuan untuk menyesatkan komunitas lain -mau tidak mau- harus membuat sebuah pengantar atau pintu masuk yang baik berupa metodologi pemikiran yang dimaksudkan untuk mengoyak-ngoyak sistem pengetahuan guna menyempurnakan usaha penyimpangan dan perubahan tersebut sebagai refensi doktrin dan akidah, dan agar usaha penyimpangan dan perubahan tersebut menjadi referensi yang kokoh dan menyeluruh.

Usaha ini ditempuh melalui penyimpangan pengertian “Tashdiq al Kitab limaa Baina Yadaihi (Alquran adalah yang membenarkan terhadap kitab yang ada padanya) disertai oleh kebodohan atau dengan pura-pura bodoh, mereka memalingkan pengertian tentang sifat Alquran yang sebenarnya yaitu sebagai batu uji dan pengawas (muhaimin) bagi apa-apa yang ada pada mereka, serta syari’at dan manhajnya yang mengubah dan menghapus syari’at dan manhaj-manhaj kitab-kitab sebelumnya. Pengabaian dan lalai tentang pengertian-pengertian al Dzikru dan batasan-batasan penjagaannya adalah merupakan pengaruh-pengaruh yang sangat berbahaya dan sudah mengkronis dalam pemikiran kita sebagai kaum Muslimin, bahkan terhadap seluruh sistem pengetahuan kita. Jika tidak demikian, maka para ahli ushul fiqh kaum muslimin tidak mungkin melahirkan kaidah “Syarun man Qablana” yang dianggap sebagai “syariat kita selama tidak ada yang mengubahnya atau menghapusnya“. Mereka (yahudi) telah pura-pra tidak tahu dan menutup mata terahadap eksistensi Alquran sebagai penghapus (secara menyeluruh) terhadap syari’at-syari’at sebelumnya dan agar mereka dapat memastikan bahwa umat Islam sibuk berusaha meneliti dan membahas tentang penghapusan-penghapusan secara parsial atau bagian-bagian tertentu saja yang seolah-olah dengan kaidah yang parsial ini dijadikan referensi primer dan asal yang harus dipegang, baik sebelum maupun setelah masa-masa kenabian ditutup. Rupanya, sebagian fuqaha kita mengangap kaidah ini sebagai salah satu cabang yang membentuk fiqh kita sehingga menjadi salah satu bagian dari fiqh Islam. Salah satu contoh yang baik untuk masalah ini dapat dilihat dari sebagian pembahasan tentang masalah “luka-melukai” (fiqh al juruh wa al Syajaj) dan hukum-hukumnya, yang didasarkan atas firman Allah Swt. yang menceritakan tentang apa yang diwajibkan kepada Bani Israil, Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat) bahwasannya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, gigi dengan gigi, dan luka-luka pun ada qishasnya….(Qs Al Maidah [5]: 45). Demikian pula sebagian hukum-hukum yang banyak terdapat di dalam berbagai bab dalam kitab fiqh, antara lain pernikahan dan hubungan kekerabatan antara jin dan manusia yang telah dibukakan pintunya kepada umat Islam dan tidak mungkin dapat ditutup kembali hingga saat ini.

Penyimpangan dan Pemalsuan Hadits

Adapun di bidang hadis, usaha penyimpangan dan cetak budaya dimulai ketika tersebar dan tersusun apa yang diriwayatkan oleh Al Bukhary danTurmudzy dari Abdullah bin Amr bin al ‘Ash bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Sampaikanlah dari aku walaupun satu ayat, dan bicarakanlah dari Bani Israil dan tidak ada dosa (La Harj), barang siapa membohongkan atas namaku dengan sengaja maka bersiap-siaplah tempatnya dalam neraka.” Ibnu al Atsir dalam kitabnya Jami’ al Ushul mengungkapkan kebingungannya tentang bagian dari hadis ini, ia mengungkapkan “Al Harj itu berarti al Dhaiq (kesempitan) dan al Itsm (dosa), apa yang kamu maksudkan dengan hadis tersebut adalah ketika kamu membicarakan tentang Bani Israil, keadaan mereka memang jelek, bahkan jauh lebih jelek dari yang kamu katakan, maka tidak ada dosa dan tidak usah merasa keberatan bagimu dengan apa yang kamu katakan tentang mereka.”

Ibnu al Atsir ingin mengatakan bahwa hadis ini menurutnya adalah apa yang kamu katakan, bahwa “Segala sesuatu yang berkaitan dengan Bani Israil adalah tidak akan berdosa karena mereka jauh lebih jelak”.

Menurutku sulit sekali untuk menerima makna yang dikemukakan Ibnu al Atsir, jika dilihat dari redaksi dan ungkapan hadis tadi. Dan jika tidak ada catatan sebelum dan sesudahnya, Ibnu Al Atsir telah membantah dengan penjelasan berikutnya, bahwa, “Ungkapan ini tidak menunjukan kepada kebolehan berbohong tenteng inormasi dari Bnai Israil dan tidak adanya dosa dari orang yang menukil kebohongan dari mereka, melainkan maknanya adalah keringanan (rukhshsah) untuk membicarakan tenteng keadaan Bani Israil. Walaupun hal tersebut tidak sesuai dengan kaidah periwayatan, karena hal itu sudah terjadi begitu lama.”

Menurut saya, yang dimaksud dengan hadis di atas adalah bahwa akal seorang muslim yang munundukkan hadis-hadids dan sunnah rasulullah Saw. kepada kebenaran di jazirah Arab harus dipersiapkan untuk mempermudah menerima warisan Bani Israil dan siap terbuka untuk menggelutinya dan tidak harus disertai dengan periwayatan, karena memang sudah lama terjadi. Kemudian Ibnu al Atsir meriwayatkan sebuah hadis yang dikelurkan oleh Abu Daud dalam bab Al Hadis ‘an Bani Israil melalui riwayat Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda, “Bicarakanlah tentang/dari Bani Israil dan tidak ada dosa.” Ibnu al Atsir tidak memberi komentar sedikitpun.

Adapun al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalany telah memberi komentar terhadap hadis tersebut, yakni tidak apa-apa kamu sekedar membicarakan tentang mereka, karena yang ada adalah larangan dari Rasulullah Saw. untuk mengambil dari mereka dan memikirkan kitab-kitab mereka. Namun, selanjutnya terdapat keleluasaan, seolah-olah larangan Rasulullah tersebut terjadi sebelum ditetapkannya hukum Islam dan kaidah-kaidah keagamaan, karena takut terjadi fitnah. Sehingga hilanglah larangan tersebut dan lahirlah izin untuk mendengarkan dan mengambil pelajaran dari informasi yang telah ada pada zaman mereka.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa makna “la haraj” adalah: janganlah kamu mempersempit dada terhadap keanehan-keanehan yang kamu dengar dari mereka, karena hal itu memang banyak terjadi. Pendapat lain lagi mengatakan: tidak apa-apa untuk tidak membicarakan tentang mereka, karena redaksi nya didahului oleh kalimat “hadditsuu (bicarakanlah oleh kamu)”yang berbentuk perintah (amr) yang berarti menunjukkan wajib, maka hal itu menunjukkan ketidakwajiban. Namun selanjutnya amr tersebut hanya menunjukkan kebolehan, karena diakhiri oleh kata “la haraj (tidak ada dosa).”

Ada lagi pendapat yang mengatakan, bahwa yang dimaksud adalah menghilangkan keberatan dari orang yang membicarakan tentang informasi Bani Israil yang banyak dibumbui oleh kat-kata kotor, sepeti, Idzhab anta wa rabbuka fa qaatilaa (Pergilah kamu [Musa] dan Tuhanmu, dan berperanglah kalian berdua)” dan “Ij’al lanaa ilaahan (buatlah satu tuhan (lain) untuk kami)”. Menurut saya, inilah Alquran yang dibacakan dan yang hendak disampaikan oleh Ibnu Hajar.

Ada lagi yang berpendapat, bahwa yang dimaksud Bani Israil adalah keturunan Israil yang mereka itu adalah merupakan keturunan Ya’kub. Jadi yang dimaksud adalah bicarakanlah dari/tentang mereka disertai dengan kisah tentang saudara mereka; Yusuf. Namun, ini pengertian yang jauh sekali.

Imam Malik berpendapat, bahwa yang dimaksud adalah adanya kebolehan membicarakan dari/tentang mereka jika berkaitan dengan perkara-perkara yang baik. Adapun jika jelas kebohongnnya, maka tidak boleh.

Sebagian pendapat ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah bicarakan dari/tentang meraka seperti apa yang ada di dalam Alquran dan hadis shahih. Pendapat lain lagi mengatakan adanya kebolehan membicarakan tentang/dari mereka dengan bentuk apapun, karena memang periwayatnnya ada yang terputus dan ada yang bersambung.

Imam Syafi’iy berpendapat yang jelas adalah bahwa Rasulullah Saw. tidak membolehkan berbicara bohong, maka yang dimaksud adalah bicarakanlah dari mereka apa yang kamu ketahui ketidakbohongannya. Adapun apa yang menurut kamu bisa trejadi kebohongan, maka tidak apa-apa membicarakannya dengan syarat disertai oleh penjelasan. Inilah yang dimaksud dengan hadis lain, “Jika ahli kitab meriwayatkan kepadamu, maka kamu tidak boleh mempercayainya dan tidak boleh membohongkannya.” Dan tidak ada izin atau larangan untuk meriwayatkan apa yang sudah jelas kebenarannya.

Menurut saya, “Akan tetapi bagaimana bisa memastikan kebenaran informasi dari sebuah bangsa pembohong dan pembuat bid’ah? dan apa yang untung dan pentingnya, padahal kita memiliki kitabullah yang kita tidak membutuhkan lagi informasi dari mereka, dan mengapa kita harus merasa dibebani oleh pena’wilan-pena’wilan yang disodorkan oleh para Ulama besar?.

Inilah yang disampaikan oleh Ibnu al Atsir atau Ibnu Hajar dari para ulama. Hal ini merupakan usaha untuk mengobati riwayat-riwayat yang dihafal oleh masyarakat yang mengetahui ayat-ayat Alquran dan realita selama sejarah mereka dengan membuat kebohongan dan menisbatkannya kepada Allah Swt. Hal ini ditegaskan oleh Alquran, Wayaquuluuna ‘ala Allah al Kadziba wa hum Ya’lamuun ( dan mereka berkata dusta atas nama Allah, padahal mereka mengetahui) (QS Ali Imran [3]: 75) dan ayat, Wayahlifuuna ‘ala al Kadzibi wa hum Ya’lamuun (Dan mereka bersumpah bohong padahal mereka mengetahui) (QS Al Mujadilah [58[:14)

Jelas, bahwa para ulama telah menghafal di dada mereka dan merasa seolah-lah riwayat tersebut merupakan – apa yang dengan bahsa modern mengerah kepada- “Harmonisasi hubungan syari’at dan budaya dengan Yahudi.” Mereka menyebutkan seluruh pena’wilan-pena’wilan, baik yang dekat atau yang jauh, karena hadis tersebut shahih dari segi sanad. Perhatikan, seandainya standardisasi kritik matan merupakan perhatian para ulama sebagaimana terhadap ulum al isnad dan memahami kaidah-kaidah dan metodologi ilmu pengetahuan yang sesuai dengan Alquran untuk mengkaji dan meneliti masalah besar seperti ini, apakah para ulama tersebut akan membutuhkan peana’wilan-pena’wilan tersebut?. Barangkali meraka tidak akan membutuhkannya, dan barangkali kita akan terhindar dari kegoncangan dan kerancuan pemikiran serta dari budaya mengada-ada.

Alquran –sebenarnya- telah mencakup metodologi ilmu pengetahuan yang lengkap dan syari’at yang sempurna. Dan dengan itulah agama menjadi lengkap. Alquran pun telah menghapus seluruh eksperimen israiliyat. dan apa-apa yang diperkirakan sebagai bagian dari risalah para nabi telah dibersihkan, dimurnikan, dan dikembalikan kepada aslinya. Dengan demikian, melalui ayat-ayatnya yang pasti alquran telah memposisikan dirinya sebagai kalimat yang benar dan adil. Rasulullah Saw. pun telah datang dengan kebenaran dan membenarkannya. Alquran dan Sunnah Rasulullah Saw saling mempertegas dalam mengajak kaum muslimin untuk menenntang mereka dalam segala hal sekecil apapun. Dan seluruh manusia telah diperintahkan untuk mencari Islam saja sebagai agama serta memastikan bahwa Allah tidak akan menerima yang lain, Waman Yabtaghi Ghaira al Islami Diinan fa lan yuqbala minhu wa hua fi al akhirati min al khaasiriin (Dan barang siapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima, dan dia di akhirat temasuk orang yang rugi) (QS Ali Imran [3]: 85). Dengan demikian, di sini tidak membutuhkan adanya pengambilan warisan-warisan bohong dari Yahudi atau sekedar membicarakannya atau meriwayatkan kebohongan-kebohongan mereka tasa nama dan dinisbatkan kepada Allah Swt, nabi-nabi-Nya, dan syari’at-syari’at-Ny atau mempermudah setiap ilmu riwayat dan dirayah demi mempermudah pengambilan warisan mereka yang sakit. Allahumma, kecuali pengambilan riwayat tersebut sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Alquran agar hati-hati menghadapi mereka dan mengingatkan aib dan kejahatan mereka atau mengambil pelajaran dari informsi mereka yang benar yang dibenarkan pula oleh Alquran. Jadi, apalagi yang menjadi dorongan dan kebutuhan untuk membuka warisan keilmuan mereka pada fase kejayaan Islam?.

Rasulullah Saw. sangat mewanti-wanti kepada ahli ilmu, fuqahaa, dan orang-orang yang memiliki mata hati dan hikmah seperti Umar bin al-Khattab untuk tidak membaca kitab-kitab mereka. Bagaimana dengan kita?. Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “La tas’aluu ahla al Kitabi ‘an syaiin fa inna hum lan yahduukum wa qad dlalluu, fa innakum imma an-Tushaddiku bi-Baathilin au Tukadzdzibuu bi-Haqqin fainnahu lau Kaana Muusa Hayyan baina Azharikum maa Halla lahu illa an-Yattabi’anii (Janganlah kamu bertanya kepada ahli kitab tentang sesuatupun, karena mereka tidak akan memberikan petunjuk kepada kamu, yang mereka sendiri telah sesat. Sebab sesungguhnya kamu (bisa jadi) membenarkan sesuatu yang bathil atau membohongkan sesuatu yang benar, karena jika saja Musa hidup di masa kamu (sekarang), maka ia tidak akan mengambil posisi, kecuali mengikutiku).

Imam Baihaqi di dalam kitabnya Syu’bu al Iman telah meriwayatkan, dari Abdullah bin Al Harits sebuah hadis Rasulullah, “Lau Nazala Musa fa-ittaba’tumuuhu wa Taraktumuunii la-Dhalaltum, Ana Hadzukum min al Nabiyin wa Antum Hadzdzi min al Umam (Jika Musa turun, kemudian kamu mengikutinya dan meninggalkanku tentu kamu akan sesat, karena akulah nabi bagi kamu dan kamu umat bagiku).

Al Manawy ketika menjelaskan hadis ini ia berkata: “Jika Musa turun” maksudnya adalah dari langit ke dunia “Kemudian kamu mengikutinya dan meninggalkanku, tentu kamu akan sasat” maksudnya adalah tentu kamu akan menyimpang dari jalan yang lurus, karena syari’atku telah menghapus syari’atnya.

Al Raghib al Ashfahany menjelaskan bahwa kata al dhalal berarti al ‘udhul anil istiqmah (Menyimpang dari yang lurus) dan berlawanan dengan al Hidayah. Sedangkan kalimat “Ana Hadzukum min al Nabiyin wa Antum Hadzdzi min al Umam” maksudnya adalah bahwa Allah Swt. telah menghadapkan wajahmu untuk mengikutiku dan meghadapkan wajahku untuk menyeru kamu padanya.

Al Harany berkata: “Jika hal itu terjadi pada Musa, maka orang-orang yang mengambil agamanya, berarti mereka juga demikian, alasannya adalah Rasulllah Saw. adalah yang awal dan yang akhir melalui penegasan Allah Swt. sebagai makhluk tertinggi yang dicintai-Nya untuk mereka ikuti.”

Yang lain berpendapat bahwa tidak harus memperkirakan dengan turunnya Musa berarti memperkirakan lenyapnya Rasulullah Saw. dan beralihnya Rasulullah dari risalahnya, karena jika ia turun tentu ia turun sebagai nabi dan membawa risalahnya sendiri, dan Rasulullah pun membawa syar’iatnya sendiri, sebagaimana terjadi pada masa Ibrahim; Ibrahim bukan Luth dan Luth bukan Ibrahim. dan seperti pada zaman Isa; Isa bukan Yahya, Yahya bukan Isa. Jadi maknaya adalah jika Musa sezaman denganku, tentu kamu harus mengikutiku, karena jika kamu meningglkan apa yang diperintahkan kepadamu maka kamu akan sesat dan merugi.

Jika para fuqaha dan kaum intelek pada masa sahabat sampai beakhirnya dua khlifah; Abu Bakar dan Umar diwanti-wanti melalui hadis Rasulullah Saw. yang sangat banyak agar tidak sibuk dengan sesuatu selain Alquran, sehingga mngabaikan Alquran, walaupun hal itu merupakan penjelas Alquran dan terjemah makna-maknanya dengan baahasa kenabian.. Bisa dibayangkan bagaimana mereka tidak mudah untuk mengambil riwayat dari Bani Israil tanpa sanad dan membuka warisan keilmuan Yahudi yang telah menyimpang tanpa metode kritik yang diajarkan oleh Alquran sebagai filter untuk memisahkan yang baik dari yang buruk. Jadi, penelitian hadis harus disertai dengan penelitian terhadap kisah yang melatarbelakanginya atau asbab al wurud, jika ada. Jika hadis itu shahih, maka hadis itu akan jelas sebagaimana jika hadis tentang kebebasan untuk membicarakan tentang Bani Israil atau meriwayatkan dari mereka ada asbab al wurudnya, sebagaimana telah saya jelaskan.

Penyimpangan Ilmu Pengetahuan

Coba anda perhatikan dan analisa, apakah hadis tersebut merupakan sebab untuk membuka bab selanjutnya yang berhadapan dengan aktifitas pemalsuan ilmu pengehuan yang telah diketahui secara umum dan senantiasa saling mempengaruhi? Apakah hadis tersebut satu-satunya media yang memecahkan “batas psikologi” antara kaum Muslimin dan riwayat Israiliyat? Kemudiann memenuhi kitab-kitab tafsir dan sejarah Islam secara khusus dengan Israiliyat? Bahkan membuka bab-bab fiqh Islam dan ushul fiqh di beberapa bagian? Maka keistimewaan syari’at penutup ini mulai memasuki tahap diabaikan .

Hadis tersebut memiliki banyak kandungan makna. Dengan inilah pemikiran kolektif Yahudi yang cerdas dan kuat telah merasa bangga. Sedangkan kaum Muslimin sampai generasi salaf akhir telah terbentuk menjadi masyarakat negatif, seolah-olah mereka bersikap di hadapan musuh dengan sikap apatis dan statis tanpa kepedulian. Hal tersebut memberikan peluang kepada musuh untuk melakukan pemalsuan kapan dan bagaimana mereka mau, dalam bentuk apapun yang mereka inginkan. Masalah ini harus diletakkan secara proporsional tanpa berlebihan. Untuk kepentingan itu harus sedikit kembali ke masa sebelum kenabian, kemudian beralih kepada posisi bangsa Arab dan keadaan negara mereka pada masa kenabian, agar permasalahannya jelas.

Muhammad ‘Izat Druz telah menyimpulkan banyak riwayat dari berbagai sumber berbahasa Arab lama yang dibantah oleh riwayat-riwaya dan sumber-sumber lain bahwa kelompok-kelompok Bani Israil telah tiba di berbagai kawasan Hijaz sejak lama dan mayoritas mereka menetap di Yasrib melalui jalur Palestina. Sebagian mereka mondar-mandir ke Makkah, atau bahkan menetap di Makkah. Mereka mempelajari bahasa Arab dan berbaur di dalam kehidupan bangsa Arab dan tradisi mereka. Dengan demikian, mereka memiliki posisi sebagai penolong, dicintai dan digemari dan memiliki pusat-pusat kekuatan. Merekapun menyebarkan banyak ilmu tentang agama-agama, syari’at-syari’at, informasi bangsa-bangsa, kejadian-kejadian alam dan tentang agama samawi yang mereka anut, serta kitab yang dinisbatkan kepada Allah Swt. dan rasul-rasul mereka yang mereka pegang teguh. Mereka juga merasa bangga dan mulia serta memberikan pengetahuan kepada bangsa Arab, bahkan mereka mengelabuinya. Mereka dengan jelas bersikap sombong dengan ilmu pengetahuan yang mereka miliki walaupun bersisi kepalsuan. Dan meyakini bahwa mereka adalah kekasih Allah Swt. dan pemangku kehormatan. Hal itu sangat besar pengaruhnya terhadap bangsa Arab, dan dengan sebab itulah Yahudi memiliki posisi istimewa sehingga menjadi hakim dan pemberi petunjuk. Mereka dianggap sebagai elit agama yang memiliki banyak tempat ibadah, pendeta, rahib dan madrasah-madrasah. Merekapun memiliki pengaruh besar terhadap generasi penerusnya sebagaimana terhadap para pendahulunya, sehingga sebagian dari mereka menjadikan jabatan dan kekuasaannya sebagai sarana untuk mengumpulkan harta dengan cara yang bathil, merekapun menggunakan sihir dan sulap. Mereka memiliki banyak pemukiman, walaupun kebanyakan tinggal di tempat khusus di kota Madinah dengan dikelilingi oleh benteng dan pagar. Sebagian lagi tinggal di daerah pertanian dan kampung-kampung di luar kota Madinah, baik yang dekat maupun jauh, mereka tetap membangun benteng dan pagar di sekelilingnya. merekapun telah membuat berbagai senjata dalam jumlah besar berupa pedang, panah, tombak, lembing, dan baju besi. Mereka tidak pernah bersatu dalam kehidupan politik, militer, ataupun agama, tetapi mereka hidup berkelompok-kelompok dan terpecah-pecah yang satu sama lain berbeda-beda, saling bertentangan dan saling bermusuhan. Di Madinah terdapat dua kabilah Arab yaitu; Aus dan Khazraj yang sedang bertikai dalam permusuhan dan peperangan. Salah satu kelompok Yahudi berkoalisi dengan Aus, dan kelompok Yahudi lain berkomplot dengan Khazraj. Kelompok Yahudi yang berkoalisi dengan Aus benar-benar memerangi kelompok Yahudi yang berkomplot dengan Khazraj. Di samping itu, terciptanya kehinaan, kemiskinan, ketakutan, dan keterasingan, sesuai dengan tabi’at mereka. Koalisi dan bergabungnya mereka dengan kabilah Arab yang sedang berperang erat kaitannya dengan kepentingan mereka, yaitu sebagai media untuk melestarikan pertahanan, benteng, dan produksi senjata mereka. Oleh karena itu, mereka sengaja memelihara permusuhan dan pertentangan agar terus berlangsung antara dua kabilah Arab. Yahudi memiliki ladang, sawah, kebun dan harta kekayaan yang banyak, di samping mereka sibuk berdagang, dan mengelola pabrik, serta melakukan riba. Dengan demikian, mereka banyak yang menjadi orang kaya dan pemilik kemegahan, dan hal itulah yang membantu mereka tetap eksis dan mempengaruhi bangsa Arab.

Percampuran dan pergaulan (akulturasi) mereka dengan lingkungan dan pergaulan bangsa Arab di tanah Hijaz sampai pada tingkat permikahan dan menjalin hubungan kekeluargaan, sehingga keturunan nasab merekapun sudah tidak mungkin dan sulit dibedakan dengan bangsa Arab. Keturunan Yahudi yang masih dapat dibedakan dengan bangsa lainnya (Arab) sebelum kenabian dan sebelum hijrah hanyalah beberapa kabilah tertentu, antara lain; Bani Ikrimah, Bani Tsa’labah, Bani Auf, Bani Qashish, Bani Hijaz, Bani Al Harits, Bani Sa’idah, Bani Jasym, Bani Aus, Bani Syatibiyah, Bani Amr, Bani Bahdalah, Bani Ka’ab, Bani Mahmar, dan Bani Wail. Sebagian banyak dari kabilah Yahudi tersebut yang hidup di Jazirah Arab beberapa abad sebelum Islam kemudian menyebar laksana sel-sel kepiting di dalam tubuh masyarakat Islam awal. Hampir tidak dapat dibedakan antara mereka dengan yang lainnya. Lidah merekapun seluruhnya lidah Arab murni yang kemudian telah menjadi referensi di dalam menafsirkan makna-makna untuk kosa kata (mufradat), isthilah-isthilah, hadits-hadits, dan ayat-ayat. Bagaimana mungkin bisa dibedakan, sementara nama anak-anak mereka adalah Abdullah, Mu’adz, Laits, Sa’ad, Wail, Sufyan, Malik, Qais, Nu’man, Maimun, Mundzir, dan Walid, serta lain-lain laksana nama-nama yang berlaku di lingkungan Arab. Dengan demikian, tidak aneh mereka adalah termasuk Arab Yatsrib secara khusus atau Arab Hijaz secara umum, yang dengan posisi ini mereka telah membentuk budaya lisan Yahudi secara umum bagi Jazirah Arab dan menjadi referensi kebudayaan bagi bangsa Arab yang ummi. Ibnu Khaldun berkata:

“Bangsa Arab bukanlah Ahli Kitab dan bukan ahli ilmu, tetapi mereka lebih cenderung berkebudayaan badawi dan orang-orang ummi. Jika mereka menemukan kesulitan untuk mengetahui sesuatu berupa sebab-sebab adanya alam dan awal penciptaan, serta rahasia-rahasia yang ada, mereka bertanya kepada Ahli kitab terlebih dahulu dan banyak mengambil manfaat dari mereka. Mereka adalah Yahudi; Ahli Taurat dan orang-orang Nashrani yang mengikuti agamanya. Adapun Ahli Taurat yang yang berada di lingkungan Arab ketika itu adalah badawi juga seperti orang Arab dan tidak mengetahui apapun kecuali apa yang diketahui secara umum dari Ahli Kitab. Pembesar mereka berasal dari keturunan Hamir yang menganut agama Yahudi. Ketika mereka masuk Islam, mereka masih tetap dengan apa yang selama ini mereka pegang. Apalagi hal-hal yang berhubungan dengan hukum-hukum syara’ yang telah dihapus, seperti awal penciptaan dan masalah baru atau qadimnya alam, tentang peperangan-peperangan di masa lalu, dan lain-lain. Dengan demikian, tafsir-tafsir (Alquran) dipenuhi oleh riwayat-riwayat yang diambil dari mereka. Para mufassirpun dengan mudah mengambilnya. Sumbernya adalah –sebagaimana kami katakan- dari Ahli Taurat yang tinggal di lembah-lembah tanpa mendalami pengetahuan yang mereka dapatkan itu, kecuali setelah kebudayaan dan kadar kemampuan mereka sedikit meningkat sesuai dengan fase-fase perkembangan agama dan aliran-aliran kepercayaan agama, maka sejak itu terjadilah akulturasi.”

Tidak aneh, jika kemudian orang-orang musyrik Arab menjadikan mereka sebagai referensi dan mereka meminta fatwa kepada mereka tentang Islam. Al Thabari dan yang lainnya meiwayatkan: bahwa sekelompok Yahudi datang kepada Quraisy di Makkah dan mengajak mereka untuk memerangi Rasulullah Saw. dan berkata: “Kami akan berdiri bersama kalian sampai kami mengembalikan dia ke asalnya.” Orang-orang Quraisy menjawab: “Wahai bangsa Yahudi, kalian adalah Ahli Kitab awal dan mengetahui apa yang sedang terjadi antara kami dan Muhammad. Apakah agama kami lebih baik atau agamanya?” Orang-orang Yahudi menjawab: “Agama kalian dan agama nenek moyang kalian lebih baik”. Berkaitan dengan masalah ini Allah menurunkan ayat, Alam Tara ila al Ladziina Uutuu Nashiban min al Kitabi Yu’minuuna bi al Jibti wa al Thaaghuuti wa Yaquuluuna li al Ladziina Kafaruu Ahdaa min al Ladziina Aamanuu Sabiilan. Uulaaika al Ladziina La’anahum Allahu wa Man Yal’an Allah falan Tajida lahuu Nashiiran (Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian Alkitab? Mereka percaya kepada yang disembah selain Allah dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (Musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dilaknat Allah. Barangsiapa yang dilaknat oleh Allah, niscaya kamu tidak sekali-kali akan memperoleh penolong baginya) (QS Al Nisa [4]: 51-52)

Keadaan mereka yang aktif sebelum Islam tidak hanya terbatas di Makkah dan Madinah atau daerah-daerah di wilayah Hijaz saja, melainkan juga telah meluas sampai ke Yaman. Riwayat-riwayat Arab yang diperkuat oleh manuskrip-manuskrip Yunani dan Romawi menyebutkan bahwa seorang raja dari raja-raja Humair yang bernama As’ad Abu Karb melewati salah satu kota di Yatsrib, kemudian didatangi dua rahib dari Yahudi. Raja tersebut merasa kagum kepada keduanya sampai ia masuk agama rahib tersebut dan membawa keduanya ke Yaman. Kemudian mengajak masyarakatnya untuk memeluk agama yang sudah dipeluknya, maka masyarakatnya menganut dan memeluk agama tersebut. Demikian, agama Yahudi mulai tersebar di Yaman. Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi pada abad kelima masehi. Para missionaris Kristenpun telah berangkat ke Yaman melalui jalur Ethiopia yang telah dikristenkan berkat motivasi dan dukungan penguasa Romawi; Konstantin, maka Kristenpun menyebar di daratan Yaman. Peristiwa ini diperkirakan terjadi abad keempat masehi. Ketika agama Yahudi menyebar di Yaman, dan menjadi agama yang dipeluk oleh raja-raja Bani Humair, maka para elit kedua agama (Yahudi dan Kristen) saling berebut pengaruh yang berbuah permusuhan yang memang sudah terjadi sejak lama antara keduanya di beberapa daerah di Palestina dan Mesir. Yahudi telah berhasil mengalahkan Kristen pada permulaan abad keenam pada masa Raja Humairi Dzi Nuwais, dan penindasan yang dilakukan Yahudi semakin menjadi-jadi di bawah kekuasaan Heraklius di Palestina. Mereka telah membuat dada Dzi Nuwais membara untuk menindas Kristen setelah melihat kejadian yang menimpa saudara-saudara mereka di Palestina, sehingga –diceritakan- bahwa ia memerintahkan untuk menggali lubang yang panjang dan menyalakan api di dalamnya serta melemparkan orang yang tetap dalam agama Kristen dan tidak mau memeluk agama Yahudi. Peristiwa ini diisyaratkan oleh sebuah surat yang dikirim oleh Marsmaun (pendeta Bait Arsyam) yang dikirimkan untuk kepala rumah-rumah ibadah yang ada di pegunungan. Teks surat tersebut ditulis kembali oleh Yohanes dalam sejarah gereja. Ia menjelaskan apa yang ia dengar melalui saksi sejarah dari penduduk Yaman berkaitan dengan penyiksaan terhadap umat Kristen Najran (Ethiopia) pada tahun 524. Ia mengatakan bahwa raja Humair mengutus seorang utusan kepada raja Haira untuk memperlakukan umat Kristen yang ada di negaranya seperti yang dilakukan terhadap umat Kristen Najran. Penindasan ini telah berlangsung antara Yaman melawan Ethiopia yang menjadikannya sebagai penghalang kemenangan untuk membangun agamanya pada sepertiga pertama abad keenam sebelum masehi yang digembosi oleh Romawi. Mereka menetap di bawah naungan kerajaan Humairi dan hamparan kekuasaannya di negaranya selama 70 tahun.

Kelompok-kelompok Yahudi yang menetap di Yatsrib dan daerah-daerah perkampungan yang dekat di sekitarnya tetap melalui jalur Palestina sampai diutusnya Rasulullah Saw. dan hijrah ke Madinah. Sebagian tokoh teras Yahudi dan para pengikutnya menyikapi kedatangan Rasulullah dengan sikap kedengkian dan melakukan gangguan-gangguan, menyebarkan keraguan-keraguan, berkomplot untuk selalu memusuhi sebagaimana yang dijelaskan oleh kandungan ayat-ayat Alquran yang diturunkan di Madinah dan hadis-hadis yang mengisyaratkan adanya keadaan dan kejelekan akhlak dan perangainya. Hal itu sampai menimbulkan bentrokan peperangan melawan Rasulullah Saw dan kaum Muslimin. Rasulullah Saw. mengusir sebagian dari mereka dan memusnahkan sebagian yang lainnya, serta membersihkan bumi Arab-Islam dari mereka setelah tujuh abad hidup bersama dan melakukan akulturasi yang hebat.

Eksistensi Pemikiran Yahudi

Di samping keberadaan masyarakat Yahudi yang sudah diakui keberadaannya, eksistensi pemikiran, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan mereka pun merupakan kisah yang berbeda dan sangat menarik. Allah Swt. Telah memilih Musa sebagai rasul dan nabi khusus kepada Bani Israil, Allah pun telah meletakkan Musa pada posisi khusus di sisinya, baik secara logika akal maupun jiwa, …dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari pada-Ku …(QS Tha Ha [20]: 39) agar Musa memiliki keistimewaan sebagai panglima komando bagi Bani Israil dan sekaligus sebagai rasul, nabi, dan juru selamat bagi masyarakatnya yang digambarkan sebagai bangsa pilihan yang tertindas yang hidup pada kondisi paling mengenaskan di bawah naungan sistem thaghut yang diktator dan otoriter, Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak-anak laki-laki mereka, dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kersakan. Dan Kami hendakmemberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpindan menjadikan mereka orang yang mewarisi bumi. Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Firaun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu (QS Al Qashash [28]: 4-6).

Dengan demikian, pigur dan pribadi Musa lebih dekat sebagai seorang panglima yang keras dan kuat bagi sebuah bangsa di mana ia dibesarkan, dan di mana ia mendapatkan didikan dan binaan dari lingkungan yang sangat keras. Ia tidak mendapatkan kelembutan yang seimbang yang mendukung dan membentuk dirinya sebagai seorang pemimpin masyarakat. Dalam waktu yang bersamaan, Musa pun adalah merupakan nabi dan rasul yang dikirim oleh Allah kepada bangsa ini yang diberi bekal berupa hukum-hukum, ilmu pengetahuan, akidah dan syari’at. Oleh karena itu, Musa tidak dapat melewati batasan-batasan kenabian dan risalahnya serta kekhususan syari’atnya. Bani Israil tidak memahami maksud dan hakikat bahwa Tuhan memilih dan mengistimewakannya adalah dalam rangka menjadikan eksistensinya sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, sebagaimana kepada Adam dan keturunannya. Tetapi sebaliknya, mereka memahaminya bahwa masyarakat Yahudi adalah pusat eksistensi dunia dan spirit kemanusiaan serta bangsa pilihan Tuhan dan satu-satunya tentara Allah. Seolah-olah Tuhan –dalam benak mereka—adalah Tuhan untuk mereka saja. Dalam pandangan mereka, “Yehwah” dan “Sang Tuhan para tentara” adalah Tuhan yang berpaling dari makhluknya dan mengkonsentrasikan segala sesuatu hanya untuk Yahudi dan untuk keunggulan sejarah mereka serta untuk kehormatan, kejayaan dan merealisasikan impian mereka.

Peranan Para Pengisah dan Para Penasihat

Peranan yang dimainkan oleh para pengisah dan para penasihat di masjid-masjid merupakan peranan yang sangat pelik dan membahayakan. Mereka telah menyebarkan warisan budaya dan pengetahuan Israil serta memegangnya dengan teguh dan memenuhi majlisnya dengan nasihat-nasihat dan kisah-kisah mereka. Para pengisah dan pemberi nasihat tersebut duduk menghadapi publik di masjid-masjid. Mereka meriwayatkan israiliyat, kerena memang memuat keanehan-keanehan dan cerita-cerita menarik yang diinginkan oleh masyarakat awam.

Di sisi lain, sebagaimana diketahui bahwa pengkodifikasian hadis telah dimulai pada tahun 83 H. di bawah kekuasaan Abdul Aziz ayahanda dari khalifah Umar bin Abdul Aziz, dan secara sempurna telah diselesaikan pada masa kekuasaannya. Sedangkan tafsir ketika itu merupakan bagian dari bab-bab hadis, karena telah diupayakan melalui pengumpulan secara ma’tsur dengan sanad-sanadnya ketika tafsir terlepas dari kajian hadis, para penulis tafsir senantiasa meriwayatkan apa yang tersebar di dalam kitab-kitab tafsir mereka dengan sanad-sanadnya. Akan tetapi dalam menuliskan sanad-sanad tersebut, mereka tidak mengikuti kaidah dan standar al jarh wa al ta’dil sebagaimana dilakukan oleh ahli hadis (muhadditsin). Mereka beralasan bahwa penyebutan sanad dirasakan cukup dilakukan oleh ulama sebelumnya. Di kalangan mereka menyebar prinsip “Orang yang meriwatkan kepada kamu adalah orang yang menanggungmu”. Kemudian, ketika kecenderungan budaya ikhtisar (ringkasan) semakin menyebar di kalangan mereka, tidak ada kepentingan lagi untuk menyebutkan sanad, maka kebanyakan mereka bukan hanya merasa cukup dan tidak ada keinginan untuk mengritiknya, bahkan mereka membuang sanad-sanad tersebut. Ibnu Khaldun telah mengemukakan kenyataan yang membahayakan dan mengerikan ini di dalam kitabnya Al Muqadimah seperti yang disebutkan di atas. Dan yang membuat kami membahas panjang lebar tentang pengaruh Yahudi terhadap sebagian unsur-unsur warisan keilmuan (turats) Islam adalah bahwa meteka telah benar-benar meninggalkan pengaruh yang signifikan di berbagai tempat yang menghapus keistimewaan-keistimewaan syari’at kita dan nilai-nilainya yang tinggi dan pasti, serta maqasid-maqasid yang mutlak. Mereka telah menyusupkan unsur-unsur pembebanan dan pembelengguan ke dalam syari’at kita. Sehingga menjadi tebalik, hal tersebut seolah-olah telah menjadikan syari’at mereka lebih dekat kepada prinsip peringanan dan kasih sayang dari pada syari’at kita yang sebetulnya memiliki prinsip penuh kemudahan dan menghilangkan keberatan-keberatan, melenyapkan pengekangan dan pembelengguan. Inilah yang menjadi titik tolak kami, yang dewasa ini telah hilang di dalam fiqh kita, termasuk di antaranya hukum yang berkaitan dengan murtad (al Riddah) yang menjadi pembahasan kita di dalam buku ini, dan masih banyak lagi hukum-hukum dan sanksi-sanksi yang tercatat sebagai sesuatu yang dikondisikan sangat berat sebagai balasan, di samping memang tercatat berisi unsur-unsur pendidikan. Mereka juga telah meninggalkan budaya lisan yang telah mengakar sejak lama yang mereka pandang dengan tatapan kebencian, ketika hubungan kita dengan Alquran dan Sunnah Rasulullah Saw. dengan kebudayaan Islam yang bersih dan didirikan di atas keduanya semakin lemah.

Pengakuan adanya Ijma Terhadap Keharusan Membunuh Orang Murtad

Jumhur Ulama telah menutup pintu polemik masalah ini dengan senjata Ijma. Sejak waktu yang cukup lama, Ijma telah dijadikan media dan sarana untuk memastikan dan memutuskan masalah-masalah yang sangat pelik –seperti masalah ini- tanpa adanya penelitian dan penelaahan ulang. Di samping masih terdapat adanya perbedaan pendapat tentang hukum murtad (al Riddah) pada kurun waktu tiga abad masa kecemerlangan dan kegemilangan, pada waktu itu tidak ada penelusuran hakikat ijma dan hukumnya, juga tidak adan Ijma yang menetapakan tentang hukum murtad tersebut. Akan tetapi orang-orang yang mengatakan adanya hukum bunuh bagi orang murtad dalam syari’at kita mengakui mendapat legitimasi dari Ijma. Mereka berusaha untuk tidak melihat dan menalaah sikap kontroversi Umar bin al Khaththab, Ibrahim al Nakha’iy, Sufyan al Tsaury dan yang lainnya di satu sisi. Dan di sisi lain, mereka menutup rapat-rapat pintunya tanpa berfikir untuk memandang telaah baru apapun dari para pembaharu terhadap batasan ini. Siapa orang yang mau dan mampu menelaah kembali sebuah hukum yang telah disepakati oleh Ijma para ulama?

Murtad; antara Partai Sosialis (Baath) dan Partai Komunis di Irak

Saya telah menulis banyak karya tulis tentang “Murtad dan Hukumnya”, sebagian dipersiapkan untuk tesis magister dan disertasi doktor, dan sebagian lagi sengaja dipersiapkan khusus untuk penelitian dan karya ilmiah tentang batasan-batasan syari’at.. Studi tersebut dengan cepat mengambil pendapat-pendapat kontroversial tentang hukum murtad, baik dari kalangan sahabat maupun yang lainnya berdasarkan klasifikasi kemuliaan mereka. Pada urutan pertama adalah Umar bin al Khaththab. Saya telah mengkonsentrasikan perhatian secara khusus setelah aku merasa tertekan dengan fatwa tentang “murtad” selama hidup saya. Hal tersebut memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pemikiran dan psikologis saya, bahkan seluruh hidup saya. Namun sayang, diskursus ini telah disodorkan kepada saya semenjak karier ilmiah saya dimulai. Setelah saya menyelesaikan program S-1 di Al Azhar al Syarif tahun 1959, aku kembali ke Irak ketika terjadi kegoncangan di tubuh Partai Baath di pihak sayap Michael Aflaq melawan pihak Abdul Karim Qasim pada tanggal 8 Februari 1963. Dan pada bulan Juli tahun itu juga berdiri Partai Komunis pasca kejadian pemberontakan melawan pemerintahan Abdussalam Arif dan Partai Baaath sayap Michael Aflaq. Pembeontakan tersebut gagal. dan seluruh anggota partai komunis ditangkap oleh pemerintah yang dikuasai oleh Partai Baath. Dalam waktu kurang dari seminggu, jumlah penganut komunis yang ditangkap mencapai 5.500 orang. Mula-mula mereka dikumpulkan di dua penjara besar, di penjara militer “al Rasyid”; yaitu penjara kelas satu dan penjara khusus angkatan darat. Kemudian pada musim kemarau yang sangat panas, mereka dipindahkan dengan kereta barang ke penjara “Nuqroh al Salman” yang berada di tengah padang pasir yang kering, yang berbatasan dengan daerah yang dikenal sebagai “wilayah netral” yang memisahkan antara Arab Saudi dan Irak. Sejumlah besar dari mereka mati di dalam kereta api yag pada waktu itu oleh para penganut komunis dikenal dengan “kereta maut.”. Jumlah penganut komunis di Irak pada waktu itu tidak lebih dari 8000 orang –sebagaimana saya sebutkan– berdasarkan data yang menyebar pada waktu itu. Majelis Pimpinan Revolusi Partai Baath telah menetapkan keputusan untuk melenyapkan seluruh pengikut partai komunis, mulai dari orang-orang yang ditahan yang berjumlah 5 500 orang, mereka juga menetapkan bahwa setelah itu setiap orang yang tersentuh oleh kekuasaan partai Baath harus dihukum mati dan langsung ditetapkan pelaksanaannya yang dikuasakan kepada Panglima Tinggi Jend. Abdul Ghani Muhammad Sa’id al Rawi, Panglima tertinggi komando III pasukan lapis baja ketika itu, Al Rawi memerintahkan untuk membawa pasukan bersenjata dan terbang menuju penjara Nuqroh al Salman, untuk melaksanakan keputusan Majelis Pimpinan Revolusi dan diberi sejumlah dana untuk dibagikan kepada tentara pelaksana sebagai embel-embel dan motivasi kepada mereka. Al Rawi adalah seorang yang rajin mengerjakan sholat, maka ketika melihat jumlah orang yang diperintahkan untuk dibunuh lebih dari 5000 orang, ia merasakan masalah yang serius dan ia meminta fatwa dari tokoh ulama, baik dari golongan sunni maupun dari golongan syiah, maka pemerintah mengusulkan kepadanya untuk berkonsultasi kepada Sayyid Muhsin al Hakim; seorang tokoh terbesar ulama syiah ketika itu, Al Imam al Khalisy tokoh ulama di wilayah Kadzimiyah, dan Mufti Iraq dari golongan sunni Najmuddin al Wa’idz. Ketiga tokoh ulam ini memberikan fatwa mereka kepada Al Rawi, yang berisi adanya keharusan menghukum mati para penganut komunis, karena dianggap murtad. Hanya Sayyid Al Hakim yang memberikan syarat tertentu yaitu untuk meneliti antara pengikut komunis asli dan masyarakat yang dikelabui untuk memeluknya. Orang-orang komunis memberikan gambaran pada sebagian pengagumnya bahwa mereka adalah partai syiah yang di pihak lain Partai Ba’ats mengkampanyekan partainya kepada pengagumnya sebagai partai sunni. Sayyid Al Hakim telah memperkuat usulan kepada Al Rawi dan pemerintah untuk memisahkan antara orang-orang komunis yang akidahnyapun cenderung kepada kumunisme, dan mengetahui AD/ART-nya, dan antara orang-orang syiah yang dikelabui sehingga mereka mengira bahwa partai komunis tersebut sebagai paratai syiah yang tidak bertentangan dengan identitas mereka sebagai muslim syi’ah. Adapun dua tokoh ulama lainnya yaitu Al Khalisy dan Al Wa’idz telah memberikan fatwa adanya kewajiban untuk membunuh seluruh orang komunis tanpa syarat apapun.

Sayid Al Rawi adalah sahabat saya yang rutin dan selalu datang ke masjid kecil yang bernama Abu Aqlam, di mana saya memberikan khutbah jum’at di daerah Karadah Timur. Masjid tersebut adalah milik Hj. Hasibah al Baajah Ji. Banyak orang yang menyalami saya setelah shalat dan menghabiskan waktu bersama saya setelah melaksanakan shalat jum’at. Al Rawi menyatakan kekagumannya terhadap khutbah-khutbah yang saya sampaikan. Al Rawi memutuskan untuk datang ke rumah saya yang berdempetan dengan masjid dua kali pertemuan, yaitu; dua hari sebelum pelaksanaan hukuman, dan 5 jam sebelum keberangkatannya ke penjara Nuqrah al Salman untuk mengadukan masalahnya kepada saya dan meminta fatwa keempat. Dengan demikian, Al Rawi memiliki empat fatwa yaitu dua fatwa dari dua Imam syiah, dan dua fatwa dari Imam sunni. Ia belum medapatkan kesimpulan sampai jsaya menjelaskan fatwa saya. Adapun fatwa yang saya sampaikan mungkin berbeda dan bertentangan dengan ketiga fatwa sebelumnya. Bagaimana tidak, saya adalah seorang yang masih muda yang masih khawatir jika mendapatkan tekanan atas pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan pemikiran Islam? sebagaimana saya pernah dipenjara pada masa kakuasaan Abdul Karim Qasim untuk waktu yang cukup lama dan hampir saja orang-orang komunis membunuh saya beberapa kali? Di samping itu sudah terdapat banyak fatwa yang dikeluarkan oleh para ulama pasca penyembelihan massal dan program pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang dari Partai Komunis dan Pembela Kedamaian, Pemuda Pembela demokrasi, Pembela Bangsa di berbagai kota di Irak, khususnya di darerah Mosul dan Karkuk. Para ulama telah menetapkan di dalam fatwanya bahwa orang-orang Komunis, Pembela Kedamian dan Pembela Kebangsaan serta orang-orang yang mengikuti gerakan-gerakannya seperti Pemuda Pembela Demokrasi. Laki-laki itu (Al Rawi) duduk dan menceritakan seluruh permasalahannya kepada saya, bahwa kepala negara Abdussalam Muhammad Arif dan wakilnya serta perdana mentri Ahmad Hasan Al Bakr dari partai Baath telah memutuskan untuk membunuh seluruh orang komunis.Untuk pelaksanaannya tidak memerlukan lebih dari satu hari. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak memberikan kesempatan kepada Rusia untuk menekan pemerintah Irak. Caranya cukup dengan bertanya kepada salah satu dari mereka tentang nama, alamat, kapan bergabungnya kedalam Partai Komunis atau Pembela Kedamaian atau Pemuda Pembela Demokrasi, kemudian ditembak dengan senjata api untuk melenyapkannya.

Saya bertanya kepadanya: “Mengapa anda datang kepada saya? Saya adalah orang yang baru lulus kuliyah, kegiatan ilmiahku belum banyak didengar, apakah kira-kira fatwa-fatwaku berpengaruh jika dibandingkan dengan fatwa para ulama terkenal dari kelompok syiah dan sunni itu?, Orang itu menjawab: “Ini hanya sekedar untuk menenangkan hatinya.”

Jika melihat kata-katanya, ia memang percaya kepada saya dan sholat di belakang saya setiap shalat berjamaah, dan ia pun terlihat meyakini bahwa fatwa-fatwa saya mendalam dan ilmiah serta dapat dipertanggungjawabkan. Sayapun berkata lagi kepadanya: “Jika saya katakan kepada anda bahwa masalah ini adalah haram hukumnya menurut syara’, apakah anda mampu untuk menghentikan proses pelaksanaan hukuman mati, sedangkan anda telah menyelesaikan seluruh persiapan dan prosedur pelaksanaan eksekusi yang semestinya? dan apakah anda seorang militer? Ia menjawab: “Mereka tidak akan dapat memaksa saya untuk melaksanakan kepentingan ini jika saya menolak, dan mereka akan mencari orang lain untuk melakukannya.” Saya bertanya lagi :”Tuduhan apa yang didakwakan kepada ribuan orang tersebut, sehingga mereka harus diberi hukuman mati?” Ia menjawab: “Mereka dituduh murtad dari Islam,” Saya bertanya lagi: “Jika mereka tidak berebut kekuasaan dengan pemerintah Partai Baath Irak sayap Michael Aflaq dan berusaha melakukan gerakan revolusi melawan mereka, apakah mereka akan dihukum mati juga? Ia menjawab: “Tidak,” Saya berkata lagi: “Jadi, ini adalah masalah politik yang tidak ada kaitannya dengan agama, mengapa harus melibatkan agama dalam urusan ini?” Ia menjawab: “Mungkin dianganggapnya sebagai dosa rangkap, sisi agama dan sekaligus sisi politik, sisi agama yaitu murtad, sedangkan sisi politik adalah melakukan pembangkangan terhadap Partai Baath dan mengadakan revolusi melawan undang-undang negara? dan hal itu merupakan kesempatan untuk mengembalikan nama baik dari dosa-dosa yang telah mereka lakukan di bawah pimpinan Abdul Karim Qasim.”

Saya katakan lagi kepadanya: “Jika demikian, biarkan kami mendiskusikan sisi agama sampai selesai, kemudian baru beralih ke sisi politik.” Kemudian saya mendatangkan AD/ART Partai Baath Irak sayap Michael Aflaq, sebelum disusupi penyelewengan-penyelewengan. Pasal pertama dalam teks tersebut tertulis bahwa partai mempercayai markisme-lenimisme yang disesuaikan dengan kondisi Arab.

Sayapun berkata lagi kepadanya: “Jika komunisme adalah dasar-dasar Markisme-Lenimisme, maka amggota Partai Baath beriman kepada Markisme-Lenimisme sebagaimana orang-orang komunis mempercayainya. Akan tetapi orang-orang komunis itu terdiri dari berbagai bangsa, sedangkan anggota Partai Baath adalah orang-orang Arab. Dalam arti bahwa anggota Partai Baath Irak adalah orang komunis yang diramaikan oleh orang-orang Yasymag, atau Kufah, atau Aqol, yakni orang-orang komunis yang kepalanya terbuka atau memakai topi.”

Saya berkata lagi: “Di samping itu, dalam pasal 9 peraturan Partai Baath Irak sayap Michael Aplak terdapat teks yang berbunyi, “Waris dan hibbah dianggap usaha yang tidak dibenarkan.” Dan anda tahu bahwa ayat-ayat Alquran yang memuat masalah waris dan bagian-bagiannya mencapai 48 aayat, berarti pasal 9 tadi bertentangan dengan ayat-ayat Alquran tadi dan dianggap tidak berlaku atau bahkan menegsikan isi kandungannya. Maka jika masalah ini masalah murtad, berarti murtadnya anggota Partai Baath yang berpendapat seperti ni tidak jauh berbeda dengan murtadnya orang-orang komunis. Jadi mengapa anda menjadikan orang murtad sebagai alat untuk membunuh orang murtad lainnya?”

Kemudian saya melajutkan pembicaraan: “Apakah kelompok tersebut berniat untuk melakukan pencegahan agar umat ini tidak tersesat, kemudian menyucikan diri dengan Islam untuk mengukuhkan posisi mereka?”. Saya tambahkan lagi: “Apakah anda tahu bahwa dua orang penting di tubuh pemerintahan Partai Baath Irak –ketika itu- yaitu Ali Shalih Al Sa’dy yang menjabat sebagai Bendahara Komando Rahasia di bagian Qitriyah dan Abdul Karim Musthafa Nashrat, kemarin lusa mereka berdua dalam keadaan mabuk berat telah memaki-maki Allah Swt. dan agama yang dapat menyebabkan kekufuran. Yang mereka ucapkan antara lain. “Orang-orang pengecut berkata, jika tidak ada Tuhan, maka revolusi ini tidak akan sukses. Di mana sih Allah itu? Allah tidak pernah datang dalam pertemuan Partai, Allah tidak pernah bergabung dalam pertahanan.” Kemudian mereka menembakkan pelurunya ke langit. Demi Tuhan, apakah hal ini tidak termasuk murtad? Jika memang mereka benar-benar mengerti tentang murtad?”

Setelah itu, orang tersebut berkata: “Jadi, bagaimana bisa para ulama besar itu telah memberikan fatwa tanpa didiskusikan dan musyawarah? Saya menjawab: “Pertanyaan yang diajukan kepada mereka memang sudah diformat terlebih dahulu agar jawabannya –sesuai dengan yang mereka inginkan- mengarah kepada pengkafiran. Sedangkan aku tahu bahwa Islam adalah agama suci dan penyucian, bukan agama pengkafiran. Islam ada bukan untuk pembunuhan, melainkan untuk menyucukan akal dan hati manusia dari syirik dan atheisme dan memotivasinya untuk menggunakan akal dan hati sebaik-baiknya sehingga mencapai hakikat kebenaran. Jika masalah ini benar-benar telah anda pahami, maka saya akan beralih ke sisi politik.”

Pada kesempatan tersebut, saya bukan sebagai seorang mufti, tetapi kawan diskusi dan berbagi pendapat dengannya, bahkan lebih banyak mengomentari pendapatnya yang kadang-kadang benar dan kadang-kadang salah. Saya berkata lagi kepadanya: “Anggota Partai Baath tahu bahwa anda adalah orang yang rajin melaksanakan shalat, ayah anda juga seorang ulama dan hakim, keluarga anda dikenal sebagai keluarga agamis. Anda juga terkenal sebagai elit di kalangan tentara dan bidang pertahanan. Ketika mereka memilih anda, berarti mereka memiliki pilihan bagus. Mereka ingin menggunakan anda dan unsur-unsur agama dan Islam khususnya, agar tentara dituduh telah mengucurkan darah dan kenistaan serta telah merobohkan unsur-unsur kemajuan. Saya yakin, mereka telah menyiapkan penjelasan yang akan mereka siarkan besok sore setelah mereka mendapatkan kabar bahwa anda telah melaksanakan tugas itu dan telah menyempurnakan eksekusi terhadap orang-orang komunis. Mereka akan mengumumkan bahwa anda adalah orang gila yang haus darah, pendengki, pendendam, dan dendamlah yang memotivasi anda untuk menghabisi teman sejawat anda Di antara pasukan tentara yang menyertai anda untuk melakukan eksekusi tersebut ada seseorang yang ditugaskan untuk membunuh anda bila anda telah menyelesaikan pengeksekusian arau menahan orang-orang komunis tersebut. Setelah itu, mereka akan melakukan sweeping untuk membersihkan militer dan lembaga-lembaga negara dari orang-orang agamis yang kuat agamanya dan fanatik Islam, yang dengan demikian, mereka akan selamat dari bahaya musuh tradisional mereka dengan satu gebrakan saja. Hal ini berarti fatwa ketiga ulama besar tadi adalah media (penyebab) untuk melemparkan tuduhan ini kepada orang-orang Islam, khususnya politisi Islam. Mereka telah mendirikan rumah duka bagi mereka sebagai upaya untuk mengelabui pandangan publik. Orang itu pun pergi dan terlihat merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya, dan memutuskan untuk berangkat ke istana negara guna menyelesaikan urusannya. Saya berpesan kepadanya: “Jika langkah-langkah mereka tidak seperti apa yang saya sebutkan kepada anda, maka mereka akan menggantikan anda dengan orang lain, karena mereka memiliki beribu-ribu pembunuh terlatih dan handal yang akan melaksanakannya. Akan tetapi jika mereka mengalihkan rencananya setelah anda mengundurkan diri, maka berarti prediksi saya benar-benar terbukti dengan tepat. Saya berharap anda tidak menyebutkan nama saya kepada mereka, karena jika mereka mengetahui bahwa saya yang telah menjadikan anda berubah pikiran, maka mereka akan melakukan tekanan dan menyiksa saya. Orang ini pun segera pamit dan pergi dan ia pun gugur di tangan mereka di bawah pimpinan Abdussalam Arif, Baker, dan pimpinan wilayah Qitriyah akhirnya. Setelah itu, tidak terjadi lagi pembantaian massal, walaupun sebelumnya telah terjadi di beberapa bagian di tiga negara; Irak, Iran, dan Kuwait. Setelah beberapa minggu, Michael Aflaq menulis sebuah makalah yang dimuat oleh seluruh koran di Baghdad dan disiarkan berulang-ulang di televisi dan radio yang berisi ajakan kepada orang-orang komunis untuk bergabung dan berkoalisi dengan Partai Baath Irak. Di samping itu berisi pula pernyataan bahwa Partai Baath mampu menjaga dan memelihara golongan komunis dari terulangnya penindasan yang mengerikan yang berakhir dengan kematian mereka. Jika pada detik-detik terakhir tidak ada sikap berani dari partai Baath dan pimpinannya yang bijaksana, maka telah tejadi tindakan kriminal tersebut dan teman-teman sejawat kita akan berada dalam pembantaian.

Sejak peristiwa itu, kata murtad menurut saya adalah sebuah kata yang sangat pelik yang memiliki ekses-ekses di dalam otak dan pikiran saya. Kata tersebut tidak bisa dianggap yang di dalam fiqh Islam memiliki hukuman atau hadd atau tidak memiliki apa-apa. Dan apakah dianggap sebagai bagian dari ungkapan pendapat atau memushi masyarakat dan hak kolektif secara umum? Atau memang ada ijma yang mengharuskan membunuh orang murtad? atau hanya merupakan masalah khilafiah? Atau bisa dianggap sebagai hak individu dalam mengungkapkan pendapat dan akidahnya atau hak masyarakat untuk menjaga kesucian akidah tersebut? Semua itu, kadang-kadang tersirat dan kadang-kadang tidak dalam hatiku. Tetapi ketika menyebut kata murtad, yang langsung terbersit dalam pikiran saya adalah pemberangusan; pemberangusan dan pembelengguan yang sangat keji yang dilakukan oleh kedaulatan (negara) terhadap kebebasan, baik kebebasan individu, partai, kelompok, atau dunia, yaitu tindakan diktator, penindas, pendosa terhadap orang yang menentangnya atau orang yang berbeda bagaimanapun bentuknya, penindasan thaghut yang otoriter terhadap orang-orang lemah. Bukan hanya dalam kehidupan duniawi semata tetapi juga masalah akhirat, jika mereka mampu. Pemberangusan tersebut adalah usaha pembunuhan dan upaya pelenyapan terjadap hamba-hamba Allah atas nama Allah, dan menghancurkan segi-segi kepatutan diganti dengan lawannya, berkata atas nama Tuhan dibarengi dengan penyimpangan petunjuk dan ajaran-ajaran-Nya. Ia adalah penindasan para pemuja kekuasaan dan rakus untuk menguasai bangsa-bangsa dan para penyeleweng kehendak rakyat melawan para penentangnya yang tidak memiliki apap-apa selain lidah yang telah dipotong ketika mereka bicara tentang kebusukan mereka dan tidak menghormati dan memuliakan keagungan mereka.

Permasalahan-permaslahan ini dan juga masih banyak yang lainnya sering langsung tersirat dalam hati saya ketika pembicaraan tentang murtad. Oleh karena itu saya memutuskan untuk menulis masalah ini dan menguraikan apa-apa yang berkaitan dengannya, walaup tersendat-sendat, karena beberapa sebab..

Saya telah mempersiapkan pembahasan ini pada tahun 1992, dan memohon kepada sebagian kawan-kawan untuk menyebarkannya, yang ketika itu telah ada sekitar 100 halaman. Sebagian kawan telah menolak untuk menyebarkannya karena khawatir dan takut terhadap “Lambaga Internasional untuk Pemikiran Islam” yang ketika itu saya pimpin sendiri. Mereka mengkhawatirkan masalah ini akan mengancam posisi saya. Kemudian saya mengundurkan diri dari jabatan itu pada tahun 1996. maka mereka tetap mengatakan: “Saya masih merasa khawatir, Universitas yang anda pimpin”. Enam tahun berlalu, usia semakin bertambah dan penyakitpun semakin banyak dirasakan, maka saya tidak mau pulang menemui Allah dalam keadaan masih menyembunyikan ilmu yang telah Allah anugerahkan kepada saya. Sebab barangsiapa yang telah diberi ilmu oleh Allah, kemudian ia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat Allah akan membelenggunya dengan belenggu dari api neraka.

Saya tidak menginginkan seperti orang-orang yang berkata “Di dalam dadaku terdapat sebuah ilmu yang jika aku tampakkan ke luar, maka mereka akan mengambil apa yang di dalamnya terdapat dua mataku”. Kemudian mati bersama rahasia ilmunya. Sayapun tidak hendak menyembunyikan apa yang saya pelajari, hanya karena takut perpecahan dan perbedaan, karena lapisan perpecahan dan perbedaan yang melemahkan umat kita yang datang dari para ahli hukum dan para ulama gadungan (ulama su’) adalah lebih buruk. Jeritan umat karena penyakit yang dideritanya lebih saya harapkan segera sembuh -insya Allah- daripada terus disembunyikan. Saya sesungguhnya sangat berharap dari para pembaca yang membaca kalimat-kalimat ini, jika mendapatkan kebaikan, untuk tidak pelit sekedar mengakui kalayakannya. Dan jika mendapatkan sebaliknya, maka diharapkan untuk memberitahu saya apa yang salah di dalamnya dan menunjukkan kekurangan-kekurann saya, dan mintakan ampun untuk saya, dan saya akan memperbaiki kesalahan-kesalahan saya. Mari kita kembangkan dialog ilmiah yang menyejukkan. Allah Maha Tahu bahwa saya sesungguhnya sangat merindukan warisan keilmuan umat (Islam) dan saya sangat bangga dengannya dan menghormatinya. Saya pun tahu, bahwa di sana terdapat pro dan kontra. Kritik dan penelaahan ulanglah yang akan membersihkan dan menyucikannya, Turats Islam adalah warisan kekayaan, subur beraneka yang tidak takut untuk dikritik dan ditelaah, dan kita tidak perlu takut jika turats Islam tersebut dikritik atau ditelaah.

Aku bukan siapa-siapa.

aku hanyalah anak dari bagnsa Gazea.

Jika Gazea sesat, maka sasat pulalah aku.

Namun, jika Gazea benar, maka selamatlah aku.

Metode Pembahasan

Pada waktu yang bersamaan, saya memastikan diri sekuat mungkin bahwa saya memakai metode ilmiah dalam membahas masalah ini. Saya pun tidak akan memalingkan pokok-pokok teks dan dalil apapun dan menggabungkannya dengan pemikiran-pemikiran awal saya yang bersifat praduga sebelumnya dalam membahas masalah ini. Saya akan mengosongkan pemikiran dan hati dari pendapat apapun atau sikap praduga sebelumnya atau pemikiran orang lain dengan batasan yang ditolelir oleh kemanusiaan. Namun sebaliknya, saya akan mengambil dalil-dalil syar’iat sebagai sumber primer bagi apa yang akan saya tetapkan, bukan peristiwa-peristiwa yang saya saksikan sebagaimana banyak dilakukan oleh para peneliti lain, karena –menurut saya– yang penting adalah sampai kepada –dan sesuai dengan- apa yang dikehendaki oleh dalil-dalil syari’at yang mu’tabaroh, bukan tuntutan-tuntutan masa kini atau masa lalu dan apa yang kita harapkan. Oleh karena itu, maka metode yang mungkin digunakan dalam kajian ini adalah metode gabungan antara metode falsafy-ushuly dengan metode analisa, deduktif, dan konteks kesejarahan tanpa mengabaikan metode-metode tradisional yang biasa digunakan dalam tradisi keilmuan kita dan definisi-definisi naqliyyah pada masa pengkodifikasian atau setelahnya. Di bidang tafsir, saya akan berpegang teguh terhadap apa yang ditetapkan oleh para pakar dan spesialis di bidangnya, baik berupa pokok-pokok pikiran ataupun metodologinya. Di bidang hadis, maka saya akan mengambil metode para ahli hadis (muhadditsin). Di bidang ushul fikih, saya akan menggunakan Alquran sebagai sumber dari segala sumber hukum, In al Hukmu illa li Allah (idak ada hukum kecuali milik Allah) (QS Yusuf [12]: 40). Hal ini saya lakukan, karena memang Alquran adalah hakim, saya pun akan menggunakan Sunnah Rasulullah Saw. yang suci yang sudah dipastikan sebagai sumber penjelas bagi Alquran. Di samping itu, saya tidak akan menerima legalitas Ijma yang di dalamnya dengan jelas masih terdapat perbedaan (ikhtilaf) di antara para sahabat. Maka ijma mereka –ketika itu– adalah konsensus mereka dan untuk mereka. Saya akan menggarisbawahi nilai-nilai yang lurus dan pasti serta idealitas syara’ (al Maqasid al Syari’ah) bukan sebagai pelengkap bagi syari’ah semata, melainkan sebagai argumentasi general (dalil kully) dan referensi guna menyinari jalan bagi orang-orang yang hanya biasa menggunakan argumentasi parsial (dalil juz’iy). Saya pun akan menggunakan metode-metode yang digunakan oleh Alquran ketika menggunakan kosa kata-kosa kata (mufradat)-nya dalam pengertian leksikal-etimologis dan gramatikal-terminologisnya dalam menjelaskan makna-maknanya terlebih dahulu,. Kemudian dilengkapi oleh penjelasan dari Sunnah Rasulullah Saw. serta disusul oleh penjelasan dan ungkapan-ungkapan (uslub-uslub) dan penggunaan-penggunan bahasa yang dipakai oleh bangsa Arab dan penjelas lainnya dari kamus-kamus Arab, agar tidak terjadi interpretasi paksa dari gaya bahasa Arab terhadap makna-makna Alquran. Jika dengan cara tersebut, hasilnya sesuai dengan nilai-nilai kebenaran, maka hal ini tidak lain kecuali merupakan karunia Allah dan taufik-Nya. Namun jika terjadi sebaliknya, maka manusia memang merupakan tempat kelemahan dan kealpaan. Dengan demikian, cukuplah kiranya bagi kami adalah niat baik kami, dan tidak ada yang kami kehendaki kecuali perbaikan semampu kami. Kepada Allahlah kami memohon kebaikan dan kesesuaian antara kata dan karya, serta bersama pembaca kami memohon perlindungan dari bisikan-bisikan setan.

Siapa gerangan yang rela dengan segala keburukan

Cukuplah baginya keburukan itu sebagai cobaan dan ujian

Perumusan Masalah

Dalam tradisi ijtihad, para ahli Usul Fiqh telah menyusun sebuah metode yang disebut dengan “Tahqiq al Manath” setelah menggunakan kaidah “Takhrij al Manath” dan “Tanqih al Manath“. Jika terjadi perbedaan pendapat (ikhtilaf) dan adanya pertentangan-pertentangan atau polemik, maka mereka memulainya dengan mengamankan objek pembahasan yang menjadi polemik tersebut terlebih dahulu sesuai dengan metode yang mereka gunakan pada waktu itu. Oleh karena itu, kami pun akan memulai pembahasan ini dengan mengamankan diskursus yang menjadi polemik secara mendasar agar tidak terjadi kerancuan bagi sebagian para pembaca :

  1. Kajian ini bukan hendak mengobati pernyataan tentang “kufurnya orang murtad adalah kufur hakiki, dan keluarnya dari Islam setelah mengetahui dan menerimanya serta mengimaninya.” Kekufurannya memang sesuatu yang tidak dipertentangkan lagi dalam agama, baik jika orang murtad tersebut kembali kepada agama yang dianut sebelumnya, atau ia menjadi tidak beragama sama sekali.
  2. Kajian ini bukan hendak mempertentangan antara hukuman bagi orang murtad dengan dosa lain yang dilakukannya berkaitan dengan masyarakat, atau syari’ah, atau peraturan, dan hukum-hukum yang legal, atau membelot dari komunitasnya, atau membangkang terhadap hukum-hukum syara’. Karena sesungguhnya tindakan kriminal lain (selain murtad) yang dilakukan oleh orang murtad, apakah disebabkan oleh kemurtadannya atau terpisah dari kemurtadannya, maka bagi umat dan masyarakat harus melaksanakan hukum syara’ dan undang-undang atau peraturan yang berlaku terhadap si pelaku secara proporsional. Dosa A hukumannya A, dan dosa B hukumannya B, jangan sampai tertukar, karena murtad jika tidak menyebabkan hal lain yang memberatkannya bagi si pelaku, maka tidak pula harus ada keringanan.
  3. Kajian ini tidak memandang dan menuntut masyarakat atau ummat untuk mengizinkan orang murtad mendakwahkan kemurtadan baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, atau berusaha melakukan kegiatan dan gerakan untuk mengubah akidah dan kepercayaan umat dan masyarakat, atau berusaha menyerang keimanan dan keislaman mereka dengan kekuatan atau dakwah. Semua itu dianggap sbagai tindakan yang bertentangan dengan umat dan masyarakat. Jika hal itu terjadi, maka umat atau masyarakat harus menghentikannya, dan si pelaku harus menghentikan kegiatannya sesuai dengan batasan norma yang berlaku di masyarakatnya, serta nilai-nilai mulia dan maqashid syari’ah.
  4. Pokok-pokok pembahasan dalam kajian ini adalah murtad pribadi (al Riddah al Fardiyyah), dalam arti seseorang mengubah akidahnya sendiri yang menjadi dasar bagi pemikiran, faham dan tingkah lakunya, yang dalam waktu yang bersamaan ia tidak keluar dari komunitas dan sistem sosial yang dianutnya, atau dari sistem kepemimpinan yang legalitasnya diakui, baik oleh undang-undang ataupun syari’at. Dan tidak mengambil jalan pintas atau mengangkat senjata untuk berhadapan dengan masyarakan umum, tidak melahirkan sifat-sifat dan tindakan-tindakan yang konfrontatif, serta tidak mengkhianati masyarakatnya. Apa yang keluar dari orang murtad yaitu perubahan sikap akidahnya, telah melahirkan keraguan dan permasalahan tersendiri, baik sebagian maupun dari seluruh sudut pandang. Dia tidak menguasai untuk mengeluarkan apa yang ada dalam hatinya, dan dia menerima kerguan-keraguan tersebut dan terhadap pengaruh-pengaruh yang ditimbulkannya. Ia menyembunyikan kemurtadannya dan tidak berusaha untuk mengajak orang lain –sebagaimana telah disebutkan-. Setelah kita sepakat bahwa perubahan akidah tersebut termasuk murtad dan kufur, maka timbul beberapa pertanyaan: “Apakah untuk kasus seperti ini Allah telah menetapkan hadd (sanksi dan hukuman) berupa hukuman mati setelah dituntut atau tanpa tuntutan untuk tobat (kembali), sehingga menjadi kewajiban umat untuk melaksanakan hadd tersebut? kemudian umat melaksanakan hukuman mati tersebut hanya karena perubahan akidahnya, walaupun tidak dibarengi oleh tindakan-tindakan kriminal lain sebagaimana telah disebutkan? Dan jika salah seorang anggota masyarakat membunuhnya (orang murtad tersebut), pembunuh tersebut tidak diqishash dan tidak diapa-apakan kecuali hanya sanksi berupa fatwa dari hakim? Dan apakah umat wajib memaksanya untuk kembali kepada Islam dengan segala cara termasuk kekuatan? Dan apakah jika hal itu dilakukan termasuk “pemaksaan dalam agama” yang sejak pertama sudah dinegasikan oleh Alquran? Dan apakah pendapat yang mengatakan wajib membunuh orang murtad adalah ijma yang paten dan permanen dalam setiap masa, ataukah ada perbedaan pendapat yang tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang? Dan jika dikatakan wajib membunuh orang murtad, apakah hal ini berarti kekufuran (saja) pantas menjadi sebab adanya sanksi hukuman mati menurut syara’? dan apakah menurut mayoritas yang berpendapat bahwa sanksi khusus dengan sebab murtad tersebut merupakan dosa politik (jarimah siyasiah) atau tindakan kriminal biasa (jinayat)? Dan selanjutnya apakah sanksi dan hukuman tersebut dianggap benar-benar legal menurut syara’, atau sesuai dengan sifat dan watak syari’at? atau jika kita sepakat bahwa hadd itu memang benar-benar ada sebagai hadd, apakah akan dianggap sebagai pengahapus (kifarat) dan penyucian (tathir) dari dosa tersebut, karena sebagaimana di dalam nash bahwa hadd atau hudud (sanksi dan hukuman) adalah termasuk kifarat (mukaffirat)? Dan apakah murtad itu dianggap keluar dari Islam atau keluar untuk menyerang Islam?

Demikian pokok-pokok pembahasan yang akan dijelaskan di dalam kajian ini dan tidak akan melebar ke dalam pembahasan-pembahasan lain –insya Allah- dan tentunya dengan menggunakan metode yang telah disebutkan, serta dengan memohon taufiq kepada Allah agar membawa kita kepada pendapat yang lurus dan pemikiran yang benar. Dan Dia-lah Allah yang Maha Pemberi taufiq.

(BERSAMBUNG)

Entry filed under: ARTIKEL, islam, pluralisme. Tags: , , , , , , , , , , , .

STUDI ANALISIS WACANA KRITIS HAKIKAT MURTAD DALAM AL QURAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 195,004 hits
Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

PandapaCDS

Pandapa CDS


%d blogger menyukai ini: