Cahaya di atas Langit Cipasung

Juli 31, 2009 at 9:43 pm 1 komentar

Suasana pagi di Pontren Cipasung masih tampak lengang, beberapa toko yang mengitari pesantren masih tutup, belum tampak aktivitas, hanya ada beberapa santri yang lalu-lalung sekadar menikmati udara pagi. Cahaya matahari di atas langit Cipasung sangat cerah menyinari rumah-rumah beton yang kokoh, masjid, asrama santri, kampus. Aura Cipasung masih sangat terasa, kental dengan nuansa religius. Geliat kehidupan mulai terasa saat waktu menunjukan pukul 07.00 WIB, puluhan santri dengan pakaian khas, kain sarung, baju koko, kopiah dan sorban di pundak, tampak keluar dari masjid sambil menenteng kitab. Kesederhanaan, keceriaan dan ketulusan memancar dari wajah-wajah mereka, tak ada kerisauan, yang ada hanya tersirat insan-insan yang ikhlas, telah menyelami ilmu yang telah di dapatnya dari seorang ajengan. Di lain tempat, tampak ada kesibukan sekitar tiga santri sedang mencuci mobil, mungkin kepunyaan ajengan. Sedang tidak jauh dari tempat itu santri lain, sibuk membersihkan lingkungan pesantren, menyapu halaman, mengepel mesjid, mencuci pakaian dan aktivitas lainnya. Kesan pertama yang terpatri, memang aroma pesantren dengan dunia religinya sangat terasa. Tak heran bila sistim pendidikan yang paling tua di Nusantara ini tetap kokoh bertahan. Meski benturan peradaban modern terus mendesak dengan wajah pendidikan yang konvesional. Pesantren Cipasung menerapkan dua pola sistem pendidikan campuran menggunakan cara ngalogat dan pendidikan nasional. Sajian utama, terbit perdana Damar mencoba mengungkap dan menyelami ihwal denyut kehidupan Pontren Cipasung dari mulai pola pikir, sistim pendidikan, gaya hidup hingga ke dunia politik. Cipasung boleh dibilang pengurusnya sangat lengkap ada yang berprofesi sebagi dosen, guru, politikus (wakil rakyat), ajengan, budayawan, dokter, mahasisiwa dan santri dan yang lainnya. Pertama datang Damar disambut Ajengan Chobir suami Neng Ida, saat ditemui Ajengan Chobir masih memakai kain sarung, kaos bertangan pendek warna abu-abu lengkap dengan kopiahnya di ruang tamu. Tampak di dinding sebelah kiri menggantung foto Ajengan Ilyas Ruhiyat didampingi istrinya Dedeh Tsamrotul Fuadah, tampak pula foto Abah Ruhiyat pendiri Pontren Cipasung. Sedangkan agak jauh ke belakang tiga orang santri perempuan dengan Neng Ida sibuk menyediakan penganan makanan untuk santri. Damar tak sempat bincang-bincang dengan Neng Ida karena bergegas pergi mengajar. Kesederhanaan memancar dari wajah Ajengan Chobir, tak ada kesan ia seorang ajengan. Padahal Ajengan Chobir merupakan salah satu, menantu Ajengan Ilyas Ruhiyat yang mashur saat masih jumeneng. Ajengan Chobir dipercaya meneruskan tapak lacak Ajengan Ilyas dan menempati rumah almarhum, khususnya dalam pengajian ibu-ibu, mengajar santri dan menjadi salah satu pengurus Sekolah Tinggi Teknologi Cipasung (STTC). Bincang-bincangpun melebar dari awal kehidupan Ajengan Ilyas Ruhiyat hingga sistem pendidikan yang masih berjalan. “Teu aya anu robah di Cipasung mah, masih tetep sapertos kapungkur nuju jumeneng keneh Almarhum,” tuturnya. Seraya mengatakan sistim sorogan dan ngalogat santri masih berjalan, diakuinya memang cahaya ilmu di Cipasung selah wafatnya Ajengan Ilyas mungkin tak seperti beliau masih ada. Namun tak berati cahaya ilmu itu menjadi redup atau hilang. Tentunya masih banyak pengganti tongkat estapet Ajengan Ilyas Ruhiyat yang mempunyai kapasitas ilmunya yang sama. “Tangtosna oge benten mah aya, kumargi dina jiwa Ajengan Ilyas aya khos anu sifatna abstrak ngeunaan spiritual, dina hal ieu teu tiasa sadaya jalma, kagungan kaluhungan elmu hate anu sami,” tuturnya. Perbedaan yang sangat mendasar antara pendidikan pesantren dan pendidikan umum kata Ajengan Chobir hampir 24 jam santri selalu tak lepas dari pendidikan ahlak dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Misalnya, solat berjamaah, adab mencari ilmu, menghormati guru yang dalam pendidikan umum mah tidak ada. Menurut Ajengan Chobir sistim sorogan merupakan sistim yang paling terbaik dimiliki pesantren. Dalam sorogan santri diajak untuk lebih aktif mandiri dan kemampuannya menguasai ilmu di depan ajengan (guru). “Anu jelas mah santri tiasa langsung ngetes kabisana di payuneun guru iraha wae,” katanya lagi. Ada yang lebih penting lagi, imbuh Ajengan Chobir sambil tersenyum ramah, menurut Imam Al Ghazali ahlak itu tebentuk karena kebiasaan, nah kebiasaan yang baik itu ada di pesantren. Sayang Damar tidak bisa panjang lebar dengan Ajengan Chobir sebab ia ada tugas rutin di STTC ahirnya Damarpun pamitan, lalu tak sengaja bertemu dengan Ajengan Abdul Majid alumni Cipasung asal Cimerah, Desa Wargakerta, Kec. Sukarame. Ajengan Abdul Majid umurnya sudah cukup tua sekitar 64 tahun. Namun masih semangat mengikuti pangajian kemisan, warisan Abah Ruhiat yang kerap di gelar seminggu sekali. Saat itu Damar sempat bincang-bingcang sekitar Cipasung menurut pandangan alumni, hanya seorang Abdul Majid yang baru hadir saat itu. “Biasana anu sumping kemisan langkung ti tilu puluh urang,” jelasnya seraya mengeluarkan kitab seperti Jam’ul Jawami, Ihya ulumudin, Al Ahkam dan yang lainnya. Sambil mengeluarkan rokonya Abdul Majid menuturkan, sejak ditinggal Ajengan Ilyas Cipasung semakin maju, ia kerap megkikuti kemisan dengan telaten, cahaya ilmu Ajengan masih tetap bersinar tak ada perubahan, bahkan semakin mencrang. Tak lama Abdul Majid mengajak Damar berkunjung ke rumah Ajengan Ubed putra Abah Ruhiat dari pihak Emih Wetan (Ny.Badriyah alm). Namun tak lama Damarpun harus menemui KH. Abun Bunyamin Rektor IAIC yang juga dituakan meneruskan tongkat estafet Ajengan Dudung yang sedang sakit keras, pengganti Ajengan Ilyas Ruhiat. Alhamdulillah Damar bisa bertemu. Namun Pak Abun tak bisa melayani karena sedang sibuk sambil memohon maaf. “Engke siang bada lohor, kadieu deui,” katanya. Damarpun puter haluan menemui rumah Kang Acep Zamzam Noor putra sulung Ajengan Ilyas Ruhiyat yang juga budayawan dan sastrawan moyan. Sebelumnya sempat bertemu dengan Kang Acep Adang putra dari Abah Ruhiat dari pihak Emih Kulon (Ny.Aisyah alm), namun lagi-lagi tak bisa lama. Kang Acep bergegas pergi ke KPU Bandung harus melengkapi syarat-syarat karena lolos menjadi anggota DPRD I Prov. Jabar dari PKB. Sedangkan dengan Neneng Madinah yang juga terpilih menjadi anggota DPRD I Prov. Jabar dari PPP tak sempat ketemu. Tak seperti Ajengan Chobir yang lebih mengungkap pola pendidikan tradisional Cipasung dengan ngalogat dan sorogannya. Kang Acep lebih menyoroti tingkal laku para kiai yang terjun ke dunia politik kiwari. Gamblang, cerdas dan berani itulah yang tersirat kritikan pedas kepada para ajengan anu ancrub kana politik. Menurutnya banyak kiai atau ajengan yang terjun ke dunia politik suatu langkah kemunduran. Karena dunia politik tidak cocok dijadikan medan perjuangan bagi para kiai. Kultur politik di Indonesia tak mendukung ke arah itu. Apalagi kiainya hanya modal politik pas-pasan. “Itu kan sangat berbahaya, mau di bawa ke mana umat. Omong kosong bila ada yang ada mengatakan masuk politik atau jadi wakil rakyat itu untuk kepentingan umat, lah umat yang mana. Masuk politik tak beda dengan narkoba bikin orang jadi mabuk,” tegasnya. Ditegaskannya kiai tak usah lah rame-rame jadi wakil rakyat. Sebenarnya jadi kiai tu sendiri sudah menjadi pigur politik, sedang berjuang memimpin umat. Celakanya kalau sudah jadi, santri bisa terabaikan. Yah masa sih, mau berjuang di dalamnya banyak koruptor, badut politik, broker proyek dan seabreg nama-nama yang lebih jelek lagi. Lebih baik urus santri dan umat. Acep menegaskan tak berarti kiai tak boleh masuk ke ranah politik. Namun kondisi politiknya itu yang harus diperhatikan. Ada dua alasan kenapa kiai rame-rame jadi caleg. “Keinginan yang kuat dan niat busuk,” tandasnya. Artinya, kata Acep kedua landasan itu lah yang melatarbelakangi mereka masuk caleg. Sebab menjadi wakil rakyat banyak fasilitas yang menjanjikan. Sekitar 2 jam Damar berdialog seru dengan Kang Acep, waktu dzuhurpun tiba, karena janji dengan Pak Abun Bunyamin. Namun Pak Abun saat ditemui ada acara mendadak harus ke Sukarame. Esoknya baru, baru bisa berdiaog langsung di rumahnya, memakai pakaian serba putih Pak Abun menerima Damar sangat santun. Pak Abun menuturkan hampir sama dengan Ajengan Chobir, tak ada yang berubah Cipasung. Sebab sebelum wafat Ajengan Ilyas Ruhiyat sempat mengalami sakit cukup lama, saat itulah proses pengurusan sudah dikelola oleh pengurus keluarga lainnya termasuk dirinya. Berkat kepeminpinannya itu kini IAIC terus berkembang, bahkan mahaiswanya terus bertambah, pernah ada rencana akan melaksanakan fakultas umum,namus saran dari dosen yang mengajar di Pesatren Tebuireng niat itu diendapkan. Pasalnya bila ada fakultas umum, fakultas agama pamornya menurun, bahkan nyaris hilang. “Kini IAIC sedang menyelanggarkan program baahsa Arab unggulan dengan Depag. Insya Allah ke depan IAIC mampu melahirkan mahasiswa yang mahir menggunakan bahsa Arab,” harapnya.(MSA)***

disadur dari : Majalah Sunda Damar 2009

Entry filed under: ARTIKEL, islam. Tags: , , , , , , , , , , , , .

PELATIHAN PENERAPAN TEKNOLOGI KACANG TANAH STUDI ANALISIS WACANA KRITIS

1 Komentar Add your own

  • 1. ADIEN  |  Maret 29, 2011 pukul 4:01 pm

    Asalamualaikum?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 195,004 hits
Juli 2009
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

PandapaCDS

Pandapa CDS


%d blogger menyukai ini: