HAKIKAT MURTAD DALAM AL QURAN

Agustus 25, 2009 at 3:48 pm 5 komentar

BAB II

HAKIKAT MURTAD DALAM AL QURAN

A. Ayat-ayat Alquran yang Menunjukkan Murtad sebagai Bentuk Kekufuran.

  1. QS Al Baqarah [2]: 217:

    Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, mka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka mitulah penghuni neaka, mereka kekal di dalamnya.

    Ayat ini menunjukkan bahwa amal orang murtad dihapus di dunia dan di akhirat.

  2. QS Ali Imran [3]: 86:

    Bagaimana Allah akan menunjukkan kepada suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak akan menunjukkan orang-orang yang dzalim

    Ayat tersebut menunjukkan lenyapnya hidayah dan lenyapnya potensi kesiapan untuk menerima hidayah.

  3. QS Ali Imran [3]: 90:

    Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima taubatnya, dan mereka itulah orang-orang yang sesat.

    Ayat tersebut menunjukkan bahwa murtad yang diulang-ulang menyebabkan ditolaknya tobat.

  4. QS Ali Imran [3]: 91:

    Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterimadari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun mereka menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa ynag pedih dan sekali-kali mereka tidak akan mendapatkan penolong.

    Ayat tersebut menunjukkan bahwa mati di dalam kekafiran (murtad) menyebabkan tidak diangkatnya segala amal dan pengorbanannya di dunia. Hal ini juga mengisyaratkan adanya makna ejekan dan olok-olok, karena dari mana seorang murtad memiliki emas sepenuh bumi sesudah mati.

  5. QS Ali Imran [3]: 100:

    Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Alkitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.

    Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang ahli kitab adalah orang yang menyebabkan orang yang lemah iman kepada kemurtadan.

  6. QS Ali Imran [3]: 106:

    Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula muka yang menjadi hitam muram. Adapun orang yang menjadi hitam muram mukanya(kepada mereka dikatakan): “Mengapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.

    Ayat itu menunjukkan adanya adzab yang menyakitkan yang menunggu orang-orang murtad.

  7. QS Ali Imran [3]: 177:

    Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi madharat kepada Allah sedikitpun, dan bagi mereka adzab yang pedih.

    Ayat ini menunjukkan bahwa kemadharatan orang murtad kembali kepada dirinya sendiri.

  8. QS Al Maidah [5]: 54:

    Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.

    Ayat ini menunjukkan bahwa orang murtad tidak mencintai Allah, dan tidak akan memadharatkan Allah sesuatu pun darinya, bahkan Allah akan mengganti mereka dengan orang-orang yang lebih baik.

  9. QS Al Nisa [4]: 137:

    Sesungguhnya orang-orang yang beriman, kemudian kafir, kemudian beriman (lagi), kemudian kafir (lagi), kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjukkan mereka kepada jalam yang lurus.

    Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang murtad berulang-ulang tidak akan mendapatkan ampunan Allah, walaupun beramal.

  10. QS al Nahl [16]:106:

    Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah ia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah) kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar.

    Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang yang dipaksa murtad yang tidak ada pilihan lagi, maka hal itu tidak mempengaruhi imannya, kecuali orang yang memilih kekafiran (murtad) tersebut atas pilihannya sendiri dan tidak dipaksa.

  11. QS Al Hajj [22]:11:

    Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan, ia tetap dalam keadaan itu. Dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, maka berbaliklah ia ke belakang (murtad). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

    Ayat tersebut menunjukkan bahwa lemah iman dan keyakinan serta menyembah Allah tidak disertai dengan totalitas kepasrahan adalah merupakan salah satu pendorong yang efektif kepada kemurtadan.

  12. QS Muhammad [47]: 32:

    Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalagi (manusia) dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi madharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan mengahpus (pahala) amal-amal mereka.

    Ayat tersebut menunjukkan bahwa kekafiran tidak akan memberikan madharat kepada Allah. Tetapi sebaliknya, justru kekafiran mengakibatkan penghapusan amal pelakunya.

Ayat-ayat Alquran di atas saling mempertegas dan memperjelas hakikat murtad, baik pengertian etimologis maupun terminologis, yaitu mengandung arti kembali dari Islam dan Iman setelah menerimanya dan meyakini bahwa iman dan Islam tersebut adalah merupakan perintah Allah Swt. Kembali atau berpulang yang secara leksikal memang merupakan terjemahan dari kata riddah (murtad), sama saja baik dalam arti ia meninggalkan iman dan Islam kembali kepada agama lamanya (sebelumnya), atau pindah untuk memilih agama lain yang bukan Islam yang juga bukan agama lamanya (agama yang dipeluknya sebelum masuk Islam), atau untuk tidak beragama sama sekali dan tidak memiliki iman terhadap agama apapun (atheis). Semuanya merupakan riddah (murtad), karena kembali meninggalkan Islam setelah memeluknya.

Dengan demikan, jelaslah bahwa riddah (murtad) dalam pengertian yang diberikan oleh Alquran menggambarkan proses kembalinya seseorang dari sesuatu yang telah ditempuh atau diraihnya. Alquran, ketika menggunakan kata riddah (atau yang sejenisnya) tidak selamanya memiliki makna kembali dari Islam saja, atau kembali secara abstrak (maknawi), melainkan digunakan pula untuk arti yang bersifat inderawi (hissy), atau memiliki arti dua-duanya sekaligus, yaitu; secara abstrak (maknawi) dan secara inderawi (hissy). Oleh karena itu Al Raghib al Asfahany dalam kamusnya Mu’jam Mufradat Alfadz Alquran mengisyaratkan bahwa Alquran ketika menggunakan kata riddah mengarah kepada dua makna tersebut. Ia mengatakan:

Al Radd berarti berpalingnya (al Sharfu) sesuatu baik dzatnya maupun keadaannya. Seperti Radadtuhu Fartadda (Aku mengembalikannya, maka ia pun kembali). Hal ini digunakan di dalam Alquran, Wa Laa Yuraddu Ba’suhuu an al Qaum al Mujrimiin (QS Al An’am [6]: 147).

1. Al Radd
bersifat dzati
:

  1. QS Al An’am [6]: 28, Walau Raddu la-‘Aaduu li Maa Nuhuu ‘anhu
  2. (QS Al Isra [17]: 6, Tsumma Radadnaa lakum al Karrah
  3. QS Shaad [38]: 33, Radduuha Alayya
  4. (QS Al Qashash [28]: 13, Faradadnaahu ilaa Ummihi
  5. QS Al An’am [6]: 27, Yaa Laitanaa Nuraddu wa Laa Nukadzdzibu
  6. Dan lain-lain.

2. Al Radd dalam keadaan (haliyah);

  1. QS Ali Imran [3]: 149, Yarudduukum ‘ala A’qaabikum.
  2. QS Yunus [10]: 107, Wa in Yarudduka bi Khairin fa Laa Raadda li Fadhlihi
  3. QS. Hud [11]: 76, ‘Adzaab Ghairu Marduud.
  4. QS Al Kahfi [18]: 37,Wa lain Rudidta ila Rabbii laajidanna Khairan minhaa Munqaliban
  5. QS Al Taubah [9]: 95 dan QS Al Jumu’ah [62]: 8, Tsumma Turadduuna ilaa ‘Aalim al Ghaib wa al Syahaadah
  6. QS Al An’am [6]: 62 dan QS Yunus [10]: 30, Tsumma Ruddu ila allahi Maulaahum al Haqq
  7. Dan lain-lain.

3. Al Radd sama maknanya dengan al Raj’u atau sebaliknya :

  1. QS Al Baqarah [2]: 28 dan QS Al An’am [6]: 36, Tsumma ilahi Turja’uun
  2. QS Tha Haa [20]: 55, Minhaa Khalaqnaakum wa fiiha Nu’iidukum
  3. QS Tha Haa [20]: 55,Wa minhaa Nukhrijukum Taaratan Ukhraa
  4. QS Ibrahim [14]: 9, Faraddu Aidiihim fii Afwaahihim
  5. QS Al Baqarah [2]: 109, Wa lau Yarudduukum min Ba’di Iimanikum Kuffaaran
  6. QS Ali Imran [3]: 100: Yarudduukum ba’da Iimaanikum Kaafiriin
  7. Dan lain-lain.

Selanjutnya Al Asfahany mnejelsakan bahwa al Irtidad dan al Riddah, secara leksikal-garamatikal-etomologis berarti: kembali (al Ruju’ ) ke jalan di mana ia datang semula. Tetapi kata al Riddah selanjutnya secara gramatikal-terminologis khusus digunakan Alquran berarti kembali ke dalam kekafiran. Sedangkan kata al Irtidad memiliki makna umum, baik kembali kepada ke kafiran atau yang lainnya. Penggunaan kedua kata tersebut bisa diperhatikan pada ayat-ayat berikut, antara lain :

  1. QS Muhammad [47]: 25, Inna al-Ladziina irtadduu ‘ala Adbaarihim.
  2. QS Al Maidah [5]: 54, Yaa Ayyuha al-Ladziina Aamanuu Man Yartadid Minkum ‘an Diinihi.
  3. QS Al Baqarah [2]: 217, Wa Man Yartadid minkum ‘an Diinihi fa-Yamut wa-Huwaa Kaafirun.
  4. QS A; Kahfi [18]: 65, Fa-irtaddaa ‘ala Aatsaarihimaa Qishashan.
  5. QS. Muhammad [47]: 25, Anna al-Ladziina irtadduu ‘ala Adbaarihim Tabayyana lahum al Hudaa.
  6. QS Al An’am [6]: 71, Wa Nuraddu ‘ala A’qaabinaa.
  7. QS Al Maidah [5]: 23, Wa-Laa Tartadduu ‘ala Adbaarikum.
  8. QS Yusuf [12]: 96, Falammaa an Jaa-aha al Basyiiru Alqaahu ‘ala Wajhihii fa-irtadda Bashiiran.
  9. QS al Nisa [4]: 82, Wa-lau Rudduuhu ila al Rasuuli wa ila Uli al Amri
  10. QS al Nisa [4]: 58, Fa-in Tanaaza’tum fi Syai-in fa Rudduuhu ila Allah wa al Rasuuli.
  11. Dan lain-lain.

Dengan demikian, kata al Riddah di dalam Alquran berarti “Secara terang-terangan kembali meninggalkan Islam dan mengosongkan dirinya dari Islam setelah ia memeluknya.” Hampir semua mufassir Alquran sepakat menafsirkan kata al Riddah dengan “Meninggalkan Islam untuk kembali menuju kepada kekufuran.” Mereka juga mengisyaratkan bahwa ayat-yat tersebut memiliki makna ancaman dan ultimatum (tahdid) kepada orang-orang yang telah memeluk Islam untuk tidak meninggalkannya, atau mempermudah (tasahul) untuk keluar-masuk Islam. Di samping itu, ayat-ayat tersebut juga memotivasi orang yang telah masuk Islam untuk memegangnya dengan teguh dan tidak meninggalkannya. Sebab Islam adalah kebenaran dan petunjuk yang hakiki dan sebab kehidupan yang paling kuat dan pasti. Islam juga berarti lurus dalam berjalan, atau berjalan di atas kebenaran (al Haq) yang nyata yang tidak akan tersesat orang yang menempuhnya. Demikian pendapat al Qurtubi ketika menafsirkan QS Al Baqarah [2]: 217. Al Zamakhsyary, ketika menafsirkan ayat yang sama menambahkan bahwa ayat-ayat tersebut di atas berisi ultimatum bagi kaum Muslimin dan motivasi agar terus menerus di dalam Islam sampai meninggal dunia. Hal ini juga dikemukakan oleh Al Thibrisy, Al Alusy, Al Naisabury, Al Baidhawy, dan Al Thabary dalam Jami’ al Bayan.

B. Kebebasan Berakidah adalah tujuan utama dari Maqasid Syari’ah

Kebebasan manusia merupakan salah satu dari berbagai nilai mulia yang juga merupakan tujuan utama dari maqasid syari’ah. Bahkan bisa jadi secara khusus, yang fungsi paling penting untuk adanya iman dan tauhid adalah membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk dan membebaskannya dari khurafat-khurafat serta dari bentuk-bentuk penyembahan berhala (watsaniyyah) lainnya, dan menyampaikannya kepada Allah, dalam arti tidak ada yang ditakuti selain Allah, tidak meminta pertolongan kecuali hanya kepada Allah, dan menyerahkan dirinya secara total kepada-Nya.

Untuk memperkuat makna tersebut dan membebaskan manusia secara utuh, maka Allah menurunkan berbagai ayat yang melegitimsi kebebasan ini, menjaga dan menjaminnya, serta menganggapnya sebagai substansi kemanusiaan yang jika kebebasan ini lenyap, maka lenyap pula peranan manusia dalam seluruh eksistensinya. Lebih dari dua ratus ayat yang menjelaskan hal tersebut dimulai dengan ayat yang menggambarkan makna penghambaan (ubudiyyah) yang sebenarnya. dan membandingkan hakikat ibadah tersebut dengan penyembahan kepada selain-Nya. Dengan demikian, Allah menjelaskan bahwa penyembahan dan penghambaan manusia kepada-Nya adalah merupakan pembebasan dan kemuliaan, bukan malah merendahkan derajat kemanusiaan dan menghinakannya. Allah berfirman di dalam QS Al Nahl [16]: 73-78 :

Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rizki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun) [73] Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui [74] Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang Kami beri rizki yang baik dari kami, lalu dia menfkahkan sebagian dari rizki itu secara sembunyi dan seccara terang-terangan. Adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui [75] Dan Allah membuat perumpaman; dua orang laki-laki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dan dia tidak mendatangkan suatu kebajikanpun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus? [76] Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu [77] Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur [78] (QS Al Nahl [16]: 73-78).

Alquran pun telah mengukuhkan kebebasan manusia yang paling tinggi dan paling penting yang dijaminnya dan memiliki posisi paling istimewa untuk dilestarikan adalah kebebasan berkeyakinan dan berakidah (huryah al ‘aqidah), kemudian kebebasan berpendapat dan berekspresi (huryah al ta’bir), dan selanjutnya kebebasan-kebebasan lain yang menjadi simbol kemanusiaan manusia (insaniyat al insan). Dengan kata lain, Alquran telah menegaskan bahwa kebebasan berakidah, kebebasan berpendapat dan kebebasan berkreasi dan berekspresi serta kebebasan-kebebasan lainnya merupakan hak asasi manusia yang dijamin dan harus dijaga.

Dan kami tidak menemukan sebagian besar ayat-ayat yang menegaskan adanya keharusan untuk menjaga dan melestarikan seluruh kebebasan manusia ini kecuali disejajarkan dengan nilai-nilai yang sangat tinggi seperti tauhid (al tauhid), penyucian jiwa (al tazkiyyah), dan kemakmuran (al ‘umran). Hal ini juga setara dan berkaitan erat dengan maqasid syari’ah, seperti; keadilan (al ‘adalah), kebebasan (al hurriyah), persamaan (al musawah), dan lain-lain. Berapa banyak ayat Alquran yang menegaskan secara khusus adanya kebebasan berakidah dan larangan adanya paksaan dalam menentukan pilihan akidahnya atau mengubah apa yang telah menjadi keyakinannya. Alquran juga menegaskan bahwa akidah merupakan hak khusus dan perogratif masing-masing, serta merupakan daerah privacy antara seseorang dengan Tuhannya. Maka tidak ada seorangpun yang boleh memaksakan akidah dan keyakinannya kepada orang lain atau merubah akidahnya atas nama apapun dan dalam keadaan apapun.

Kebebasan berakidah merupakan target utama Alquran dan menganggapnya sebagai sebuah hak asasi seseorang. Kebebasan berakidah ini dijamin oleh berbagai ayat Alquran yang satu sama lainnya saling menguatkan bahwa hak asasi mausia yang satu ini wajib dijaga dan dilestarikan serta dijauhkan dari campur tangan pihak luar. Hal ini bisa dibaca dalam ayat :

Tidak ada paksaan untuk (memeluk) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dengan jalan yang salah. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Al-Baqarah [2]: 256).

Sayyid Rasyid Ridha dalam tafsirnya Al Manar, telah menjelaskan sebab turunnya (asbab al nuzul) ayat di atas dan dapat dijadikan rujukan utama untuk menafsirkannya dengan tidak mengabaikan pendapat-pendapat yang dikira telah menghapus atau me-nasakh-nya atau menafsirkannya dengan sesuatu yang tidak sesuai. Ia menjelaskan: “Abu Daud, Al Nasaiy, Ibnu Hibban, dan Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Ada seorang wanita yang tidak memiliki seorang anak laki-laki pun yang hidup, sehingga ia berjanji jika memiliki anak laki-laki yang hidup, maka ia akan menjadikannya sebagai seorang yahudi. Ketika Bani Nadhir dikunjungi, di antara mereka terdapat anak-anak kaum Anshar. Maka mereka berkata: “Jangan ajak anak-anak laki-laki kami.” Kemudian Allah menurunkan ayat “Laa Ikraaha fi al Diin (Tidak ada paksaan dalam agama).”

Ibnu Jarir menceritakan riwayat lain dari ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang laki-laki muslim dari kaum Anshar keturunan Bani Salim yang dipanggil sebagai “Al Hashin (Yang kokoh/Sang Kancil).” Ia memiliki dua orang anak laki-laki yang memeluk agama Nasrani. Kemudian ia bertanya kepada Rasulullah Saw. : “Apakah aku boleh memaksa mereka (anak-anaknya), karena ia tidak mau kecuali memeluk Nasrani,” maka Allah Swt. menurunkan ayat “Laa Ikraaha fi al Diin (Tidak ada paksaan dalam agama).” Di dalam sebagian tafsir diceritakan bahwa ia memaksa kedua anaknya, maka para sahabatpun berdebat dan mengadukannya kepada Rasulullah Saw. Orang itu pun berkata: “Ya Rasulallah, apakah (aku tega) dua belahan jiwaku masuk neraka dan aku melihatnya?” Dan Rasulullah pun tidak mengizinkannya untuk memaksa kedua anaknya memeluk Islam.

Ibnu Jarir banyak meriwayatkan tentang para perempuan di masa jahiliyah yang bernadzar akan meyahudikan anak-anak mereka yang laki-laki, jika mereka hidup. Dan bahwa kaum Muslimin (setelah memeluk Islam) berusaha memaksa anak-anak mereka yang memeluk agama Ahli Kitab untuk memeluk Islam, maka turunlah ayat tersebut yang merupakan penjelas bagi apa yang terjadi. Dalam riwayat lain, Ibnu Jarir menceritakan dari Said bin Jubair bahwa ketika turun ayat tersebut Rasulullah Saw. bersabda, “Allah telah memberikan pilihan kepada sahabat-sahabat kalian. Jika mereka memilih kalian, maka mereka di pihak kalian. Dan jika mereka memilih mereka, maka mereka berada di pihak mereka.”

Dalam tafsirnya, Ibnu Jarir Al Thabary –semoga Allah merahmatinya—”Inilah hukum agama (yang oleh kebanyakan musuhnya Rasulullah Saw. dianggap telah menggunakan kekuatan dan pedang ketika melakukan dakwahnya. Siapa yang menerimanya maka ia selamat dan siapa yang menolaknya, maka ia dihukum dengan pedang) apakah Rasulullah Saw. menggunakan pedang dan memaksa manusia untuk memeluk Islam di Makkah ketika hari-harinya di sana shalatpun dilakukannya dalam keadaan bersembunyi dan orang-orang musyrik terus menerus melakukan penindasan dan penganiayaan terhadap kaum Muslimin dengan berbagai siksaan yang tidak henti-hentinya sampai akhirnya Rasulullah Saw. merasakan desakan untuk melakukan hijrah ke Madinah? Atau apakah mereka berkata bahwa pemaksaan tersebut dilakukannya di Madinah setelah Islam mendapatkan kemenangan?. Ayat tersebut justeru diturunkan pada masa awal-awal kekuatan dan kemuliaan Islam. Sebab peperangan dengan Bani Nadhir terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ke empat hijriyyah. Al Bukhary berkata: “Hal itu terjadi sebelum perang Uhud yang tidak ada perbedaan pendapat bahwa hal itu adalah pada bulan Syawwal tahun ketiga hijriyyah yang pada waktu itu kaum kafir Makkah senantiasa memerangi kaum Muslimin. Bani Nadhir telah membatalkan perjanjian mereka dengan Rasulullah Saw. yang telah dua kali mereka melakukan pengkhianatan terhadap Rasulullah Saw., padahal mereka hidup berdampingan di seputar Madinah. Namun Rasulullah Saw. tidak pernah mengusir dan mengeluarkan mereka dari Madinah, sampai akhirnya –disebabkan oleh kelakuan mereka sendiri- barisan Rasulullah terpaksa mengepung dan mengeluarkan mereka dalam keadaan kalah. Namun demikian, Rasulullah Saw. tetap tidak mengizinkan para sahabatnya yang memiminta izin untuk memaksa anak-anak mereka yang memeluk agama Yahudi untuk kembali memeluk Islam, dan melarang anak-anak tersebut untuk keluar bersama masyarakat Yahudi. Hal tersebut merupakan hari-hari permulaan yang dirasakan oleh kaum Muslimin sebagai adanya sesuatu yang merugikan Islam. Al Ustadz al Imam Ibnu Jarir berkata: “Telah terjadi perjanjian dengan sebagian aliran kepercayaan (agama-agama) –terutama—dengan Nashrani – yang berisi tekanan untuk memeluk agama Nashrani dengan paksa. Hal ini merupakan upaya mencampuradukkan urusan politik dengan masalah agama, karena keimanan –yang merupakan pokok dan substansi agama— adalah merupakan implementasi dari gerak hati yang tidak mungkin dan tidak harus dilakukan dengan unsur-unsur paksaan, melainkan harus melalui penjelasan, penerangan dan bukti otentik. Oleh karena itu, Allah Swt. Berfirman, Qad Tabayyana al Rusydu min al Ghayy (Telah jelas (bedanya) petuntuk dengan kesesatan). Yakni, telah nyata jelas bahwa agama ini (Islam) adalah berisi petunjuk, penjelasan, kebahagiaan, yang senantiasa berada pada rel cahaya dan kebenaran, sedangkan agama-agama yang menentangnya berada dalam kesesatan. Hal itu juga diperkuat dengan firman-Nya, Wa Man Yad’u ma’a Allah Ilaahan Aakhar Laa Burhaana Lahu bihi Fainnamaa ‘inda Rabbihi innahuu Laa Yuflihu al Kaafiruun (QS Al Mu’minun [23]: 117). Kemudian Allah berfirman kepada Rasulullah Saw., Lasta ‘alaihim bi Mushaithir (Engkau (Muhammad) bukanlah pemaksa) (QS Al Ghasyiah [88]: 22), dan firman-Nya, Maa Anta ‘alaihim bi Jabbaar, Fa Dzakkir bi Alquran man Yakhaafu Wa’iid (QS Qaaf [50]: 45), dan firman-Nya: Wa Maa ‘alaika illa al Balagh wa ‘alaina al Hisab (Maka engkau hanyalah berkewajiban menyampaikan, dan Kamilah yang melakukan perhitungan) (QS Al Ra’d [13]: 4), dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. tidak harus menggunakan cara apapun yang berbetuk paksaan dan memaksakan akidahnya kepada orang lain. Dan Allah Swt. Maha mengetahui jika saja keimanan mungkin dilakukan dengan paksaan, maka tentu akan memerintahkan para rasul-Nya untuk memaksa manusia beriman dan menerima Islam. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya: Wa Lau Syaa Allahu maa Asyrakuu wa maa Ja’alnaaka ‘alaihim Hafiidza wa Maa Anta ‘alaihim bi Wakiil (QS Al An’am [6]: 107), dan irman-Nya, A fa Anta Tukrihu al Naasa hatta Yakuunuu Mu’miniin (QS Yunus [10]: 99). Allah Swt. Juga telah menjelaskan bahwa kepercayaan-kepercayaan (al aqa’id) tidak harus tunduk atas dasar jenis paksaan apapun walaupun hanya berbentuk harapan dan keinginan untuk menyelamatkan objek dakwah., untuk itu Allah berfirman: Wa maa Aktsara al Naasi wa lau Harahta bi Mu’miniin (QS Yusuf [12]: 103). Namun yang ada adalah Allah Swt. menganjurkan untuk terus menerus secara kontunu melakukan dakwah mengajak beriman dan melawan kukufuran dengan cara hikmah dan nasihat yang baik (mau’idzah al hasanah) serta dengan jika terpaksa harus adu argumen (mujadalah), maka lakukanlah dengan cara yang paling baik, untuk itu Allah berfirman, Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik serta debatlah mereka dengan carayang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Mengetahui terhadap orang yang sesat dari jalan-Nya dan Dia Maha Mengetahui terhadap orang-orang yang menerima petunjuk (QS al Nahl [16]: 125).

Dengan demikian, jelaslah bahwa kebebasan berakidah dijamin oleh begitu banyak ayat Alquran yang dianggapnya sebagai kebebasan absolut sesuai dengan pilihan masing-masing yang tidak dibarengi dengan sanksi (had/hudud) apapun, dan tidak ada yang berhak megadakan perhitungan apapun kecuali Allah.

Sebagian para ahli telah menjelaskan sikap Alquran terhadap dua jenis kafir; pertama, terhadap kafir asli (orang yang menjadikan kekufuran sebagai pilihan pertamanya) dan tidak berusaha (berkeinginan) untuk pindah keyakinan; kedua terhadap orang yang kufur setelah sebelumnya menjatuhkan pilihan dalam keimanan. Maka Alquran mentolelir kebebasan pilihan bagi yang pertama, dan menentang kebebasan pilihan bagi yang kedua. Maka Allah berfirman:

Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barang siapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sesungguhnya orang itu telah sesat dari jalan yang lurus [108] Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu [109] (QS Al Baqarah [2]: 108-109),

Bagaimana Allah akan menunjukkan sesuatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orng yang dzalim [86] Mereka itu, balasannya ialah bahwasannya laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat malaikat dan manusia seluruhnya [87] Mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh [88] Kecuali orang-orang yang tobat, sesudah kafir itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [89] Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima taubatnya, dan mereka itulah orang-orang yang sesat [90] (QS Ali ‘Imran [3]: 86-90)

Dan ayat-ayat lain yang telah dijelaskan sebelumnya.

Ayat-ayat tersebut dan ayat-ayat lain yang tidak disebutkan di sini mempertegas bahwa murtad hanya dibalas dengan siksa akhirat tanpa dibarengi dengan hukuman dunia bagi pelakunya. Hal ini dengan sangat jelas dikemukan dalam firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, kemudian kafir, kemudian beriman (lagi), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjukkan mereka kepada jalan yang lurus QS Al Nisa [4]: 137).

Ayat-ayat yang senada tersebut seluruhnya jelas tidak menyebutkan sanksi dunia bagi orang murtad sama sekali, tidak ada hukuman mati, atau yang lebih ringan dari itu sekalipun. Sebab sesunggunhnya hukum Alquran adalah hukum yang memiliki prinsip kemudahan (takhfif) dan kasih sayang (rahmah), hukum yang menegaskan, menjamin dan memelihara adanya kebebasan berakidah, hukum yang mempertegas bahwa keimanan dan kekufuran adalah wilayah pribadi dan masalah privacy antara seseorang dengan Tuhannya. Dan sesungguhnya sanksi atau hukuman bagi kekufuran dan kemurtadan setelah iman adalah hak Allah yang akan ditimpakannya di akhirat saja. Dalam masalah ini, Allahlah Sang Pemilik pertama dan terakhir.

Alquran melalui ayat-ayatnya telah menjelaskan kekejian dan kebusukan tindakan dan dosa murtad, dan menjelaskan pula bahwa siapa yang terjerumus ke dalam kemurtadan maka ia telah berada dalam wilayah kekufuran, maka ayat-ayat tersebut menjelaskannya tanpa menyebutkan adanya sanksi dan hukuman duniawi: Wa maa Kaan Rabbuka Nasiyya.

Entry filed under: ARTIKEL, islam, pluralisme, Tak Berkategori. Tags: , , .

DILEMA HUKUM PANCUNG BAGI YANG MURTAD RILIS: Tolak Intervensi Kekuasaan terhadap KPK

5 Komentar Add your own

  • 1. Hamba Allah  |  April 29, 2010 pukul 6:51 am

    maaf ayat paling atas AL-BAQARAH 217 bukan itu artinya…..,mohon di koreksi ulang….

    Balas
  • 2. yoyon  |  Oktober 6, 2010 pukul 1:30 am

    mantap,,kunjungi blogku

    Balas
  • 3. muhammadadiidcat  |  Desember 20, 2013 pukul 9:41 am

    TERIMA KASIH MOHN IZIN UNTUK SEMUANYA

    Balas
  • 4. Ismail Fachmi  |  Januari 4, 2014 pukul 10:44 am

    BC. Hamba Allah : ayat sdh benar, mohon sdr cek lagi di quran,mungkin sdr hanya membaca bagian atas saja,

    Balas
  • 5. Bunda Alissa  |  Juni 30, 2014 pukul 3:30 am

    Bagaimana jika menduakan hukum? apakah termasuk murtad?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 132,388 hits
Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

PandapaCDS

  • RT @kmrtasik: SELAMAT IDUL FITRI 1 SYAWAL 1435 H. SEMOGA SEMAKIN MELIMPAH KEBERKAHAN UNTUK UMAT MANUSIA SEMUA 3 days ago
  • Selamat kepada pemenang pilpres 2014, semoga bisa memegang amanah dan berkarya nyata utk rakyat Indonesia 1 week ago
  • Selamat menunaikan ibadah puasa sahabat semua, semoga dgn puasa kita dilimpahi keberkahan dan keselamatan. 1 week ago
  • SELAMAT ATAS TERSELENGGARANYA PILPRES 2014 YANG BERJALAN AMAN DAN DAMAI, SELAMAT KEPADA PASANGAN CAPRES/CAWAPRES... fb.me/1e7w4cxPX 3 weeks ago
  • selamat pagi selamat memasuki bulan penuh berkah 3 months ago

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 85 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: