MENDEFINISIKAN TUHAN
Juni 19, 2009

Oleh:
Ayi Ahyar Firdaus, SPd*
Tuhan bagi sebagian orang adalah sosok yang dioknumkan sebagai sesuatu yang tinggi dan berkuasa. Ia adalah sumber pengetahuan dan inspirasi, sehingga Sosok Tuhan dibutuhkan sebagai pelampiasan segala masalah hidupnya. Kuasa Tuhan bagi sebagaian orang merupakan sesuatu yang mutlak yang didefinisikan sebagai penentu segala sesuatu, tetapi ada juga yang mendefinisikan Tuhan sebagai sosok yang memberikan kekuatan sehingga ia menjadikan Tuhan sebagai energy Maha besar untuk bertindak. Namun demikian Sosok Tuhan tetap tidak terdefinisikan sebagai materi (unknown) yang dapat dijadikan bahan perenungan empiris atau pengembangan pengetahuan yang bersifat positive.
Di kalangan umat beragama Tuhan merupakan sesuatu yang mutlak,sumber segala sumber, penyebab pertama, pemegang otoritas kehidupan, bahkan otoritasnya berlaku terhadap segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Pemahaman yang sempurna terhadap Tuhan akan mengantarkan mereka kepada keyakinan bahwa relaitas mutlak itu hanya milik Tuhan, selain Tuhan adalah sesuatu yang hanya menggambarkan kekuasaan-Nya. Ketidaktahuan atau keraguan tentang-Nya adalah dosa besar dan akan menimbulkan murka Tuhan. Keyakinan yang tiak didasarkan pada pemahaman dan rumusan kesempurnaan tuhan adalah dosa besar, melebihi dosa-dosa kemanusiaan dan sosial. Yang lebih hebat lagi segala bentuk kebaikan yang tidak berasal dari keyakinan ketuhanan dianggap tidak berarti apa-apa. Inilah yang kita kenal dengan aliran fatalisme (jabariah)
Namun ada pula yang memposisikan tuhan tidak lebih sebagai pemeberi mandat dan perintah saja, Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan segala potensi dan karakternya dan diberi kebebasan penuh untuk menentukan segala tindakan dan mewujudkan kehendak. Tuhan tidak lagi mengintervensi segala bentuk tindakan atau proses alam yang terjadi, yang menjadi standar baik dan buruk tindakan itu adalah akal (rasio). Tuhan hanya menilai akhir dari tindakan tersebut sesuai dengan pertimbangan akal dan moral yang dikembangkanya. Inilah yang kita kenal sebagai aliran FreeWill (Qodariah).
* Analis Center for Development Studies
Entry Filed under: islam. Tag: agama, keyakinan, Tuhan, rasio, moral, qodariah, maha, fatalisme, jbariah, freewill.
3 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
Bernardia Vitri | Juni 19, 2009 at 4:13 pm
Atheist and Theist… Antara percaya tuhan ada dan tidak ada…
Iman adalah kepercayaan…
Atheist dan Theist sama-sama memiliki Iman…
2.
koalisikmrt | Juni 20, 2009 at 8:53 am
ya ya ya
3.
koalisikmrt | Juni 20, 2009 at 8:55 am
masalah iman adalah masalah manusia dengan tuhannya, Yang penting Brantas Korupsi sebab korupsi dapat mebyengsarakan banyak orang dan membuat orang jadi atheis