DANAU TOBA

April 8, 2008

Danau Toba merupakan salah satu objek wisata kebanggaan masyarakat Indonesia yang berada di wilayah Provinsi Sumatera Utara. Ribuan wisatawan setiap tahunnya datang mengunjungi Danau Toba, baik yang berasal dari dalam negeri (domestik) maupun yang datang dari mancanegara. Disamping itu, dalam sejarahnya,

Danau Toba menjadi icon Sumatera Utara. Hal ini barangkali berkaitan dengan nilai jual (keunikan) yang sangat tinggi yang dimiliki oleh Danau Toba, khususnya sebagai objek wisata alam. Panorama alamnya, yang hampir tidak ada duanya.

Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik sebesar 100km x 30km di Sumatera Utara, Sumatera, Indonesia. Di tengahnya terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir.  Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2800km3, dengan 800km3 batuan ignimbrit dan 2000km3 abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar ribuan saja. Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.

 

Pada aspek hidrologis, Danau Toba merupakan sebuah kawasan Daerah Tangkapan Air-DTA (Catchment Area) raksasa dan sangat vital bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Jumlah debit air yang masuk dan yang keluar seimbang, menjadikan kondisi air Danau Toba sangat stabil. Akan tetapi, dengan ulah manusia, keseimbangan ini menjadi terganggu. Akibatnya permukaan air di Danau Toba mengalami fluktuasi.

Kemudian, dilihat dari segi hutan dan vegetasinya Danau Toba juga memiliki ciri tersendiri. Hal ini terlihat dari hutan di sektar Danau Toba yang sangat luas sebagai daerah Tangkapan Air Danau Toba. Dari sekitar 260.154 Ha, kurang lebih 94.196 Ha terdiri dari hutan primer dan sekunder. Sedangkan sisanya adalah daratan kering, lahan terbuka dan rawa.

Luasnya lahan seperti itu kemudian digunakan untuk membangun berbagai industri di sekitar Danau Toba. Kemudian ditambah dengan kondisi terbelakangnya masyarakat di sekitar Danau Toba, serta ditunjang oleh ketersediaan sumber daya untuk industri, membuat para pemilik modal untuk membangun industri di sekitar Danau Toba. Dengan alasan ini ada semacam pembenaran bagi para pemilik modal untuk mengeksploitasi sumber daya Danau Toba.

Berbagai aktivitas pemanfaatan sumber daya alam, ternyata lebih bersifat eksploratif tanpa memperhatikan aspek kesinambungan dan kelestarian alam. Padahal, Danau Toba sangat sensitif bagi berbagai perubahan fisik maupun biotis. Hal ini dibuktikan bahwa dalam beberapa tahun belakangan ini, sesudah kehadiran berbagai macam industri di sekitar Danau Toba, maka dengan kasat mata kita bisa melihat bahwa berbagai bentuk implikasinya telah terjadi di ekosistem Danau Toba.

Entry Filed under: OBJEK WISATA. Tag: , , , , .

2 Comments Add your own

  • 1. Ari  |  Mei 30, 2008 at 10:24 am

    Ayo dukung Danau Toba, Gunung Krakatau, dan Pulau Komodo sebagai Tujuh Keajaiban Dunia versi New Seven Wonders of Nature. Voting di http://www.new7wonders.com

  • 2. Darojatun  |  September 10, 2008 at 6:12 am

    ya gue dukung deh.

Leave a Comment

hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Tulisan Terakhir

Tulisan Teratas

Arsip

Komentar Terakhir

Blogroll

Blog Stats

Tag

Kalender

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930