MENGGAGAS KEHIDUPAN BERBANGSA DALAM KEBERAGAMAN YANG BERPEDOMAN PADA TATANAN SILIH ASAH, SILIH ASIH, DAN SILIH ASUH

Maret 25, 2008

Oleh: Dian A Yamin

 

Kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini sangat memprihatinkan. Hal ini dapat dilihat dari indikator-indikator sebagai berikut; kelangkaan kebutuhan pokok masyarakat (kelangkaan bahan bakar minyak, mahalnya harga kebutuhan pokok, dan lain-lain), banyaknya bencana alam, maraknya penggunaan Narkoba di kalangan pemuda dan pemudi, konflik horisontal yang terjadi di masyarakat, dan masih banyak lagi permasalahan-permasalahan masyarakat yang pada akhirnya merubah tatanan kehidupan berbangsa. Keragaman budaya, adat istiadat dan potensi yang dimiliki oleh masyarakat saat ini justru bukan menjadi solusi bagi permasalahan di atas, melainkan dijadikan sebagai alasan untuk memecah belah persatuan. Konflik horisontal yang terjadi di masyarakat akibat dari keberagaman dan perbedaan kepentingan sangat kentara sebagai contoh; kerusuhan pasca Pilkada, Penyerangan Jamaah Ahmadiah, Kasus teror di Poso, dan masih banyak lagi konflik yang terjadi dimasayarakat. Rasa saling menghormati, saling menghargai dan toleransi yang kian luntur justru memperparah kondisi yang ada. Hal ini terjadi karena tidak adanya jalinan komunikasi yang baik antar masyarakat itu sendiri.
Akankah hal ini terus terjadi? Sampai kapan ini semua berakhir? apa yang musti dilakukan oleh kita sebagai masyarakat Indonesia yang menjunjung budaya ketimuran? Apakah banyaknya keberagaman di masyarakat mulai dari keberagaman suku, agama, adat istiadat, budaya, dan keyakinan akan selalu menjadi sumber konflik dan terus dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab? Lalu bagaimana kita harus menyikapi keberagaman dan heterogenitas ini?

Melihat kondisi yang demikian, maka dipandang perlu untuk melakukan dialog lintas iman dan keyakinan. Dialog-dialog semacam ini memang bukan yang pertama kali dan bahkan sering dilakukan, tetapi selama ini terkesan hanya sebatas ceremonial dan pembicaraan formal (pengangkatan wacana) yang akhirnya justru menimbulkan rasa saling curiga. Dialog ini diharapkan dapat menghasilkan solusi konkrit berupa suatu formulasi yang tepat dan dapat diaplikasikan di masyarakat sehingga Kehidupan berbangsa dalam keberagaman yang berpedoman pada tatanan silih asah, silih asih, dan silih asuh dapat terwujud.

Entry Filed under: pluralisme. Tag: , , , , , , , , , , , , .

1 Comment Add your own

  • 1. Azam  |  April 17, 2008 at 3:40 pm

    wah mas yamin sebagai penulis kayaknya sudah paham betul dengan filosopi orang sunda. budaya silih asah, silih asih, silih asuh adalah ajaran orang sunda yang tujuan akhirnya adalah silih wangikeun, atau lebih populer dengan siliwangi.
    siliwangi juga merupakan gelar raja di tanah pasundan yaitu kerajaan pajajaran. dan sekarang ini dipakai nama untuk kesatuan TNI di jawa barat, satu pasukan yang sangat terkenal baik secara nasional maupun internasional, yaitu pasukan siliwangi.
    dari tulisan diatas kita bisa lihat bahwa betapa para karuhun kita sudah punya tatanan yang begitu indah, begitu humanis, begitu sosialis dan begitu religius.
    sekarang sudah saatnya kita kembali menyegarkan filosofi-filosofi karuhun kita, sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
    bravo mas yamin!!
    bravo CDS!!

Leave a Comment

hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kategori

Tulisan Terakhir

Tulisan Teratas

Arsip

Komentar Terakhir

Blogroll

Blog Stats

Tag

Kalender

Maret 2008
S S R K J S M
    Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31